Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
rupa-rupa

Ketika Harus Melihat Ke Atas

By on Juli 15, 2017

Kalimat di atas rasanya bisa menjadikan diri kita sebagai pribadi yang positif bisa juga  negatif. Negatif dalam artian membuat kita jadi orang yang tamak dan serakah. Beberapa waktu lalu dapat sedikit cerita dari kalangan Ibu-ibu sekitar rumah, kalau ada tetangga yang gagal menikah karena si perempuan meminta mahar yang terlalu berat buat si lelaki. Kemudian ada juga yang bercerita kalau nikahannya gagal padahal tinggal beberapa hari lagi. Dan lagi-lagi alasannya soal harta, padahal kata Ibu-ibu tadi, dia termasuk orang yang beruntung karena dapat calon suami anak orang kaya.

He… adakah yang pernah mendengar hal seperti ini atau mengalaminya sendiri?  Semakin kita melihat ke atas, kita akan semakin haus dan kurang ya. Bisa jadi hal seperti ini baik untuk kita lakukan, bisa juga tidak. Tergantung niat dan cara kita melakukannya.

Ketika melihat ke atas ini kita terapkan untuk meraih keinginan, impian dan cita-cita tentu hal ini akan berdampak baik, karena memacu diri ini untuk melakukan suatu tindakan untuk mewujudkannya. Kita akan selalu terpacu dan termotivasi. Melihat ke atas ini untuk memicu semangat dan melihat ke bawah untuk lebih bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan. Berbeda halnya ketika kita selalu melihat ke atas dengan apa yang dimiliki atau nikmat yang telah diberikan Allah pada orang lain. Maka yang ada hanyalah rasa iri yang berlebihan yang berujung pada kedengkian.

Di sinilah pentingnya memanajemen hati dan pikiran dengan cara bersyukur dan berhuznudzon pada Allah. Dengan bersyukur insyaallah sekecil apapun nikmat yang Anda terima, maka akan terasa besar. Baru beberapa hari ini saya berbincang dengan suami, soal drama yang ada di tv yang menceritakan bahwa si istri ini tetap sabar, menyenangkan hati suaminya meski si suami perusahaannya bangkrut dan terbakar, anaknya harus dioperasi serta rumahnya disita. Saya terheran saja, rasanya ada yang ganjal tidak seperti ekspresi banyak orang ketika mendengar keadaan ekonomi suaminya, kondisi anaknya pasti ini rada shok, eh malah si istri bilang, “Apapun yang terjadi, yang penting aku tetap bersamamu.”

Meski dalam Islam sendiri memang mengajarkan untuk tetap membuat hati suami senang, tabah, tapi kali ini aktingnya bagi saya agak aneh. Kenapa ga ada rasa cemas-cemasnya sedikitpun layaknya orang yang sedang mendapat musibah. Rasanya enteng sekali menjalani kehidupan ini. Tak seperti di dunia nyata. Dan pikirku namanya juga sinetron. Bisa terlalu dibikin dramatisir bisa juga enggak. Namun jika kita berkaca pada sikap si istri dalam sinetron tadi, jarang lho orang zaman sekarang bersikap demikian kalau sedang tertimpa musibah. Sedikit-sedikitnya pasti ada rasa cemas dan khawatir.

Prakteknya dalam kehidupan sehari-hari entah itu kita lagi tidak punya uang atau kehilangan pekerjaan, pasti ada rasa cemas dan kecewa. Meski rezeki sudah ada yang mengatur namun manusia diwajibkan untuk berusaha. Tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Mensyukuri nikmat ini sendiri dapat dilakukan dengan tiga cara. Hati, perkataan atau ucapan dan anggota badan. Benar adanya kalau kita ini tidak boleh kufur nikmat. Meski kehilangan pekerjaan atau ekonomi lagi sulit, bukankah kita masih punya nikmat lain yang begitu banyak. Nikmat kesehatan dan anggota tubuhlah yang sering dilupakan. Kita masih punya anggota tubuh yang lengkap, baik dan ini bisa gunakan untuk berusaha meraih rezekinya, nikmat kesehatan dan akal pikiran. Gunakan dan syukuri apa yang telah Allah kasih dan bekalkan pada kita untuk berusaha dan urusan rezeki Allahlah yang menentukan. Wilayah manusia itu hanyalah berusaha dan berserah diri sedangkan urusan rezeki adalah wilayah Tuhan YME.

Continue Reading

error: Content is protected !!