Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
Book Review

Teguran Dibalik Si Halo Balita

By on Juli 27, 2017

Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang mengetahui dan kenal dengan sosok si halo balita yang kata sebagian orang itu best seller. Ya, sebuah produk buku yang dirancang khusus untuk sang balita ini digadang-gadang menjadi produk unggulan dari pelangi mizan.

Jujur saya sendiri sangat menyukai buku ini. Meski buku ini untuk konsumsi anak, bukan diri saya. Namun rasa penasaran tak mampu membendung diri untuk tidak membaca buku ini. Mempunyai buku halo balita ini bukanlah hal yang mudah bagi saya, mengingat harga buku yang mencapai angka  jutaan. Tapi inilah yanga namanya sebuah keinginan untuk memiliki sebagai bagian dari sebuah investasi untuk anak. Sudah lama sekali saya mengincar buku ini dan alhamdulillah saya diberi kesempatan dan kemudahan mendapatkannya.

Namun dibalik itu semua ada sebuah peristiwa yang begitu menohok saya, menguras dan memainkan emosi. Perjuangan untuk mendapatkan acc dari suami untuk membeli buku ini dan teguran-teguran selanjutnya. Bagi kami, disaat kondisi keuangan lagi tak menentu mengambil keputusan ini bukanlah hal yang mudah. Di sisi lain pekerjaan yang mengharuskan kami tak bisa jauh dari perangkat digital membuat sang anak juga rawan sekali kecanduan bermain gadget. Sedikit-sedikit minta nonton youtube dan aneka permainan lainnya.

Mengambil keputusan untuk membeli halo balita ini berarti membuat kami harus menahan segala sesuatu keinginan untuk 10 bulan ke depan. Saya teringat akan nasehat dan teguran sang suami bahwa segala bentuk investasi ya harus disesuaikan dengan kemampuan diri. Jika memang kita tak mampu,  bisa memfasilitasi dengan cara yang lain. Entah itu pinjam ke perpustakaan atau melakukan hal lain yang mempunyai tujuan akhir yang sama. Tidak harus memaksa untuk memiliki.

Jleb rasanya mendengar sebuah nasehat sekaligus teguran halus seperti ini. Bukan berarti ini bentuk penyesalan karena telah membeli halo balita, namun sebatas mawas diri saja. Sebenarnya yang ingin disampaikan suami adalah berapa besar dan bagusnya sebuah investasi, tidak akan berguna apa-apa tanpa ada keteladanan orang tua. Kita tidak bisa hanya memberikan buku mahal atau media mahal lainnya begitu saja, kemudian anak bisa sendiri. Tetap anak membutuhkan pendampingan dan keteladanan orang tua yang merupakan bagian dari proses belajarnya.

Jadi kunci keberhasilan di sini terletak pada orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Benar adanya apa yang dikatakan suami. Buku hanya sebagai media yang membantu orang tua dalam menjalankan prosesnya sebagai pendidik anak. Hanya saja ada media yang bagus, bermutu dan berkualitas buat anak. Dan salah satunya buku halo balita ini. Menurut saya buku ini bisa menjadi panduan lengkap bagi orang tua untuk mendidik karakter sejak dini.

Di dalam satu paket buku halo balita yang berisi 26 buah buku, 1 buah buku besar hello kids, 3 buah boneka tangan dan 1 augmented reality ini merupakan paket yang lengkap. Karena sebagian besar bukunya dibagi menjadi 3 tahapan. Ada buku yang mengajarkan pada anak tentang kemandirian, melatih atau mengasah kecerdasan emosi dan spiritual anak. Terdapat juga satu buah buku panduan orang tua bagaimana seharusnya menanamkan pendidikan karakter pada anak sejak dini dengan bantuan media buku halo balita.

Masalahnya, bagaimana dengan investasinya untuk buku sekelas halo balita ini? Banyak orang yang sepakat dan mundur teratur kalau sudah mengetahui investasi untuk buku ini. Ya hanya dengan investasi sebesar 2.300.000 Anda bisa memberikan investasi yang terbaik buat anak. Yes, semuanya sepakat bilang mahal! Dulu saya juga berpikiran seperti itu. Namun berapapun harganya, kualitas tidak akan memungkiri dari sebuah investasi. Investasi sebesar itu sepadan dengan kualitas yang dihadirkan. Bisa saja jika Anda sudah memiliki dan merasakan manfaatnya harga sedemikan pantas untuk produk semacam halo balita ini. Bahkan Anda bisa mengatakan murah.

Wow…murah? iya murah kalau punya uang. Hehehe… iya beneran saya suka memang dengan buku halo balita ini. Selain cocok banget buat anak juga menjaga keamanan buat anak. Buku dibuat dengan kertas tebal, enggak mudah sobek, tahan air, bila dicorat-coret dengan pen bisa dihapus, ujung-ujung bukunya dibuat tumpul enggak runcing, so aman buat anak. Porsi gambarnya juga lebih banyak dari porsi tulisan, perbandingannya 70:30 yang sesuai untuk desain buku anak yang lebih menyukai gambar.

Nah bagi Bunda yang sedang mencari media, buku anak, recommended banget buku ini untuk Anda miliki. So yang ingin tahu lebih banyak, bisa lah komen-komen dibawah. Semoga membantu.

Continue Reading

parenting

Kekuatan Dongeng, Membius Anak Agar Tak Malas Mandi

By on Juli 21, 2017

Yeah, alhamdulillah akhirnya si sulung mau mandi juga. Senangnya kebangetan nih setelah semua bujuk rayu dan gombalan maut tak mampu meruntuhkan pendiriannya untuk malas mandi. Susah-susah gampang memang, ngajakin anak untuk mandi. Kadang mau kadang juga enggak. Banyak enggaknya mungkin. hehehe… namanya juga anak-anak. Selalu saja banyak alasan kalau diminta untuk mandi. Alasan yang terkadang terdengar konyol, hingga yang tadi Bundanya ingin marah jadi ingin tertawa mendengar jawaban sang anak.

Iya si sulung ini selalu ada saja jawabannya kalau diminta mandi. Entah bilang memang mau kemana kok harus mandi. Kalau ditanya sudah mandi apa belum terkadang jawabnya nyeleneh, udah mandi tapi kemarin sore dan lain sebagainya. Ini anaknya yang kebangetan atau Bundanya yang kebangetan tak tahunya. He… tapi itulah si una putri kecilku yang berusia 2,5 tahun. Bunda, pasti pernah mengalami hal yang sama bukan?

Saya rasa anak malas mandi merupakan salah satu fase atau proses kehidupan yang harus dilalui anak sebagai bagian dari tumbuh kembangnya. Tinggal bagaimana orang tua pandai-pandai mencari cara agar tak kalah pintar dengan anaknya atau tidak. Pasalnya anak zaman sekarang pada pintar-pintar ketimbang anak tempo dulu segenerasi simboknya ini.

Sebagaimana yang saya alami, pengalaman mengasuh si kecil una yang agak susah kalau diminta untuk mandi dan gosok gigi. Sekalipun itu dimandiin sama Bunda dan Ayahnya, tetap saja menolak. Terkadang bahkan sampai memberontak. Mengeluh dengan sikap anak yang demikian? Tentu, sedikit banyak sebagai orang tua pasti ada rasa seperti itu. Namun bagi saya itu semua bukanlah sebuah keluhan. Mungkin inilah cara Tuhan mendidik saya agar menjadi orang tua yang baik dan lebih bijak pada anak. Anggap saja Tuhan sedang memberi pahala lebih pada kita. so, Bunda yang merasa susah mendidik anak jangan jadikan hal itu sebagai keluhan ya. Kita sebagai orang tua pun harus belajar juga pada anak.

Melihat dan mengamati sikap dan perilaku anak, membuat saya sebagai orang tuanya tahu betul dengan tingkah polahnya. Dari sinilah saya belajar mencari cara agar anak mau mandi dan tak malas lagi. Mulai dari membawa mainannya untuk diajak mandi, membiarkannya terlebih dahulu bermain air sampai terakhir ini yang bisa membuatnya mau bergegas mandi dan gosok gigi.

Ya saya coba gunakan teknik bercerita atau mendongeng. Kebetulan dulu saya pernah melihat video Sali dan saliha sebagaimana yang ada di buku halo balita. Berkisah tentang mandi sendiri dan sakit gigi.

Mengadobsi dari cerita tersebut ditambah khayalan fantasi-fantasi sedikit, saya ajak ia bicara, ngobrol sana-sini cerita kegiatannya tadi dan main apa. Membawakannya beberapa mainan sambil menggiringnya ke kamar mandi. Sangking asyiknya mendongeng dan bercerita dengan anak dan melibatkannya, tanpa sadar ia pun menuruti apa yang saya katakan.

Semisal saya bercerita tentang saliha yang enggak bisa makan karena sakit gigi. Terus sang Bunda mencoba untuk memeriksanya.

“Coba dek mulutnya dibuka, dilihatin dulu giginya, eh ternyata ada makanan yang menempel. Itu tuh yang bikin giginya jadi sakit karena ada kumannya. Ayo buka mulutnya lagi, giginya digosok Bunda ya pakai sikat gigi.”

Dengan mengajaknya berbicara seperti itu, memberikan dongeng-dongeng nasehat dan melibatkan emosinya membuat anak merasa nyaman serasa memasuki dunianya sendiri. Bunda juga bisa melakukan hal sama. ATM saja…  amati, tiru dan modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak. Tidak ada yang lebih tahu kan Bun, kebiasaan dan tingkah laku anak selain orang tuanya sendiri. Sesuaikan gaya pengajaran dan mendidik Bunda dengan karakter dan gaya belajar mereka. Insyaallah akan menemukan gaya pengajaran dan mendidik anak yang pas, tepat sesuai dengan karakter mereka.

Pola pendidikan anak yang tepat akan mampu mengembangkan potensi anak jauh lebih baik dan terarah. Bunda sebagai madrasah pertama adalah pendidik dan tempat belajar utama bagi anak. So, become the best role model ya Bun.

 

Continue Reading

inspirasi

Sudahkah Pekerjaan Kita Membawa Berkah?

By on Juli 19, 2017

Shock, itulah pertama kali yang saya rasakan ketika mendengar jam ngajar sang suami berkurang drastis. Bagaimana tidak, karena hal ini juga akan berpengaruh pada keadaan finansial keluarga. Langsung bingung, cemas, khawatir semuanya ada menjadi bayang-bayang dalam pikiran. Untunglah perasaan ini tak bertahan lama. Insyaf dan istigfar, segala puji bagi Allah bahwa setiap rezeki makhluk hidup sudah dijamin oleh Nya, tinggal kita sebagai hambanya mampu bersabar, tidak putus asa dan mau berusaha  atau tidak.

Peristiwa atau kejadian seperti ini membuatku teringat akan visi misi awalku kembali. Ya ingin berbisnis dan mendapat pekerjaan yang berkah. Yang mampu mendekatkan diri saya pada sang Pencipta. Masih teringat sekali, doa yang selalu saya panjatkan agar diberi pekerjan dan usaha yang mampu mendekatkan diri ini padaNya. Jauhkanlah jika pekerjaan itu justru membuatku jauh dariMu. Dan alhamdulillah semuanya terjawab. Berbisnis dari rumah dan menulis membuatku semakin dekat dengan Nya. Saya lebih bisa mengatur waktu  baik itu untuk keluarga, bisnis dan untuk beribadah. Hati ini jauh lebih merasa tenang , beda ketika dulu masih ngantor, yang adanya hanyalah segudang deadline hingga lupa akan hubungan vertikal dengan Tuhan YME. Kosong dan hampa, itulah yang ada.

Apapun pekerjaan dan profesi kita pada intinya keberkahanlah yang dicari. Rezeki yang berkah dan halal. Lalu bagaimanakah konsep reze

ki  dalam Islam sendiri? Dijelaskan dalam Alquran bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu. Entah itu berupa pakaian, makanan, anak-laki-laki, anak perempuan, kesehatan, pendengaran, penglihatan sampai punya istri atau suami pun juga termasuk rezeki.

Namun kebanyakan, pandangan orang sekarang ini tentang konsep rezeki sudah banyak yang berubah dan mengalami pergeseran paradigma. Konsep rezeki tidak lagi diartikan sebagaimana di atas, namun hanya sebatas uang dan keuntungan  dari bisnis yang kita jalankan. Teringat akan nasehat paman yang mengajari saya tentang konsep rezeki agar tidak seret. Rezeki itu jangan sampai entuk-entek (bahasa jawa) tapi entek-entuk. Kelihatan sepele tapi dalem banget maknanya.

Konsep entuk-entek ini berbeda dengan entek-entuk. Entuk-entek ini berarti dapat uang langsung habis untuk kebutuhan. Sedangkan entek-entuk, setiap uang kita habis, kita memperoleh rezeki lagi. He… semoga tidak bingung ya sama penjelasannya. Kalau masih bingung bolehlah tanya-tanya. Selain itu agar rezeki kita enggak seret, ada satu hal yang harus kita instrospeksi. Instropeksi terhadap diri sendiri dalam hal ibadah. Sudah oke kah ibadah kita, shalat tepat waktu, sudahkah melakukan ibadah wajib dan atau sunnah, sudah berbaktikah kita pada orang tua, sedekahnya bagaimana dan lain sebagainya. Pada intinya perbaiki ibadah kita juga, jangan hanya memikirkan urusan duniawi semata.

Keseimbangan dalam mencari rezeki dengan cara yang baik “ajmilu fit tholab” akan mendapati kita pada rezeki yang berkah. Bagaimana agar pekerjaan atau  usaha kita membawa berkah? Bisa dilakukan dengan dua cara yaitu rezeki atau nikmat yang kita dapat, dimanfaatkan untuk melakukan ketaatan pada Allah dan memberi manfaat pada kaum muslimin yang lain.

 

Continue Reading

rupa-rupa

Ketika Harus Melihat Ke Atas

By on Juli 15, 2017

Kalimat di atas rasanya bisa menjadikan diri kita sebagai pribadi yang positif bisa juga  negatif. Negatif dalam artian membuat kita jadi orang yang tamak dan serakah. Beberapa waktu lalu dapat sedikit cerita dari kalangan Ibu-ibu sekitar rumah, kalau ada tetangga yang gagal menikah karena si perempuan meminta mahar yang terlalu berat buat si lelaki. Kemudian ada juga yang bercerita kalau nikahannya gagal padahal tinggal beberapa hari lagi. Dan lagi-lagi alasannya soal harta, padahal kata Ibu-ibu tadi, dia termasuk orang yang beruntung karena dapat calon suami anak orang kaya.

He… adakah yang pernah mendengar hal seperti ini atau mengalaminya sendiri?  Semakin kita melihat ke atas, kita akan semakin haus dan kurang ya. Bisa jadi hal seperti ini baik untuk kita lakukan, bisa juga tidak. Tergantung niat dan cara kita melakukannya.

Ketika melihat ke atas ini kita terapkan untuk meraih keinginan, impian dan cita-cita tentu hal ini akan berdampak baik, karena memacu diri ini untuk melakukan suatu tindakan untuk mewujudkannya. Kita akan selalu terpacu dan termotivasi. Melihat ke atas ini untuk memicu semangat dan melihat ke bawah untuk lebih bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan. Berbeda halnya ketika kita selalu melihat ke atas dengan apa yang dimiliki atau nikmat yang telah diberikan Allah pada orang lain. Maka yang ada hanyalah rasa iri yang berlebihan yang berujung pada kedengkian.

Di sinilah pentingnya memanajemen hati dan pikiran dengan cara bersyukur dan berhuznudzon pada Allah. Dengan bersyukur insyaallah sekecil apapun nikmat yang Anda terima, maka akan terasa besar. Baru beberapa hari ini saya berbincang dengan suami, soal drama yang ada di tv yang menceritakan bahwa si istri ini tetap sabar, menyenangkan hati suaminya meski si suami perusahaannya bangkrut dan terbakar, anaknya harus dioperasi serta rumahnya disita. Saya terheran saja, rasanya ada yang ganjal tidak seperti ekspresi banyak orang ketika mendengar keadaan ekonomi suaminya, kondisi anaknya pasti ini rada shok, eh malah si istri bilang, “Apapun yang terjadi, yang penting aku tetap bersamamu.”

Meski dalam Islam sendiri memang mengajarkan untuk tetap membuat hati suami senang, tabah, tapi kali ini aktingnya bagi saya agak aneh. Kenapa ga ada rasa cemas-cemasnya sedikitpun layaknya orang yang sedang mendapat musibah. Rasanya enteng sekali menjalani kehidupan ini. Tak seperti di dunia nyata. Dan pikirku namanya juga sinetron. Bisa terlalu dibikin dramatisir bisa juga enggak. Namun jika kita berkaca pada sikap si istri dalam sinetron tadi, jarang lho orang zaman sekarang bersikap demikian kalau sedang tertimpa musibah. Sedikit-sedikitnya pasti ada rasa cemas dan khawatir.

Prakteknya dalam kehidupan sehari-hari entah itu kita lagi tidak punya uang atau kehilangan pekerjaan, pasti ada rasa cemas dan kecewa. Meski rezeki sudah ada yang mengatur namun manusia diwajibkan untuk berusaha. Tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Mensyukuri nikmat ini sendiri dapat dilakukan dengan tiga cara. Hati, perkataan atau ucapan dan anggota badan. Benar adanya kalau kita ini tidak boleh kufur nikmat. Meski kehilangan pekerjaan atau ekonomi lagi sulit, bukankah kita masih punya nikmat lain yang begitu banyak. Nikmat kesehatan dan anggota tubuhlah yang sering dilupakan. Kita masih punya anggota tubuh yang lengkap, baik dan ini bisa gunakan untuk berusaha meraih rezekinya, nikmat kesehatan dan akal pikiran. Gunakan dan syukuri apa yang telah Allah kasih dan bekalkan pada kita untuk berusaha dan urusan rezeki Allahlah yang menentukan. Wilayah manusia itu hanyalah berusaha dan berserah diri sedangkan urusan rezeki adalah wilayah Tuhan YME.

Continue Reading

error: Content is protected !!