rupa-rupa

Surat Cinta untuk Suami

By on Februari 12, 2018

 

Viral dan ngetrend!!!

Inilah gambaran yang bisa dilukiskan saat ini, di mana kaum muda dimabok asmara akan sosok Dilan dan Milea. Yang tua-an dikit khususnya kaum emak-emak dilanda baper sama sosok bunda Tika dalam “Bunda, Kisah Cinta Dua Kodi” karya Asma Nadia. Di mana kedua film ini sama-sama digandrungi oleh penggemarnya masing-masing dan diputar dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ditambah lagi dalam minggu ini, kalau kita lihat pemberitaan di media hiburan yang sedang gempor dengan adanya kisah pembuktian cinta seorang Viqi Prasetyo kepada angle lelga yang terjun ke laut. Melihat fenomena ini, terkadang membuat kita atau bahkan saya sendiri untuk flashback ke masa lalu. Di mana setiap orang pasti punya cerita cinta dan kisah kasihnya masing-masing.

Sama seperti halnya diri ini yang mempunyai alasan tersendiri untuk mencintai sang suami. Sosoknya yang sederhana, apa adanya, penyabar, dan mampu mengelola emosi dengan baik membuat saya jatuh hati dan memantabkan hati, bahwa beliau mampu menjadi imam yang baik bagi saya dan anak.

Saya memang termasuk pribadi yang susah untuk beromantis, apalagi merayu dengan kata-kata. Yang ada hanyalah to the point mengutarakan isi hati. Tak sama halnya dengan beliau yang selera seninya tinggi, membuat ia mudah sekali untuk merangkai kata-kata indah dan punya sejuta cara untuk menyampaikan maksud hati secara halus. Dari apa yang saya rasakan mungkin tulisan sebagaimana di kertas inilah yang mampu mewakili perasaan dan isi hati.

sumber foto: dok. pribadi

Kami bukanlah pasangan yang sempurna, membawa kelebihan dan kekurangan pada diri masing-masing. Tak ada yang salah dan tak ada yang paling benar, karena sesungguhnya kebenaran hanya milik Allah semata. Berusaha untuk jadi lebih baik, bermanfaat dan memperbaiki kualitas diri dari waktu ke waktu menjadi salah satu visi dan misi keluarga kecil kami. Suami dengan segala potensinya dan begitu juga halnya dengan saya saling mengisi dan melengkapi kekurangan dengan kelebihan yang dimiliki. Setidaknya dengan begini, tak ada kesombongan yang muncul, karena kami saling membutuhkan.

Melangkah bersama dan saling membersamai di saat senang ataupun susah itu merupakan bentuk cinta tersendiri bagi kami. Tak usah muluk-muluk atau yang membuat sensani, tapi sesungguhnya kebersamaan dan  keberadaan dalam setiap aktivitas merupakan bentuk kesetiaan buat saya dan pasangan.

Tak jarang pula, kami sudah bahagia dengan pijatan kecil yang dapat kami rasakan secara bergantian untuk melepas rasa lelah dan pegal dalam tubuh ini. Suatu ketika saya pernah bertanya seacara iseng, “ Apa yang membuatmu bahagia?” dan dipijat setelah pulang bekerja menjadi jawabannya. Makjelb rasanya. Hal yang selama ini sering saya minta padanya namun, saya sendiri jarang melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Memang sedikit pijatan pada tubuh mampu untuk merilekskan diri.

surat cinta dari suami

Lebih dari itu, mengarungi bahtera rumah tangga bukanlah perkara mudah untuk menjaga keutuhan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Menyatukan dua kepala saja sudah susah, apalagi menyatukan dua keluarga dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda. Perlu kelapangan hati dari kedua belah pihak agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Inilah pentingnya mengetahui potensi dan kelemahan diri untuk membentuk keluarga solid. Kemampuan mengelola emosi yang bagus dari suami membuat beliau mampu untuk menarik ulur saya yang ambisius dalam mencapai segala keinginan. Begitu juga dengan halnya dengan saya. Saya yang menyukai target, cepat mengambil tindakan berharap mampu memotivasi suami untuk lebih giat lagi.

Satu hal yang mana saya harus belajar banyak dari sosok beliau adalah tentang penerimaan diri dan keikhlasan hati. Belajar bagaimana suami dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan keluarga saya, tapi tidak dengan saya yang masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan keluarganya. Satu nasihat yang selalu saya ingat, di mana pun kita berada dan selama kita masih hidup pasti akan menemui masalah dan beberapa orang yang tak menyukai diri kita.

 Mencoba mengikhlaskan segala sesuatu yang telah terjadi, mencoba untuk menerima kenyataan akan lebih baik dan harusnya mampu mendorong kita untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Semoga suami bisa menuntun dan menjadi panutan kamin dalam mencapai JannahNya. Aamiin….

Tuhan menciptakan manusia tentu mempunyai tujuan masing-masing. Setiap individu membawa misi khusus atau spesifik dalam kehidupannya. Tugas kita sebagai individu, terutama saya adalah menemukan misi spesifik itu dengan menggali potensi diri, anak, dan lingkungan agar lebih bermanfaat bagi sesama.

Jikalau ditanya apa sih potensi diri ini? Mungkin saya akan gamang menjawabnya. Secara latar belakang pendidikan saya adalah tarbiyah namun, passion saya dibidang bisnis, akuntansi, pendidikan anak, blogging, dan dunia literasi. Tanpa menanggalkan latar belakang pendidikan, saya sangat menyukai semua dunia keenam bidang di atas dan semuanya pernah saya lakukan. Bagi saya keenam bidang di atas saling mendukung dan dapat berjalan beriringan. Berharap dengan menulis, ngeblogging bisa ikut berdakwah mensyiarkan agama dan membaentuk karakter untuk anak hebat sejak dini. Kenapa?

Karena mendidik, terutama akhlak atau karakter bukanlah hal yang mudah, tak semudah membalik telapak tangan. Mengenal potensi anak sangat berpengaruh dalam pola pendidikan untuk anak. Yumna, anak semata wayang saya yang berusia 3 tahun pun tak luput dari perhatian untuk mengenali dan menggali lebih jauh potensi yang ada dalam dirinya. Selama ini anak baru menunjukkan ketertarikan pada dunia menyanyi, sama dengan anak-anak lain pada umumnya. Saya dan suami berusaha untuk menggali lebih potensi anak dengan mengajaknya bermain beraneka ragam permainan. Tak lupa juga menerapkan home education untuk memantau perkembangan anak. Karena sesungguhnya kami lah tempat dan guru pertama dan utama bagi anak. Bukan sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.

So, peran dan potensi lingkungan sekitar rumah juga mendukung keberhasilan suatu proses pendidikan. Melihat potensi lingkungan sekitar terkadang ingin membuat saya belajar banyak tentang pengelolaan sampah, kedisiplinan, kepedulian lingkungan. Contoh kecil saja, karena saya masih tinggal serumah dengan mama, terkadang perbedaan pengasuhan sering terjadi. Mana kala kebiasaan-kebiasaan buruk muncul dan kesalahan pola asuh di masa lalu, membuat saya semakin tertantang untuk memutus lingkaran dan kebiasaan buruk tersebut.

Kelihatannya mungkin hal sepele namun, menanamkan kebiasaan baik, disiplin, tepat waktu, peduli sesama, kemandirian dan peduli lingkungan sejak dini sangat lah penting. Kita tak pernah tahu batas usia sampai kapan. Hanya berharap dengan kemandirian dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, anak tak merasa kesulitan menjalani kehidupan mana kala saya tinggal atau berpulang.

Continue Reading

rupa-rupa

Ambil Jurusan Apa di Universitas Kehidupan, Mak?

By on Januari 27, 2018

 

“Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemualiaan hidup, maka carilah dengan jalan yang mulia”

 

Tarbiyah, itulah jawaban yang langsung terlontar dari mulut saya, ketika membaca judul di atas dengan sekilas. Tersedak, layaknya minum air ketika mendengar “Universitas kehidupan.”

“Apa tadi, universitas kehidupan? Kira’in ambil jurusan waktu kuliah?”

Hampir seperti itulah pikiran saya, saat membaca judul di atas dan berbalik mengulanginya dengan seksama. Iya, benar saja, universitas kehidupan. Bukan universitas tempat saya kuliah dulu.

Ya, kalau ditanya seperti itu, “Ambil jurusan apa di universitas kehidupan?” atau lebih tepatnya ilmu apa yang ingin dipelajari dalam hidup, tentu jawabannya banyak. Ingin belajar ini itu untuk melayakkan diri jauh lebih baik lagi. Namun, untuk tahun ini ilmu yang paling saya butuhkan adalah internet marketing. Kalau di tahun 2017 kemarin, saya lebih fokus untuk belajar nulis, tahun ini resolusinya adalah go online.

Baca juga : resolusi 2018: Make A Time To Make A Solid Family

Kenapa oh kenapa? Hihihihi…

Tentu ada alasan tersendiri yang melatarbelakangi, kenapa saya memilih ilmu satu ini. Selain faktor keluarga, bisnis juga memegang peranan penting. Sebelumnya, flashback terlebih dahulu.

 

Saya mengenal ilmu internet marketing ini sejak lulus SMA dan saat itu pula, langsung jatuh hati dan “srek” banget. Ibarat kata, cinta pada pandangan pertama. Kenapa ya kok bisa gini … mungkin ini ada kaitannya dengan hobi. Saya termasuk orang yang suka dengan ilmu komputer, suka otak-atik, dan waktu sekolah pun nilai yang paling tinggi, ya di bidang ini. Tanya kenapa? Saya juga tidak tahu kenapa. Suka aja, kan kalau cinta enggak pakai syarat. Mencintaimu apa adanya. Cieealaaaah….

Kembali lagi ya, faktor keluarga menjadi alasan utama saya untuk memulai kembali belajar ilmu internet marketing, setelah vakum beberapa tahun ini. Ingin bekerja dari rumah, produktif di rumah, ingin belajar jadi ibu dan istri yang baik, serta ingin menemani anak dalam tumbuh kembangnya. Dengan belajar marketing online, saya bisa melakukan pekerjaan dan bekerja tanpa harus meninggalkan anak dan rumah.

Alasan kedua karena hobi. Internet marketing bagi saya, merupakan satu kesatuan utuh dengan dunia kepenulisan atau literasi. Yang mana sangat mendukung kegiatan saya di event kepenulisan. “Penulis harus bisa berbisnis dan pebisnis pun harus bisa menulis.” Itulah quote yang paling saya suka dan bisa membangkitkan semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang, siap mengosongkan gelas untuk belajar lebih baik lagi.

Alasan ketiga adalah sejak 2 tahun terakhir ini memutuskan untuk berbisnis online. Mau tidak mau ilmu ini penting banget buat saya untuk didalami. Berbisnis online menjadi pilihan terakhir setelah memutuskan resign dari pekerjaan di ranah publik dan benar-benar fokus to be full time mom. Sedangkan menulis, saya jadikan sebagai wadah untuk berkarya dan sarana pengaktualisasikan diri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ber-networking, berkomunitas, mempunyai andil yang sangat besar bagi perkembangan bisnis dan dunia literasi yang saya tekuni. Meski sekarang di rumah, tapi tidak menghalangi saya untuk ber-networking  ria. Kemajuan teknologi memudahkan segala hal tanpa terbatas ruang dan waktu. Tentunya hal ini harus dalam ranah positif.

Dan ini merupakan salah satu cara atau strategi saya untuk menuntut ilmu. Tak jarang pula, di komunitas itu ada sharing-sharing gratis dan terkadang ilmu yang dibagikan itu daging dan renyah banget. Meskipun tak dipungkiri mengikuti kelas satu ke kelas lainnya, juga saya lakukan untuk melayakkan diri.

“Kalau ingin sukses, jangan bermental gratisan.”

Membaca kalimat di atas benar-benar menohok saya dan memang benar adanya. Sebelum menuntut ilmu, kita harus mengetahui adab terlebih dahulu. Etika, tutur kata, dan tingkah laku. Ini semua dilakukan tak lain untuk mendapatkan keberkahan itu sendiri.

Bagi saya mengubah mental dan pola pikir gratisan itu perlu. Sebagaimana kita menghargai seseorang yang berilmu. Kita ganti waktu mereka yang telah bersedia meluangkan waktu dan berbagi ilmu, serta pelajaran berharga yang bisa diambil hikmahnya. Lebih tepatnya saya suka menyebut hal ini sebagai investasi leher ke atas. Yang dimaksud investasi leher ke atas ini bukan kalung, giwang, make up, jilbab, dan lain sebagainya ya bun.

Itulah mengapa bagi saya, kekayaan itu tak sebatas uang, harta atau emas yang kita miliki. Namun, lebih kepada otak kita sebagai sarana untuk berpikir, berkreativitas, dan tak lupa sebagai wujud syukur terhadap Allah Swt yang telah menganugerahi otak yang super canggih. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkannya dengan baik atau tidak. Dengan seperti ini semoga menambah rasa iman dan syukur, serta melapangkan hati yang kita miliki. Aamin….

Catatan:

Tulisan ini diikut sertakan dalam pengerjaan tugas nhw matrikulasi batch 5 SJS “Adab mencari ilmu.”

Continue Reading

rupa-rupa

Belajar dari Sosok Sandy Hadiat: Sang Pengidap Bipolar Disorder

By on Desember 27, 2017

Saya setuju dan sepakat bahwa setiap manusia mempunyai ujian dan tantangan tersendiri dalam hidup sesuai dengan kadar dan kemampuannya masing-masing. Tak lain halnya dengan wanita yang satu ini.

Sandy Winduvitri atau yang lebih dikenal dengan nama Sandy Hadiat ini menyandang penyakit Bipolar Disorder. Sebelumnya juga ada mantan artis cilik yang menyandang penyakit seperti ini juga. Adalah marshanda atau yang lebih akrab di sapa Caca ini. Lalu apa dan bagaimana itu bipolar? Yuk simak ulasannya.

Bipolar Disorder adalah suatu penyakit kejiwaan, di mana sang penderita akan mengalami gangguan perasaan dengan dua kutub yang berbeda. Fase depresi (sangat murung) dan mania (fase sangat bahagia). Kedua fase ini mempunyai ciri khasnya masing-masing yang berlawanan satu sama lain.

Fase depresi biasanya ditandai dengan mood yang selalu menurun sepanjang hari. Tidak hanya itu, berat badan dan nafsu makan pun mengalami penurunan. Gejala lainnya adalah susah tidur, malas bergerak, mudah lelah, lebih sensitif, menurunnya daya konsentrasi, dan menutup diri dari lingkungan. Bahkan di saat kritis, pada fase ini akan muncul keinginan untuk bunuh diri.

Berbeda dengan fase depresi, fase mania adalah kebalikan dari fase depresi ini. Banyak bergerak, mampu tak tidur hingga berhari-hari, merasa dilecehkan dan terhina, serta suka menyakiti diri sendiri merupakan ciri dari fase mania. Penderita juga mengalami susah fokus, mudah beralih kepada hal-hal yang tidak relevan dan tidak penting.

Sandy yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara ini divonis mengidap bipolar disorder sejak 2012. Minimnya pengetahuan tentang penyakit ini membuat kondisi Sandy semakin terpuruk. Ditambah lagi  saat itu semua keluarga besarnya menetap di AS, tak terkecuali ayah dan ibunya. Hingga suatu ketika ia berniat untuk mencari apa dan bagaimana cara mengatasi penyakit ini. Dengan bantuan suaminya, ia mencari tahu ke psikiater tentang penyakit ini. Mulai saat itu Sandy rajin berkonsultasi dengan psikiater yang ada di Yogyakarta. Beruntung sekali, Ia mempunyai sosok suami yang mau menjadi caregiver dan perantara bagi dirinya.

baca juga: ketika harus melihat ke atas

Kondisi perempuan berusia 33 tahun ini semakin membaik dengan dukungan suami dan anak-anaknya. Kisah hidupnya ini ia tuangkan dalam sebuah buku yang berjudul “menemukan-Mu dan menemukan-Nya” yang merupakan hasil private writing choaching bersama indscript creative. Beliau menulis buku setebal 164 halaman ini hanya dalam kurun waktu 2 hari. Kisah hidupnya, perjalanannya menghadapi bipolar, suka dukanya, tantangan dan rintangan, semua ia tuliskan dalam buku ini. Buku yang menurut saya sangat inspiratif. Banyak pelajaran dan hikmah kehidupan yang dapat kita ambil.

Diharapkan dengan adanya buku ini bisa menginspirasi banyak orang untuk mensyukuri setiap detik kehidupan yang diberikan Tuhan. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan bersyukur. Bagi Anda yang ingin tahu lebih tentang buku ini atau Bipolar disorder bisa menghubungi indscript creative untuk mendapatkannya atau bisa juga bergabung dengan facebook grup asuhan mbak Sandy Hadiat ini.

Continue Reading

rupa-rupa

Joeragan Artikel: Jalan Menuju Karir Menulisku

By on November 8, 2017

Menekuni hobi menjadi pilihan saya setelah memutuskan untuk resign dari pekerjaan. Alasannya sederhana ingin membersamai anak dalam tumbuhkembangnya. Memiliki hobi  yang sudah cukup lama tidak ditekuni, membuat saya kesulitan untuk memulainya kembali. Tidak tahu harus mulai dari mana dan berguru sama siapa. Ketika itu yang saya lakukan hanyalah berkunjung ke perpustakaan dan toko buku untuk sekedar membaca atau membeli buku tentang bagaimana menulis dengan baik, bagaimana meniti karir di dunia penulisan. Hingga akhirnya saya bertemu dengan buku karya Indari Mastuti  yang berjudul “ Menulis Itu Gampang”.  Singkat cerita dari buku itulah yang mengantarkan saya pada lingkaran Indscript Training Center dan bertemu dengan Ummi Aleeya selaku pemilik dari Joeragan Artikel, yang menjadi salah satu mitra di Indscript.

Meskipun berada dalam lingkaran indscript dan komunitasnya, tak lantas membuat saya mengenal apa itu joeragan artikel dan siapa itu ummi aleeya. Dan tanpa sengaja,  melihat postingan teman di beranda facebook  bahwa menulis artikel di JA (Joeragan Artikel) itu mengasyikkan karena bisa magang dan dapat fee pula. Hehehe…dasar emak-emak kalau iming-imingnya uang pasti matanya langsung ijo.

Terlepas dari itu semua, ikut bergabung dalam keluarga besar JA menjadi berkah tersendiri dalam karir menulis saya. Bertemu dengan penulis-penulis hebat, bertemu dengan orang-orang  yang kurang lebih mempunyai hobi yang sama, membuat mood dalam menulis selalu terjaga. Dan yang enggak kalah pentingnya adalah bisa upgrade ilmu dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan kita.

Iya, di JA memang menyediakan banyak fasilitas training terkait dengan kepenulisan. Ada training kelas status cantik, menulis artikel jebol media, training editor, copywriting, biografi, press release,  dan lain sebagainya. Sangking banyaknya, saya pun lupa training apa saja yang pernah saya ikuti. Yang masih saya ingat itu ya training status cantik dan kelas editor. Yang lain saya lupa, tapi memang benar adanya bahwa setiap mengikuti training yang ada di JA meninggalkan kesan yang begitu berbeda dan menambah pengalaman di bidang tulis menulis.

Manfaat apa saja sih yang diperoleh dengan bergabung di JA?

Banyak tentunya. Selain nambah ilmu, nambah temen, nambah saudara, dan relasi, juga menambah jam terbang. Kemampuan kita akan semakin terasah dengan banyaknya praktek dan magang. Selain itu kita juga berkesempatan untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari job-job yang ada. Misalnya dari endors, menulis artikel, dan masih banyak lagi. Kita juga bebas loh mencari job secara mandiri.   

Yang paling menarik di JA itu adalah karena kita berangkat dari hobi yang sama, mempunyai ketertarikan yang sama di dunia tulis menulis, so banyak dari anggotanya yang memang benar-benar penulis yang sudah expert dan memiliki jam terbang tinggi. Sehingga mereka pun kerap menjadi mentor bagi temannya sendiri sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

Harapan buat JA untuk ke depannya.

Untuk ke depannya, saya selaku alumni JA berharap yang terbaik, semoga lebih berjaya, menghasilkan training-training yang berkualitas dan tentunya banyak mencetak penulis-penulis baru yang handal.  Membantu menciptakan dan memberi peluang perempuan-perempuan Indonesia untuk lebih produktif, mandiri, dan berkarya meski hanya dari rumah. Semoga dengan informasi ini bisa membantu teman-teman yang membutuhkan. Selamat berjuang dan berkarya.

Continue Reading

rupa-rupa

Berhenti Berkarir Bukan Berarti Berhenti Berkarya

By on November 2, 2017

Kalimat di atas rasanya bisa menjadi mood boster bagi setiap wanita muslimah yang sebelumnya bekerja dan berkarir, namun harus berhenti melakukannya. Entah itu karena faktor keluarga, mau menikah, ingin jadi ibu rumah tangga, tidak dapat ijin suami bekerja, dan masih banyak faktor lainnya.

Bagi wanita yang terbiasa bekerja kantoran, berkarir di luar rumah, dan tiba-tiba harus berhenti bekerja atau berkarir mungkin bisa menjadi beban tersendiri. Dan mana kala beban ini tidak bisa diatur dengan baik, maka penyakit stress lah yang akan datang. So, penting kiranya untuk menempatkan keadaan seperti ini sesuai dengan porsinya.

Kaget dengan keadaan yang baru mungkin akan dirasakan dan memang butuh proses untuk menyesuaikannya. Berhenti berkarir atau bekerja kantoran bukan berarti berakhir. Berhenti berkarir bukan berarti berhenti berkarya. Ada banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan meski hanya dari dalam rumah. Jika Anda ikhlaskan hati, demi keluarga, demi mencari pahala di sisi Allah, maka akan ada banyak hal yang bisa dilakukan.

Hal apa saja sih yang bisa dilakukan? Banyak, dan tentu yang terpenting harus produktif ya. Kalau di rumah tidak melakukan kegiatan apapun ya rasa bosan, malas, dan stres  justru akan menghampiri.  Melakukan kegiatan-kegiatan produktif bisa menjadi solusi yang membahagiakan. Kegiatan apa saja itu, yuk simak ulasannya.

  • Menulis

Menulis bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan dapat digunakan sebagai media menerapi diri. Lumayan kan bisa terhindar dari beban pikiran yang berlebihan. Nah, Anda bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Dalam bentuk diary atau membukukannya menjadi sebuah buku. Bagi Anda yang mempunyai hobi menulis, bisa menjadikan kegiatan ini sebagai usaha sampingan untuk memperoleh income tambahan. Enggak hanya menulis buku saja loh. Ada banyak profesi yang menghasilkan dari kegiatan menulis, seperti ghostwriter, penulis artikel, buzzer di sosial media, dan masih banyak lagi.

  • Ngeblog

Nah, ini juga salah satu kegiatan yang bisa mendatangkan income dari kegiatan menulis. Memang tidak bisa menghasilkan secara langsung, namun sebagai bentuk investasi masa depan. Tujuan utamanya bukan uang semata tapi lebih kepada menghasilkan karya yang  bermanfaat untuk umat. Seiring perjalanan waktu, insyaallah income akan mengikuti apa yang diusahakan.

  • Menekuni hobi

Masih bingung mau melakukan apa? Tekuni hobi saja. Biasanya kalau kita melakukan sebuah kegiatan sesuai passion, sesuai hobi maka tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Karena kita melakukan kegiatan tersebut dengan senang hati dan tanpa ada paksaan. Sehinggan menjalaninya pun fine-fine saja. So, ingat-ingat kembali ya punya hobi apa.

  • Mengasah keterampilan

Kalau Anda merasa enggak punya hobi, bisa kok mengikuti sebuah kursus untuk mengasah keterampilan sebelumnya yang dimiliki, atau menambah keterampilan yang lain. Seperti mengikuti kursus memasak, merias, menjahit, dan lain sebagainya.

  • Mendekor ruangan

Kegiatan mendekor ruangan ini mungkin tidak bisa dilakukan setiap hari. Minimal seminggu sekali. Namun jangan salah atau menganggap remeh dengan kegiatan yang satu ini. Karena efeknya yang sangat luar biasa. Suasana menjadi hangat, tidak monoton, meminimalisir kemarahan dan efek psikologis lainnya. Menjadikan hunian  menjadi surga keluarga Anda.

  • Berwirausaha

Ini merupakan salah satu alternatif jika Anda harus meninggalkan karir sebagai pegawai kantoran. Ya bekerja dari rumah. Membangun usaha dan berbisnis dari rumah. Bagi wanita yang sudah menikah ini bisa jadi pilihan yang asyik untuk tetap bekerja, menambah penghasilan tanpa harus meninggalkan peran utamanya sebagai seorang ibu dan istri.

Nah, itulah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan seorang wanita muslimah meski hanya dari rumah. Di sisi lain tentu masih banyak segudang manfaat lainnya. Baik dari sudut pandang duniawi ataupun ukhrawi. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

#postingantematik

#BloggerMuslimahIndonesia

Continue Reading

rupa-rupa

Bahagia dengan Pernikahan Sebaya

By on Agustus 11, 2017

Pernikahan sebaya atau pernikahan yang terjadi diantara pasangan suami istri yang seumuran, saat ini sudah tidak asing lagi, bahkan banyak yang mengalami. Teman sekolah atau kuliah yang seumuran, sekarang menjadi partner hidup kita. Adakah yang suami atau istrinya merupakan teman sebaya?

Saya sendiri mengalami yang namanya pernikahan sebaya. Sedikit curcol dan berbagi pengalaman saja tentang pernikahan sebaya. Suami  adalah teman sekolah  dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (SMA). Kuliah kita enggak barengan, dia merantau ke daerah seberang  dan saya masih tetap di daerah dengan cita rasa lokal. Sewaktu masih sekolah bareng, kita biasanya saja, just friend, enggak ada perasaan gimana-gimana. Tapi entah kenapa, wallahhua’lam hanya Allah SWT yang Maha tahu, saat enggak barengan lagi justru perasaan itu ada. Mengalir saja, saling membutuhkan satu sama lain. Padahal kami tak ada sangkut-pautnya satu sama lain.

Biasanya kan seseorang punya hubungan karena mereka mempunyai suatu kesamaan yang unik, yang membuat mereka merasa nyaman satu sama lain, sehingga terciptalah suatu hubungan. Nah kalau saya, perasaan tidak begitu. Sampai sudah menikah pun kami punya kebiasaan 1800 yang berbeda. Namun di sinilah letak uniknya dan merasakan sensasi yang berbeda.

Menjalani sebuah ikatan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika pernikahan itu pernikahan sebaya yang kata sebagian orang akan rawan sekali mengalami perpecahan. Semoga tidak ya. Menjalani pernikahan sebaya itu memanglah tidak mudah. Secara kita punya tingkat  emosi dan kedewasaan yang hampir sama. Sehingga jika ada suatu masalah, tingkat pemicu pertengkaran akan jauh lebih tinggi. Saya sendiri tidak memungkiri akan hal ini karena saya pun mengalami. Namun mengenai hal itu, kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Saya dan suami yang mempunyai kebiasaan berbeda, menjalani pernikahan sebaya sejauh ini fine-fine saja, meski tak semudah membalik telapak tangan. Sudah empat tahun usia pernikahan alhamdulillah setiap kali ada masalah kami mampu menyelesaikannya secara baik-baik. Menurut saya pribadi yang mempunyai dua kebiasaan berbeda, menyiasati hal seperti dengan cara menghargai saja satu sama lain. Selain itu kontrol emosi ini yang harus dilatih terus menerus.

Saya pikir there is no one is perfect ya…pasti ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di sini lah yang memerlukan pemahaman lebih, penerimaan terhadap diri kita sendiri dan pasangan. Mencoba mengompromikan dan menyamakan persepsi untuk mencari jalan tengah lah yang biasanya saya lakukan. Mengutarakan apa yang menjadi keinginan saya dan mengomunikasikannya ke suami. Di sini kita bisa saling mengingatkan, menginstrokpeksi diri dan saling memberi masukan. Pada intinya adalah komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.

Memang sih pada prakteknya agak susah, karena ini berkaitan dengan kebiasaan yang tidak bisa dirubah dengan begitu cepat. Butuh proses dan waktu untuk menjalani dan mengubah suatu kebiasaan. Jadi ya jangan capek untuk diingatkan dan mengingatkan. Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan suami ditutupi dengan kelebihan si istri dan begitu juga sebaliknya.

Pada akhirnya saya juga seperti itu. Suami yang karakternya tidak begitu disiplin, amburadul, hehe… tak suka dengan deadline and peraturan yang mengikat berbanding terbalik dengan saya yang suka kejar target dan deadline, disiplin, enggak bisa melihat sesuatu yang kotor, berantakan, semrawut harus berdamai dengan diri sendiri dan menerima kekurangan suami. Sedikit-dikit saya ingatkan. Begitu juga dengan suami yang menganggap saya terlalu perfectionist dan harus menurunkan sedikit standar saya untuk berdamai dengan sesuatu yang semrawut dan berantakan.

Ya sudah kami terima dengan kekurangan  masing-masing dan saling memperbaiki saja. Mungkin seperti inilah kalau punya pasangan sebagai pekerja seni. Saya mencoba lakukan masukkan yang beliau berikan yang menurut saya baik, begitu juga dengan beliau. Memahami karakter pasangan masing-masing itulah yang mungkin dapat saya simpulkan.

Bagi saya tak ada alasan untuk tidak bahagia hanya karena perbedaan. Justru dengan perbedaan kita bisa belajar banyak hal, mengasah emosi, berdamai dengan diri, menerima kelebihan dan kekurangan, melatih empati, simpati dan tentunya masih banyak lagi.

Adakah yang punya pengalaman yang sama atau berbeda tentang pernikahan sebaya? Hayuk share dan curcol dikit…

 

#ODOP11

#BloggerMuslimahIndonesia

 

Continue Reading

rupa-rupa

Melatih Konsistensi dengan ODOP Bersama Blogger Muslimah

By on Agustus 2, 2017

Alhamdulillah meski baru kali ini sempat menulis, namun tidak menyurutkan langkah untuk ikut berpartisipasi dalam one day one post (ODOP) bersama blogger muslimah. Salah satu motivasi mengikuti event ini adalah selain memberikan konten yang berkualitas untuk pembaca, juga sebagai sarana untuk menebar manfaat bagi orang lain melalui tulisan. Dan tujuan yang paling utama adalah melatih konsistensi diri sebagai motivasi tertinggi saya dalam menulis.

Konsistensi sendiri bagi saya ini sulit sekali. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, hanya beberapa jam atau waktu saja bisa konsisten. Butuh proses dan waktu yang berkesinambungan untuk melatih diri agar tetap konsisten. Dalam KBBI sendiri konsisten diartikan tetap, tidak berubah-ubah. Kemampuan mengatur diri inilah yang saya butuhkan agar tetap konsisten dalam menulis dan tentunya menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi pembaca.

Bagi seorang penulis ataupun blogger, tulisan merupakan sebuah investasi yang tak ternilai. Selain itu dengan menulis, dengan menjadi seorang blogger, ataupun penulis akan memperoleh banyak sekali manfaat yang didapat. Bertambahnya teman merupakan salah satu manfaat yang bisa kita dapatkan. Secara tidak langsung kita akan berteman, berkomunitas dengan orang-orang seprofesi, yang mempunyai ketertarikan yang sama dengan minat. kita juga bisa memperoleh banyak teman dari pembaca setia dan tentunya banyak lagi.
Silaturrahim, biasanya seorang blogger akan melakukan yang namanya blogwalking atau kalau untuk pejabat itu istilahnya kunjungan kerja. Hehehe… bahasa sederhananya itu silaturrahim. Bersilaturrahim antar blogger dengan mengunjungi blog masing-masing. Semakin kita sering bersilaturrahim tentunya akan memperluas relasi, teman dan jaringan. Nah kalau sudah begini, bukan hal yang tak mungkin lagi bukan untuk memperluas jalan rezeki. Banyak silaturrahim banyak rezeki.

Membuka wawasan, yang namanya seorang blogger, penulis mau tak mau memang harus banyak membaca. Karena bagi mereka membaca itu merupakan output, sumber ide untuk menghasilkan sebuah tulisan yang berkualitas. Dengan aktivitas seperti ini, membaca dan menulis, seseorang akan terbuka dan bertambah pula wawasannya.

Lantas selanjutnya bagaimana? Agar kegiatan bloging, menulis, menjadi menyenangkan dan memperoleh setidaknya ketiga manfaat di atas? Kembali lagi ini mengenai konsistensi jawabannya. Ya konsisten, ibarat kata tulisan itu sebuah investasi masa depan, di mana kita perlu konsisten untuk menulisnya. Dan untuk konsisten ini perlu cara. Salah satunya dengan menejemen waktu.

Faktor menejemen waktu menurut saya ini penting, karena tidak semua pekerjaan dapat kita selesaikan pada hari dan waktu itu juga secara bersamaan. Perlu dipilah-pilah terlebih dahulu. Dari yang penting mendesak, tidak penting mendesak, penting mendesak, sampai tidak penting tidak mendesak. Buatlah daftar kegiatan yang akan Anda lakukan di hari itu. Urutkan sesuai prioritas, buang kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak. Tentukan juga batasan waktu, seberapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.

Jika Anda sudah membuat daftar kegiatan , setelah itu tinggal action. Lakukan setiap daftar yang telah Anda buat sesuai dengan waktunya. Satu hal yang perlu diketahui bahwa dengan membuat daftar kegiatan seperti ini, mungkin akan terasa kaku dan Anda kelihatan seperti robot. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Daftar kegiatan ini akan memudahkan Anda dalam mengorganisir setiap kegiatan dan meminimalisir waktu yang akan terbuang secara sia-sia. Meskipun setiap kegiatan sudah terjadwal, namun daftar kegiatan ini tetaplah fleksibel sesuai situasi dan kondisi. Karena terkadang terdapat hal-hal yang tak terduga lainnya.

Menjalankan daftar kegiatan untuk mengatur waktu ini pun bisa dibilang susah-susah gampang. Jadi buatlah menejemen waktu yang pas dan sesuai dengan diri Anda. Pasalnya, nanti dalam pelaksanaannya Anda akan menemui banyak sekali hambatan. Kelihatannya sepele, namun teramat sulit untuk dilakukan jika tidak punya keinginan yang kuat.

Jika nanti dalam prakteknya Anda masih keteteran dalam melaksanakan setiap daftar yang dibuat, jangan lantas menyerah begitu saja. Terus lakukan, lakukan dan lakukan. Jangan berhenti, perbaiki setiap kesalahan yang Anda lakukan hari ini, untuk mendapatkan esok yang lebih baik. So, selamat belajar mengatur waktu dan teruslah konsisten. Semoga bermanfaat….

#ODOP1
#BloggerMuslimahIndonesia

Continue Reading

rupa-rupa

Ketika Harus Melihat Ke Atas

By on Juli 15, 2017

Kalimat di atas rasanya bisa menjadikan diri kita sebagai pribadi yang positif bisa juga  negatif. Negatif dalam artian membuat kita jadi orang yang tamak dan serakah. Beberapa waktu lalu dapat sedikit cerita dari kalangan Ibu-ibu sekitar rumah, kalau ada tetangga yang gagal menikah karena si perempuan meminta mahar yang terlalu berat buat si lelaki. Kemudian ada juga yang bercerita kalau nikahannya gagal padahal tinggal beberapa hari lagi. Dan lagi-lagi alasannya soal harta, padahal kata Ibu-ibu tadi, dia termasuk orang yang beruntung karena dapat calon suami anak orang kaya.

He… adakah yang pernah mendengar hal seperti ini atau mengalaminya sendiri?  Semakin kita melihat ke atas, kita akan semakin haus dan kurang ya. Bisa jadi hal seperti ini baik untuk kita lakukan, bisa juga tidak. Tergantung niat dan cara kita melakukannya.

Ketika melihat ke atas ini kita terapkan untuk meraih keinginan, impian dan cita-cita tentu hal ini akan berdampak baik, karena memacu diri ini untuk melakukan suatu tindakan untuk mewujudkannya. Kita akan selalu terpacu dan termotivasi. Melihat ke atas ini untuk memicu semangat dan melihat ke bawah untuk lebih bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan. Berbeda halnya ketika kita selalu melihat ke atas dengan apa yang dimiliki atau nikmat yang telah diberikan Allah pada orang lain. Maka yang ada hanyalah rasa iri yang berlebihan yang berujung pada kedengkian.

Di sinilah pentingnya memanajemen hati dan pikiran dengan cara bersyukur dan berhuznudzon pada Allah. Dengan bersyukur insyaallah sekecil apapun nikmat yang Anda terima, maka akan terasa besar. Baru beberapa hari ini saya berbincang dengan suami, soal drama yang ada di tv yang menceritakan bahwa si istri ini tetap sabar, menyenangkan hati suaminya meski si suami perusahaannya bangkrut dan terbakar, anaknya harus dioperasi serta rumahnya disita. Saya terheran saja, rasanya ada yang ganjal tidak seperti ekspresi banyak orang ketika mendengar keadaan ekonomi suaminya, kondisi anaknya pasti ini rada shok, eh malah si istri bilang, “Apapun yang terjadi, yang penting aku tetap bersamamu.”

Meski dalam Islam sendiri memang mengajarkan untuk tetap membuat hati suami senang, tabah, tapi kali ini aktingnya bagi saya agak aneh. Kenapa ga ada rasa cemas-cemasnya sedikitpun layaknya orang yang sedang mendapat musibah. Rasanya enteng sekali menjalani kehidupan ini. Tak seperti di dunia nyata. Dan pikirku namanya juga sinetron. Bisa terlalu dibikin dramatisir bisa juga enggak. Namun jika kita berkaca pada sikap si istri dalam sinetron tadi, jarang lho orang zaman sekarang bersikap demikian kalau sedang tertimpa musibah. Sedikit-sedikitnya pasti ada rasa cemas dan khawatir.

Prakteknya dalam kehidupan sehari-hari entah itu kita lagi tidak punya uang atau kehilangan pekerjaan, pasti ada rasa cemas dan kecewa. Meski rezeki sudah ada yang mengatur namun manusia diwajibkan untuk berusaha. Tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Mensyukuri nikmat ini sendiri dapat dilakukan dengan tiga cara. Hati, perkataan atau ucapan dan anggota badan. Benar adanya kalau kita ini tidak boleh kufur nikmat. Meski kehilangan pekerjaan atau ekonomi lagi sulit, bukankah kita masih punya nikmat lain yang begitu banyak. Nikmat kesehatan dan anggota tubuhlah yang sering dilupakan. Kita masih punya anggota tubuh yang lengkap, baik dan ini bisa gunakan untuk berusaha meraih rezekinya, nikmat kesehatan dan akal pikiran. Gunakan dan syukuri apa yang telah Allah kasih dan bekalkan pada kita untuk berusaha dan urusan rezeki Allahlah yang menentukan. Wilayah manusia itu hanyalah berusaha dan berserah diri sedangkan urusan rezeki adalah wilayah Tuhan YME.

Continue Reading