parenting | Uncategorized

Disposable Diaper, Baik dan Aman Kah?

By on Januari 12, 2019

Beberapa hari lalu saya dan suami bergotong-royong membersihkan halaman dan selokan rumah. Maklum, musim penghujan rumput-rumput pada seger dan mongkok tumbuhnya. Sampai-sampai selokan rumah saja dipadati olehnya. Belum lagi urusan sampah plastik yang membuat selokan jadi tersumbat.

Entah kenapa, enggak ada angin enggak ada hujan, terlintas dipikiran karena melihat sampah plastik ini banyak banget, teringat sama disposable diapers atau popok sekali pakai. Gimana cara menangani limbahnya. Orang urusan plastik saja masih bikin riweuh ditambah lagi dengan sampah disposable diaper dan turunan sampah plastik lainnya. Banyak kan ya, yang membuang limbah diaper ini sembarangan, terutama di sungai-sungai.

Baik enggak sih, aman enggak sih, manfaat enggak sih menggunakan disposable diaper?

Balik lagi kalau ditanya soal ini, kembali ke pribadinya masing-masing. Akan tetapi pengetahuan akan hal ini juga penting untuk memberikan feedback positif atau setidaknya tindakan  tepat yang akan diambil terkait disposable diaper ini. Semuanya punya plus minus tersendiri sehingga kita harus mampu mengambil tindakan secara tepat untuk mengurangi mudharatnya. Untuk mengetahui seberapa pentingkah penggunaan disposable diaper ini, yuk simak ulasannya!

Kelebihan memakai disposable diaper.

Allah itu menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Tak terkecuali nih, disposable diaper yang ciptaan manusia juga mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Memang saya akui dan pasti semua ibu-ibu yang pernah menggunakan disposable diaper ke anaknya sepakat kalau menggunakan  diaper ini sangat praktis dan sangat membantu mengurangi beban kerja ibu. Apalagi setelah mereka melahirkan.

Enggak riuweh, praktis, enggak harus bolak-balik ganti popok, mengurangi beban tumpukan cucian dan anak enggak terganggu tidurnya karena mengompol. Ibunya pun bisa tertidur pulas. Hehehe…

Akan tetapi, jangan seneng dulu. Ada lho beberapa anak yang sensitif jika dipakaian disposable diaper. Salah satunya terkena ruam popok. Jadi pastikan dulu anak Anda aman dalam pemakaian popok sekali pakai ini. Salah satu caranya, ya dengan uji coba. Jika dipakaikan diaper ada gejala yang ditimbulkan berarti Anda harus menghentikan pemakaian. Namun, jika dirasa dalam pemakaian tidak ada gejala yang mengkhawatirkan berarti kulit anak mampu menyesuaikan. It is okey jika mau dilanjut. Dengan syarat pahami konsekuensi lain yang akan muncul dan usahakan mampu untuk mengatasi limbahnya.

Urusan limbah ini yang biasanya menjadi momok yang cukup mengerikan bagi kebanyakan orang. Bingung sendiri dan akhirnya malah ikut-ikutan cuek. Jadi kita cuma menambah beban limbah dong ya kalau enggak bisa mengolahnya sendiri.

Kelemahan memakai disposable diaper.

Sebagaimana kelebihan yang telah dipaparkan di atas,   memakai disposable diaper juga mempunyai kelemahan atau kekurangan. Berikut adalah beberapa dampak yang ditimbulkan akibat memakai popok sekali pakai ini.

  • Menyebabkan Iritasi

Memakai disposable diaper bisa menyebabkan iritasi kulit pada anak. Bisa  juga menyebabkan ruam popok pada bayi. Memang tidak semua balita yang menggunakan diaper akan mengalami hal yang sama. Ada yang berkulit sensitif ada juga yang tidak. Jadi keputusan mengunakan diaper ini tergantung kepada orang tua dengan berbagai pertimbangan.

  • Menambah Anggaran

Disadari atau tidak, memakai disposable diaper akan menambah beban anggaran keuangan belanja. Entah itu harian ataupun bulanan. Bayangkan saja berapa dana yang akan dikeluarkan untuk membeli popok sekali pakai ini. Jika setidaknya setiap hari anak memakai 2 kali diaper dengan anggaran 5000 per hari, bisa dihitung berapa biaya yang dikeluarkan dalam setahun.

  • Menambah Limbah Rumah Tangga

Dampak lain dari memakai disposable diaper ini adalah limbah yang dihasilkan. Banyak orang tua membuang begitu saja diaper yang sudah tidak digunakan langsung ke sungai atau tempat sampah tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Apalagi di pedesaan banyak yang membuang limbah diaper ini ke kebonan (tanah kosong yang tidak diproduktifkan) atau membakarnya begitu saja.

  • Merusak Lingkungan

Pengolahan limbah apapun yang tidak tepat akan merusak lingkungan. Termasuk limbah popok sekali pakai. Banyak yang dibuang begitu saja tanpa tahu bagaimana mengolahnya. Untuk itulah penting sekiranya para orang tua mengetahui bagaimana cara tepat untuk mengolah limbah diaper ini. Kita yang menggunakan kita juga yang harus bertanggung jawab dengan hasil limbah yang ditimbulkannya.

Tips mengolah limbah disposable diaper agar aman dan tidak merusak lingkungan

Disposable diaper merupakan limbah turunan dari plastik yang mana semua orang tahu bahwa sampah jenis ini belum menemukan solusi tepat guna untuk mengolahnya. Butuh waktu di atas 100 tahun untuk menguraikan sampah disposable diaper ini secara sempurna. Untuk itu dibutuhkan cara yang tepat dan efektif dalam memberdayakan limbah ini. Membakar belum menjadi solusi yang handal untuk menyelesaikan masalah limbah diaper. Berikut ini beberapa cara yang bisa diadopsi atau dicontoh untuk mengolah limbah diaper.

  • Menjadikannya sebagai Media Tanam

Menurut para ahli pertanian, bahan yang ada di dalam diaper sangat bagus digunakan sebagai media tanam karena bisa mengikat air. Salah satu caranya dengan membersihkan kotoran yang ada di dalam diaper terlebih dahulu. Baru kemudian buang kulit luar diaper yang berupa plastik dan ambil bagian dalam yang akan digunakan. Taruh bagian dalam diaper dalam wadah pot atau polibag baru kemudian diberi media tanah di atasnya. Setelah beberapa hari media tanam dari diaper pun sudah dapat digunakan.

 

  • Mengolahnya menjadi Pupuk dan di Daur Ulang

Selain menjadikannya sebagai media tanam, limbah diaper pun dapat diolah menjadi pupuk dan barang bernilai jual tinggi. Sebagaimana di atas, limbah diaper yang sudah bersih dari kotoran di potong-potong kecil kemudian dimasukkan ke dalam wadah untuk dipanaskan. Air yang dihasilkan dari proses tersebut dapat digunakan sebagai pupuk dan limbah bahan diaper dapat digunakan sebagai campuran dalam membuat batu bata sebagai bahan dasar membuat bangunan. Hasilnya pun cukup bagus dan kuat untuk membuat dasar bangunan.

  • Melarutkan dalam Air

Cara ini termasuk yang paling mudah. Namun, menurut saya belum seefektif dengan dua cara di atas. Pasalnya melarutkan limbah diaper dalam air dan memasukkannya ke septitank bukanlah cara yang cukup bagus. Takutnya terjadi penyumbatan dengan sifatnya yang menyerap air.

Selain ketiga hal di atas, kita sebagai perempuan dan ibu juga bisa ikut andil dalam mengurangi penggunaan disposable diaper ini. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan cloth diaper atau popok yang bisa dicuci, tidak sekali pakai. Sekarang ini sudah banyak sekali produsen cloth diaper yang menyedikan popok dengan kualitas baik agar nyaman buat anak dan batita.

Tentunya hal ini diprakarsai oleh adanya penggunaan disposable diaper yang kurang ramah terhadap lingkungan. Mungkin memang tak sepraktis disposable diaper. Namun, menurut saya penggunaan cloth diaper merupakan secercah harapan untuk mengurangi limbah dari popok sekali pakai. Masa’ kita engak mau sih menjaga linkungan kita. Hal terkecil yang bisa kita lakukan sebagai seorang ibu dengan menjaga sebaik-baiknya amanah yang telah disematkan pada diri kita sebagai khalifah di bumi oleh Allah swt.

Continue Reading

parenting

Di Sini Ku Belajar Komunikasi Produktif

By on September 27, 2018

Beberapa hari lalu kami sekeluarga sempat mengikuti wisata edukatif bersama sanggar sains di Kudus. Agendanya adalah melihat-lihat ke peternakan sapi perah sebagai edukasi untuk anak dan membuat terrarium untuk  orang tua yang mendampingi. Sama dengan kegiatan edukasi lainnya,  kami diajak melihat tempat pembuatan biogas yang memanfaatkan kotoran sapi. Selain itu kami juga memberi makan  dan memerah susu sapi secara langsung. Tentunya hal ini tak lepas dari pendampingan.

Ada satu hal yang menarik perhatianku dalam kegiatan ini. Peserta acara wisata edukasi melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus. Sekilas mereka nampak biasa, tapi kebanyakan  adalah anak autis dan keterbelakangan mental. Ada yang jelas terlihat dari fisiknya, ada juga yang tidak. Layaknya anak normal sebagaimana mestinya.

Di sinilah moment yang kurasa tepat untuk menjelaskan dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada pada anak. Mengenalkan sifat simpati, empati, dan syukur pada anak. Bersyukur karena telah diberi fisik yang sempurna sama Allah, dijadikan sosok pribadi yang sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menghargai mereka secara utuh tanpa harus merendahkan diri orang lain.

Di sini pula aku mendapatkan moment yang pas dan alami untuk melakukan tantangan bunsay tentang komunikasi produktif pada anak, khususnya dalam ranah pengendalian emosi. Jangan kira hal ini gampang. Mengajarkan pengelolaan emosi pada anak tak semudah yang dibayangkan. Kita saja yang notabene sudah dewasa dan berstatus orang tua saja masih kesulitan mengelola emosi, apalagi anak-anak.

Kebetulan di tempat pemerahan sapi kemarin, terdapat bazar mainan anak. Sontak saja anakku, Una langsung merengek minta dibelikan mainan. Awalnya satu dua, masih bisa  menahan. Akan tetapi, lama kelamaan rengekan itu semakin keras dan tak mampu lagi ditahan. Menghadapi anak yang merengek sambil menangis dihadapan banyak orang tentu menjadi tantangan tersendiri.

Malu? Iya, karena ini sikap alami yang muncul dan manusiawi. Namun, sebagai Ibu aku hanya ingin berbuat yang terbaik untuknya. Mencoba menenangkan dan mengalihkan perhatiannya pada mainan tersebut. Ku ajak Ia menjauh dari lingkungan dan mengalihkannya untuk memberi makan sapi. Mendengarkan penjelasan dari sang pemandu. Oh gini loh cara memberi sapi makan, cara sapi makan, dan jenis makanan sapi. Saat itu sapi lagi diberi makan kulit jagung mentah.

Memang sih tak lantas membuatnya menangis dan meminta mainan. Tetapi setidaknya bisa mengalihkan perhatiannya dari mainan tersebut. Berkali-kali ku bujuk dan mengajaknya bermain. Menemaniku membuat terrarium, bermain game dengan anak-anak disabilitas, dan minum susu menjadi rongga tersendiri buat dia untuk sedikit melupakan dari meminta mainan.

Akhirnya gimana? Ya tetap saja. Tiap permainan selesai, dia ingat lagi tuh sama keinginannya. Hingga dipenghujung acara, tetap meminta dibelikan mainan. Sebenarnya tak mengapa dia meminta mainan. Namun, kami berusaha untuk menanamkan pada anak kalau ingin membeli barang yang bener-bener tidak urgent, ya harus menabung terlebih dahulu. Semacam ingin membeli mainan.

Akhirnya setelah acara selesai, aku mengajaknya pulang. Meski masih meninggalkan rengekan dan diperjalanan justru semakin keras, hehehe. Kali ini ditambah dengan ngedumel. Tak apalah karena ini bagian dari proses. Aku berusaha menerima kemarahannya, kekecewaannya sambil ku peluk dan mengusap kepalanya. Lama kelamaan ia kelihatan mengantuk dan aku pun terus mengusap kepalanya. Meminta maaf dan berusaha menjelaskan kenapa tidak langsung memberikannya mainan. Dalam kondisi otaknya yang alpha ku selingi dengan nasihat-nasihat dan akhirnya tertidur.

Continue Reading

parenting

Mendidik Sesuai Fitrah: Sudahkah Bunda Lakukan?

By on Mei 10, 2018

 

“Pengetahuan bukan untuk dikuasai, ia ibarat cahaya yang berpendar-pendar dalam ruang yang gelap di mana kita hanya bisa melangkah dalam bayangan pendar-pendar itu menuju kesejatian diri kita. learning is  not for learning, but learning is for being. Pendidikan juga bukan untuk melahirkan human thinking dan human doing, tetapi human being atau manusia seutuhnya (insan kamil), yang semua aspek fitrahnya tumbuh paripurna sehingga menjadi peran-peran peradaban terbaik yang menebar manfaat dan rahmat bagi semesta.”

(Ustadz Harry Santoso)

Setidaknya apa yang disampaikan ustadz Harry Santoso  di atas begitu menohok relung hati saya. Mulai berpikir kembali tentang urusan mendidik anak.  Susah kah mendidik anak? Hmm, tidak juga. lebih tepatnya susah-susah gampang. Seni mendidik anak inilah yang perlu orang tua kuasai. Salah satunya mendidik sesuai fitrah anak.

Mendidik sesuai fitrah itu bagaimana? Pertanyaan itulah yang terbesit dalam pikiran saya kala itu. Fitrah ini merupakan suatu anugerah yang sudah terinstal dalam diri manusia yang diberikan oleh Tuhan bahkan ketika masih berada di dalam kandungan. Sebagai contoh seorang anak yang akan belajar tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan kemudian berlari. Bahkan bayi yang baru terlahir pun langsung dapat menyusu sang ibu tanpa harus diberitahu caranya. Inilah yang disebut fitrah.

Fitrah anak perempuan yang bermain boneka, mengenakan baju wanita, menyukai mainan masak-masakan. Begitu pula halnya dengan anak laki-laki yang hobi beli mainan mobil-mobilan dan sebagaimana mestinya. Kurang lebihnya seperti itulah saya memaknainya.

Sedangkan menurut wikipedia fitrah adalah sesuatu yang netral pada jiwa dan tidak terikat serta terpasung oleh keinginan dan keperluan duniawi dan berlapang dada serta jiwa yang tentram dan tenang. fitrah hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan Penciptanya. Jiwa yang tidak terikat oleh harta benda duniawi dan yang meninggalkan penyakit jiwa (Iri, dengki, kecemburuan sosial, hasut, sombong, ria, dan pelit).

Sejatinya dalam setiap diri anak mempunyai fitrah termasuk fitrah belajar. Namun, terkadang kita lupa dan lalai dalam mendidik sehingga mematikan fitrah belajar anak. Perlu dipahami bahwa ada beberapa kebiasaan di masyarakat kita yang justru mengubur fitrah belajar anak. Padahal sejatinya tidak ada anak yang tak punya fitrah belajar. Semua anak adalah pembelajar yang ulung dan kreatif, limited edition dan mereka mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar.

Hal apa saja yang mengubur gairah dan hasrat belajar anak?

Wuiih…jangan tanya, banyak banget. Salah satunya terlalu protect sama anak. Lah kok bisa? Ya bisa saja. Simak yuk pemaparannya.

  • Terlalu menyetir proses belajar.

Setiap orang tua tentunya menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi buah hati. Namun, terkadang saking menginginkan hal itu orang tua jadi protect dan terlalu menyetir proses belajar anak tanpa mengindahkan keinginannya. Kita sebagai orang tua, harus memahami bahwa anak mempunyai gaya belajar tersendiri, punya minat yang membuatnya berbinar-binar, dan tentunya bakat.

Jadi teringat akan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai zamannya.” Boleh saja kita memiliki raga anak, tapi jiwa anak adalah milik zamannya. Efek dari cara mendidik yang terlalu menyetir ini akan melumpuhkan daya kreatifitas anak.

  • Pendidik terlalu Memanjakan

Fenomena ini sering saya temui, entah pada orang tua, guru, dan tentor belajar. Meski tidak semuanya namun, pendidik yang notabene-nya pendamping belajar beralih fungsi sebagai penjawab soal. Anak sering belajar kelompok bareng atau mengikuti bimbel sekadar untuk mendapat jawaban soal tanpa mau berpikir bagaimana cara mengerjakan soal tersebut.

Ditambah lagi arus budaya yang telah menggiring pendidik pada pola pikir instan. Menyarikan setiap materi yang ada, sehingga kemampuan anak untuk menemukan inti sari atau ide yang terkandung di dalamnya kurang terasah.

  • Buku pelajaran yang bikin gagal fokus

Konsep penyajian buku yang kering, kurang mampu untuk menggugah ide kreatif anak. Sekadar dumbed down atau picisan. Anak pun lebih tertarik membaca buku jenis lain dan malas untuk membaca buku pelajaran (text book).

  • Senjata kompetisi dan rasa takut berlebih

Tak jarang lho, pendidik dan orang tua menggunakan senjata ini. Kompetisi, di satu sisi memang bagus untuk meningkatkan dan memacu anak untuk lebih giat dan berprestasi. Namun, ada kalanya dalam kondisi tertentu anak bisa menjadi tertekan dan takut. Lupa mengerjakan tugas atau tidak mengerjakan tugas, anak langsung heboh, menangis, dan ketakutan sendiri. Ada lho tipikal anak seperti ini.

Metode mendidik sesuai fitrah anak yang patut dicoba.

Kalau kita sudah bisa memahami faktor apa saja yang bisa mengubur fitrah belajar anak, maka cara mendidik atau metode mendidik sesuai fitrah ini pun wajib kita ketahui. Ada beberapa cara yang bisa dicoba, salah satunya:

  1. Memotivasi belajar anak dengan kisah ulama dan ilmuwan

Fitrah belajar, berpikir, dan bernalar sejatinya berkembang pesat ketika anak berusia 7-12 tahun. Masa- masa inilah bagus untuk mengenalkan kisah nabi, ulama ataupun ilmuwan. Bisa mengambil hikmah dari setiap kisah, berpikir mana yang bisa diteladani.  Meningkatkan kemampuan bernalar. Orang tua pun bisa menceritakan perjuangan Imam-Imam besar dalam mencari ilmu. Setidaknya dengan seperti itu anak akan semakin termotivasi untuk belajar tanpa paksaan dan tekanan. Perasaan butuh belajar akan datang dari dirinya sendiri, bukan karena orang lain.

  1. Me time bersama buah hati

Luangkan waktu entah beberapa jam atau menit untuk sekadar menemani dan mendampingi anak. Terutama saat mereka belajar. Orang tua juga bisa membuat learning project bersama anak-anak dan didokumentasikan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai  home education project’s. Jadi terdapat kurikulum keluarga untuk anak bahkan untuk seluruh anggota keluarga.

  1. Menemukan insight learning

Satu lagi yang enggak kalah penting. Menemukan insigh learning atau hikmah pelajaran yang bisa diambil dari setiap apa yang kita pelajari. Orang tua dan anak bisa melakukan tea-time atau meluangkan waktu untuk bincang-bincang tentang insight learning  apa yang didapat.

  1. Sediakan sumber ilmu di rumah.

Penting bagi saya untuk menyediakan dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan sumber belajar yang mudah. Salah satunya buku bacaan di rumah. Membuat perpustakan mini di rumah menjadi salah satu misi utama keluarga. Bacaan yang berkualitas akan membantu diri anak dalam mengembangkan potensinya. Selain itu juga bertujuan untuk menciptakan habit baca di lingkungan keluarga.

Itulah beberapa metode mendidik sesuai fitrah yang bisa Bunda coba. Dengan mendidik anak sesuai fitrah bukan tidak mungkin jika anak jadi lebih mudah untuk diarahkan. Berharap dengan ini semua mampu membentuk generasi cerdas dan unggul dari rumah.

Continue Reading

parenting

Selamatkan Anak dari Bahaya Perilaku Menyimpang, Sejak Dini!

By on Februari 17, 2018

 

Kenali ciri-cirinya!

Pakai tanda seru, karena ini memang penting banget. Banyaknya kasus penyimpangan perilaku saat ini, terutama pada anak-anak menimbulkan kekhawatiran tersendiri dikalangan orang tua. Harus ekstra hati-hati dalam menjaga anak, baik sebagai korban penyimpangan perilaku ataupun sebagai pelaku.

Pada dasarnya banyak sekali jenis perilaku menyimpang. Mulai dari pemakaian obat-obat terlarang atau narkoba, pencurian, pembunuhan, sampai dengan tindak kejahatan seksual. Terlebih masalah penyimpangan seksual, di mana anak sering menjadi incaran. Pedofilia, incest, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) merupakan beberapa contoh perilaku peyimpangan seksual yang perlu di waspadai.

Bahaya selalu mengincar, tidak hanya di tempat yang biasa menjadi sasaran perilaku menyimpang, Masjid yang notabene-nya tempat yang aman, tempat beribadah, pun tak luput dari serangan orang-orang yang berperilaku menyimpang.

Beberapa waktu lalu, ada sebuah kejadian seorang anak kecil yang sedang berjamaah di masjid, sempat menjadi incaran pedofil. Anak ini sudah merasa diintai dan ikuti sejak datang ke masjid, ke tempat wudu, dan terakhir  ketika hendak melaksanakan salat. Dan kejadian pun  ketika hendak melaksanakan salat berjamaah. Bagian tubuhnya yang sensitive ada yang meraba. Sontak saja ketika salat sudah selesai, ia bergegas pulang dan menceritakan hal ini kepada ibu dan tantenya.

Untungya anak ini mau melapor dan bercerita kepada ibunya. Jadi orang tua anak tersebut dapat melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Di sini lah perlunya kita sebagai orang tua untuk mawas diri. Butuh kerjasama semua pihak agar kasus-kasus penyimpangan perilaku seksual ini dapat di atasi.

Flashback sebentar, sebenarnya apa sih fedofilia, incest, LGBT itu? Apa faktor penyebabnya, bagaimana cara pencegahan dan lain sebagainya. Tak ada asap kalau enggak ada api. Sama halnya dengan penyimpangan perilaku seksual ini. Tidak akan terjadi jika tidak ada hal atau faktor yang mendorongnya. Trauma masa kecil, penyakit, korban tindak kejahatan seksual, bisa jadi menjadi faktor kenapa seseorang melakukan incest, pedofilia ataupun LGBT.

Incest itu sendiri hubungan sedarah atau perkawinan sedarah. Perkawinan yang terjadi masih dalam lingkup keluarga, entah itu keluarga inti atau sepersusuan. Semisal hubungan perkawinan terlarang antara ayah dan anak kandung perempuannya, kakak dan adik kandung, ibu dengan anak kandung laki-lakinya, sepupu, keponakan atau saudara sepersusuan. Pada dasarnya yang dilarang untuk dinikahi atau mahram.

Kenapa hal ini bisa terjadi dan kenapa agama mengharamkan perkawinan sedarah?

Tentunya banyak faktor kenapa seseorang memilih untuk incest. Dan kenapa agama melarang, tentu banyak kemudharatan yang akan didapat dibanding kebaikan yang akan diterima. Mendapat bibit keturunan yang unggul disinyalir menjadi penyebab kebanyakan keluarga kerajaan di mesir melakukan hubungan sedarah (incest). Selain itu, laki-laki yang lama ditinggal istrinya, entah merantau atau meninggal dunia dan mendapati anak perempuannya bisa menjadikan seseorang itu melakukan incest. Entah faktor suka sama suka atau pemaksaan alias pemerkosaan. Begitu juga sebaliknya, bisa terjadi dengan ibu dan anak laki-lakinya atau kakak beradik.

Dari segi medis dan sosial pun, incest membawa dampak yang luar biasa bagi para pelaku atau korbannya. Terlebih bagi perempuan. Karena dari sisi medis, seorang wanita yang melakukan incest ataupun menjadi korban akan mengalami keputihan, mengompol, nyeri pada organ vital, pendarahan, konstipasi, dan mengalami disuria kronis (sakit saat buang air kecil).

Dilihat dari segi sosial ataupun psikologi, orang yang melakukan incest akan mengalami gangguan tidur, gangguan makan, mimpi buruk, fobia, kurang konsentrasi, menarik diri dari lingkungan, mengalami perilaku seksual sebelum waktunya, dan bisa juga melakukan bunuh diri.

Sedangkan bahaya incest dari sudut pandang biologis adalah anak yang dilahirkan berisiko tinggi lahir cacat, keterbelakangan mental, mengalami kelainan resesif autosomal, kelainan  fisik bawaan, gangguan intelektual parah, dan kematian dini.

Hampir sama dengan incest, pedofilia juga tak kalah mengerikan dalam membawa dampak buruk bagi anak. Berbeda dengan incest, korban pedofilia kebanyakan adalah anak-anak.   Dilansir dari situs kemdikbud.go.id, seorang pedofil memiliki ciri-ciri introvert. Menutup diri dari lingkungan dan suka menyendiri. Seorang yang introvert belum tentu pedofil, tapi pada umumnya pedofil memiliki sifat introvet. Selain itu ia juga memiliki sifat obsesif yang berlebihan. Tidak akan berhenti mengejar target sasaran sebelum tercapai. Dan ciri-ciri yang perlu diwaspadai adalah mereka lebih mampu berinteraksi dengan anak-anak. Bukan  orang asing lagi, karena mereka mempunyai akses berinteraksi yang intens.

 

baca juga: ambil jurusan apa Mak, di universitas kehidupan?

 

Kemudian menurut hasil penelitian, kebanyakan orang pedofil adalah kidal. Pedofil itu sendiri dikatakan sebagai gangguan mental. Kelainan psikoseksual, di mana orang dewasa atau remaja memiliki preferensi seksual terhadap anank-anak pra remaja. Perilaku pedofil terkait pedofilia ini ada yang melakukan kejahatan, ada juga yang menahan diri untuk tidak melakukannya. Dan “Loly” adalah sebutan bagi mereka yang telah menjadi korban pedofil.

Selain incest, pedofil, ada juga LGBT yang mana kepanjangan dari lesbian, gay, biseksual dan transgender. Lesbian adalah wanita penyuka sesama jenis. Gay  sebutan untuk laki-laki penyuka sesama jenis. Biseksual merupakan gangguan mental yang mana menyukai sesama dan lawan jenis. Sedangkan transgender adalah istilah untuk orang yang berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.

Secara umum, ada beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang tersebut diantaranya, ketidaksempurnaan sosialisasi. Artinya ketika seseorang diajarkan norma, aturan, nilai-nilai sosial, tapi media yang merupakan sarana belajarnya tak sejalan dengan apa yang diajarkan. Sebagai contoh, di rumah ayah mengajarkan untuk tidak merokok. Namun, ditempat lain banyak orang yang merokok.

Faktor selanjutnya adalah menganut suatu kebudayaan menyimpang. Mudahnya mendapat informasi sekarang ini, tidak menutup kemungkinan banyak kebudayaan baru yang masuk. Terlepas kebudayaan itu baik atau tidak. Jika tidak mampu berpikir, membentengi diri, maka seseorang akan mudah terseret dalam arus kebudayaan menyimpang.

Selain itu, kesalahan dalam menerima informasi juga dapat menyebabkan seseorang berperilaku menyimpang. Menelan informasi secara mentah-mentah tanpa menelaahnya terlebih dahulu.

Faktor lain adalah ikatan sosial menyimpang. Adanya juga perilaku menyimpang ini merupakan bawaan atau keturunan sebagaimana LGBT. Orang yang merasa berperilaku menyimpang biasanya akan mencari sebuah kelompok yang semisi, membentuk solidaritas di antara mereka. Sehingga terbentuklah suatu ikatan sosial.

Bagaimana pun juga sebagai orang tua kita tetap harus mencegah diri, anak-anak dan keluarga dari perilaku menyimpang. Hal ini bisa dimulai sejak dini. Tanamkan fitrah keimanan anak sejak ia lahir. Ajari anak untuk berkata tidak jika ada orang yang berusaha menyakiti atau menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Ajari pula mana bagian tubuh yang boleh disentuh orang lain mana yang tidak.

Selain itu membangun bonding antara orang tua dan anak juga sangat perlu. Karena bonding inilah yang akan membuat komunikasi antara anak dan orang tua semakin terbuka. Jangan lupa juga sebagai orang tua kita harus belajar bagaimana sih mendidik anak dengan baik sesuai dengan ajaran agama. Di luar sana banyak sekali ilmu-ilmu parenting dan komunitas parenting yang bisa ikuti.

Tulisan ini diikut sertakan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

#PostinganTematik

#BloggerMuslimahIndonesia

Continue Reading

parenting

Pentingnya Keseimbangan Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak

By on Agustus 10, 2017

Belakangan ini di media sosia maupun televisi sedang marak pemberitaan tentang bunuh diri. Banyak alasan dibalik seseorang melakukan hal itu. Islam sendiri pun melarang bunuh diri apapun alasannya. Banyaknya kasus bunuh diri ini secara tidak langsung menegur kita sebagai orang tua yang merupakan figur utama pendidik di rumah. Bagaimana kita sebagai orang tua mampu memberikan pondasi agama yang kuat dan memberikan pola kemandirian bagi anak.
Ya, setidaknya tugas orang tua itu mendidik anak agar mandiri, siap berpisah dengan orang tua, dan membekalinya dengan pendidikan agama yang kuat. Di sinilah dibutuhkan keseimbangan peran orang tua dalam mendidik anak. Keseimbangan antara kehidupan pribadi atau keluarga dengan pekerjaan. Banyak orang tua terutama Ibu yang lalai dengan pendidikan anak karena urusan pekerjaan. Mereka hanya menyerahkan pendidikan pada sekolah, padahal tanggung jawab utama mendidik anak adalah orang tua.
Ketika sudah menikah, banyak perempuan terutama mereka yang bekerja, dilema antara urusan pekerjaan dan keluarga. Apalagi jika sudah dikaruniai buah hati. Keluarga atau karir? Apapun yang menjadi keputusan Anda, baik memilih menjadi Ibu rumah tangga yang full mengurus keluarga ataupun tetap bekerja adalah keputusan yang sama baiknya. Tidak ada yang salah dan dipersalahkan. Namun di sini dituntut peran orang tua untuk mampu menyeimbangkan antara pekerjaan dengan kehidupan keluarga, yang berpengaruh besar terhadap pola pendidikan anak.
Keputusan untuk menjadi ibu rumah tangga ataupun ibu pekerja adalah hal yang mudah. Yang tersulit adalah keistiqomahan dalam menjalani peran yang sudah dipilihnya. Istiqomah inilah yang sulit. Tentunya di tengah perjalanan tidak akan mulus begitu saja. Banyak hambatan dan godaan-godaan yang akan mempengaruhi kita dalam menjalani keputusan yang telah dipilih.
Jika kita melihat kembali pada ajaran Islam, sebenarnya Islam sendiri mengajari tentang keseimbangan ini. Islam menciptakan laki-laki dan perempuan guna melengkapi satu sama lain. Begitu juga dengan peran yang dimainkannya. Jika dalam Islam mengajarkan kalau sebaik-baiknya perempuan (istri) itu yang tinggal di rumah dan laki-laki itulah yang mencari nafkah, maka inilah bentuk pengajaran dari Allah tentang arti keseimbangan.
Perempuan di rumah dengan perannya sebagai Ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami, mengurus rumah, mendidik anak, menjaga harta suami, dan aneka pernak-pernik rumah tangga lainnya. Sedangkan peran suami adalah mencari nafkah untuk keluarga, memimpin dan membimbing keluarga. Dengan begini keseimbangan dalam keluarga akan tercapai. Tidak akan terbengkalai antara urusan keluarga dan pekerjaan, termasuk dalam urusan mendidik anak.
Lalu bagaimana dengan mereka yang single parent atau harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga? Tidak dipungkiri memang namanya kehidupan pasti ada hal seperti ini. Banyak dari mereka yang harus menyandang status single parent, entah itu karena perceraian atau memang sang suami sudah dipanggil oleh sang pemberi kehidupan terlebih dahulu. Dengan kondisi seperti ini memang seorang istri mau tidak mau harus menjalani dua peran sekaligus. Peran sebagai seorang Ayah yang harus mencari nafkah dan perannya sebagai seorang Ibu.
Bekerja dari rumah bisa menjadi salah satu jalan keluar atas persoalan seperti ini. Kita bisa tetap bekerja mencari nafkah sekaligus mengawasi anak-anak. Mengawasi di sini dalam artian mengotrol, membimbing dan mendidik anak dari rumah tanpa harus meninggalkan mereka begitu saja. Hal yang sama pun bisa diterapkan bagi mereka yang full menyandang status Ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga tetap bisa produktif, mengaktualisasikan diri lewat bekerja di rumah. Jadi mereka bisa mengapresiasikan, menghasilkan, tanpa mengabaikan perannya sebagai pendidik pertama dan utama buat anak. Dengan seperti ini Ibu rumah tangga juga tidak akan kehilangan haknya untuk bersosialisasi, dapat mengembangkan diri, dan juga mampu menghindarkannya dari rasa stress atas kejenuhan terhadap suatu aktivitas.

#ODOP3

#BloggerMuslimahIndonesia

Continue Reading

parenting

Kekuatan Dongeng, Membius Anak Agar Tak Malas Mandi

By on Juli 21, 2017

Yeah, alhamdulillah akhirnya si sulung mau mandi juga. Senangnya kebangetan nih setelah semua bujuk rayu dan gombalan maut tak mampu meruntuhkan pendiriannya untuk malas mandi. Susah-susah gampang memang, ngajakin anak untuk mandi. Kadang mau kadang juga enggak. Banyak enggaknya mungkin. hehehe… namanya juga anak-anak. Selalu saja banyak alasan kalau diminta untuk mandi. Alasan yang terkadang terdengar konyol, hingga yang tadi Bundanya ingin marah jadi ingin tertawa mendengar jawaban sang anak.

Iya si sulung ini selalu ada saja jawabannya kalau diminta mandi. Entah bilang memang mau kemana kok harus mandi. Kalau ditanya sudah mandi apa belum terkadang jawabnya nyeleneh, udah mandi tapi kemarin sore dan lain sebagainya. Ini anaknya yang kebangetan atau Bundanya yang kebangetan tak tahunya. He… tapi itulah si una putri kecilku yang berusia 2,5 tahun. Bunda, pasti pernah mengalami hal yang sama bukan?

Saya rasa anak malas mandi merupakan salah satu fase atau proses kehidupan yang harus dilalui anak sebagai bagian dari tumbuh kembangnya. Tinggal bagaimana orang tua pandai-pandai mencari cara agar tak kalah pintar dengan anaknya atau tidak. Pasalnya anak zaman sekarang pada pintar-pintar ketimbang anak tempo dulu segenerasi simboknya ini.

Sebagaimana yang saya alami, pengalaman mengasuh si kecil una yang agak susah kalau diminta untuk mandi dan gosok gigi. Sekalipun itu dimandiin sama Bunda dan Ayahnya, tetap saja menolak. Terkadang bahkan sampai memberontak. Mengeluh dengan sikap anak yang demikian? Tentu, sedikit banyak sebagai orang tua pasti ada rasa seperti itu. Namun bagi saya itu semua bukanlah sebuah keluhan. Mungkin inilah cara Tuhan mendidik saya agar menjadi orang tua yang baik dan lebih bijak pada anak. Anggap saja Tuhan sedang memberi pahala lebih pada kita. so, Bunda yang merasa susah mendidik anak jangan jadikan hal itu sebagai keluhan ya. Kita sebagai orang tua pun harus belajar juga pada anak.

Melihat dan mengamati sikap dan perilaku anak, membuat saya sebagai orang tuanya tahu betul dengan tingkah polahnya. Dari sinilah saya belajar mencari cara agar anak mau mandi dan tak malas lagi. Mulai dari membawa mainannya untuk diajak mandi, membiarkannya terlebih dahulu bermain air sampai terakhir ini yang bisa membuatnya mau bergegas mandi dan gosok gigi.

Ya saya coba gunakan teknik bercerita atau mendongeng. Kebetulan dulu saya pernah melihat video Sali dan saliha sebagaimana yang ada di buku halo balita. Berkisah tentang mandi sendiri dan sakit gigi.

Mengadobsi dari cerita tersebut ditambah khayalan fantasi-fantasi sedikit, saya ajak ia bicara, ngobrol sana-sini cerita kegiatannya tadi dan main apa. Membawakannya beberapa mainan sambil menggiringnya ke kamar mandi. Sangking asyiknya mendongeng dan bercerita dengan anak dan melibatkannya, tanpa sadar ia pun menuruti apa yang saya katakan.

Semisal saya bercerita tentang saliha yang enggak bisa makan karena sakit gigi. Terus sang Bunda mencoba untuk memeriksanya.

“Coba dek mulutnya dibuka, dilihatin dulu giginya, eh ternyata ada makanan yang menempel. Itu tuh yang bikin giginya jadi sakit karena ada kumannya. Ayo buka mulutnya lagi, giginya digosok Bunda ya pakai sikat gigi.”

Dengan mengajaknya berbicara seperti itu, memberikan dongeng-dongeng nasehat dan melibatkan emosinya membuat anak merasa nyaman serasa memasuki dunianya sendiri. Bunda juga bisa melakukan hal sama. ATM saja…  amati, tiru dan modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak. Tidak ada yang lebih tahu kan Bun, kebiasaan dan tingkah laku anak selain orang tuanya sendiri. Sesuaikan gaya pengajaran dan mendidik Bunda dengan karakter dan gaya belajar mereka. Insyaallah akan menemukan gaya pengajaran dan mendidik anak yang pas, tepat sesuai dengan karakter mereka.

Pola pendidikan anak yang tepat akan mampu mengembangkan potensi anak jauh lebih baik dan terarah. Bunda sebagai madrasah pertama adalah pendidik dan tempat belajar utama bagi anak. So, become the best role model ya Bun.

 

Continue Reading