kesehatan

Waspada Nyeri Sendi Sedini Mungkin! Jangan Salah, Anak-anak Juga Bisa Terkena Lho…

By on Maret 24, 2019

Holla Reader…

Berawal dari sering dicurhatin ibu mertua maupun ibu kandung sendiri yang memang sudah memasuki usia setengah baya tentang keluhan nyeri di kaki, di pinggang, dan di beberapa bagian tubuh lainnya. Jadi terusik juga untuk mencari tahu tentang penyakit ini, yang rata-rata di derita oleh mereka yang sudah memasuki usia lanjut.

Di sini saya bukan ahli karena profesi saya bukan dokter ya. Tapi dari curhatan kedua ibu saya membuat saya mengumpulkan beberapa informasi terkait nyeri sendi ini dan  merangkumnya di sini. Siapa tahu ada yang membutuhkan info terkait hal tersebut, bermanfaat, dan sedikit bisa membantu.

Nyeri sendi pada umumnya yang paling sering dirasakan adalah nyeri sendi pada lutut. Penyakit ini tidak termasuk jenis penyakit yang masuk dalam kondisi darurat. Namun, yang namanya sakit pasti enggak enak di tubuh dan siapa sih yang mau sakit meski itu tergolong ringan. Mending sehat aja ya, kan.

Tapi kalau udah kena nyeri sendi gimana dong ya? Instropeksi diri lah yang jelas. Pola hidup sehat, jaga kesehatan, jaga pola makan. Memang sih dengan bertambahnya usia, tubuh akan rentang terkena penyakit, termasuk nyeri sendi yang sering melanda mereka  berusia lanjut. Tapi jangan salah, anak-anak pun bisa terkena nyeri sendi juga lho.

Sebenarnya apa sih nyeri sendi itu? Dilansir dari aladokter.com, nyeri sendi merupakan rasa sakit yang menyerang bagian tubuh yang mana menghubungkan tulang dengan tulang. Nyeri sendi ini dibagi menjadi 3 tingkatan. Ringan, akut, bahkan kronis. Untuk nyeri sendi ringan masih bisa kok ditangani atau dirawat di rumah. Sedangkan untuk nyeri sendi yang masuk dalam daftar akut dan kronis harus di bawah pemeriksaan dokter atau ke tempat medis untuk mendapatkan penanganan dan perawatan lebih lanjut.

Nah, cucok banget kan sama peribahasa sedia payung sebelum hujan. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Deteksi sedini mungkin dan kenali ciri atau penyebab nyeri sendi. Beda sebab beda pula penanganannya daaaannnn beda pula pencegahannya. Hehehe

Pada umumnya sih penyebab nyeri sendi yang banyak dialami oleh mereka berusia lanjut  adalah ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi sel-sel baru secara cepat atau normal sebagaimana mestinya. Istilahnya lambat dalam memproduksi sel-sel baru. Di mana ini akan mengganggu kinerja tulang itu sendiri.

Selain itu masih banyak lagi penyebab nyeri sendi, diantaranya cedera pada ligamen, tulang rawan, tendon, bursa, dan tulang-tulang disekitar sendi. Lebih spesifik lagi penyebab nyeri sendi yang berada pada satu sendi adalah buruknya osteoarthritis, radang pada selaput sendi, rusaknya tulang rawan di bagian belakang tempurung lutut, terjadinya pendarahan di dalam ruang sendi, serta gout atau pseudogout (encok) .Sedangkan penyebab nyeri sendi yang terdapat pada beberapa sendi antara lain, osteoarthristis,radang Sendi, psoriatic arthritis, infeksi virus, penyakit jaringan ikat, dan kanker.

Gejala ketika terkena nyeri sendi

Meski tergolong ke dalam penyakit yang tidak terlalu darurat, nyeri sendi sebaiknya jangan diabaikan. Mengetahui gejala-gejalanya sejak dini akan sangat penting untuk mendeteksi apakah Anda terkena nyeri sendi atau tidak. Pada umumnya gejala nyeri sendi ini ditandai dengan adanya bengkak dan atau kemerahan di daerah sendi, adanya sensasi atau rasa hangat saat disentuh. Untuk nyeri sendi yang agak lumayan akut bisa menyebabkan demam. Penyebab lainnya adalah bisa karena cedera.

Selain mengalami gejala sebagaimana di atas, biasanya mereka yang mengalami nyeri sendi akan merasakan kaku pada bagian yang sakit, kekuatan sendi menurun yang disebabkan mengecilnya otot, dan sendi pun tak leluasa dalam bergerak.

baca juga: Sehat dan Cegah Panas Dalam dengan Makan Buah

Nah, nyeri sendi ini bisa menyerang siapa saja yang memiliki kebiasaan atau pola hidup tak sehat. Ehm..maksud lebih rawan menyerang mereka yang punya kebiasaan merokok, makan tak sehat, kurang beraktivitas fisik, berat badan berlebih (kaum hawa, terutama ibu-ibu mulai hati-hati nih. Hehehe..), dan juga mereka yang sering bertumpu pada satu sendi. Biasanya para atlet yang lebih berpotensi terkena cedera.

Tindakan apa sih yang perlu dilakukan ketika terkena radang sendi?

Yang paling penting dilakukan menurut saya sih dengan cara mengobati. Akan tetapi, dilansir dari situs www.aladokter.com, penanganan terhadap penderita radang sendi itu berbeda-beda. Tergantung dari seberapa berat radang sendi yang dideritanya. Radang sendi biasa, bisa ditangani di rumah dengan cara mengompres bagian yang sakit atau  bisa juga dikasih obat antiinflamasi nonsteroid layaknya ibu profen untuk mengurangi rasa sakit.

Selain dengan obat-obatan, bisa juga dengan fisioterapi, mengurangi berat badan, dan berolahraga secara teratur. Dan apabila radang sendi yang ddiderita cukup parah, kemungkinan besar dokter bisa melakukan tindakan operasi. Jadi penanganannya tergantung dari seberapa berat radang sendi yang di derita.

Bahkan menurut Dr. Fiocco ada 9 cara alami untuk mengobati radang sendi yang masuk dalam kategori ringan. Diantaranya dengan mengosumsi minyak ikan, dengan terapi akupuntur, kunyit, kulit pohon willow, mengosumsi vitamin D, vitamin A, L-Carnitine, vitamin B12, dan pengobatan alami china.

Jadi lebih baik mencegah bukan, dari pada mengobati. Oh iya, yang perlu diperhatikan juga bahwa perempuan lebih beresiko terkena radang sendi dari pada kaum laki-laki. Demikian pula dengan anak-anak. Radang sendi bisa saja mengintai mereka.

Waspada radang sendi pada anak, kenali gejala dan pengobatannya!

Hati-hati ya bun, ternyata radang sendi bisa menyerang anak-anak. Enggak hanya orang dewasa atau mereka yang telah berusia lanjut. Radang sendi yang menyerang anak dikenal dengan istilah juvenile idiopathic arthritis atau rematik pada anak. Biasa menyerang anak-anak di bawah usia16 tahun. Meski enggak banyak terjadi, ada kemungkinan anak dapat terserang penyakit rematik ini.

Adapun penyebabnya belum dapat diketahui secara tepat. Bisa juga terjadi karena kesalahan sistem imun tubuh. Lapisan sendi yang berfungsi sebagai pelumas mengalami kerusakan akibat peradangan. Anak yang mengalami nyeri sendi biasanya menampakkan gejala seperti sendi kaku di pagi hari, sendi mengalami sakit dan bengkak, kulit memerah, demam yang terus menerus, kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik, sering merasa lelah serta mata memerah atau terasa sakit.

Nah, jadi PR orang tua nih untuk lebih peka dan memperhatikan si kecil ketika mengalami gejala sebagaimana yang disebutkan di atas. Rematik pada anak ini belum ada obatnya secara pasti untuk menyembuhkan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah memberi pengobatan dengan tujuan menghilangkan nyeri, mencegah kerusakan semakin parah, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan kekuatan sendi.

Pengobatan yang bisa dilakukan sama seperti halnya dengan pengobatan radang sendi pada orang dewasa. Bergantung pada seberapa berat nyeri sendi yang di derita. So, lebih berhati-hati, mencegah dengan  pola hidup sehat akan sangat membantu diri kita dan keluarga terhindar dari radang sendi.

Continue Reading

kesehatan

Sehat dan Cegah Panas Dalam dengan Makan Buah

By on September 21, 2017

Sudah tiga hari ini rasanya badan pada linu-linu. Enggak hanya saya, suami sama anak juga ikutan enggak  enak badan. Cirinya juga sama. Sakit tenggorokan, susah untuk menelan makanan, dan sariawan. Kebanyakan orang menyebut penyakit ini sebagai panas dalam. Namun dalam dunia kedokteran istilah panas dalam ini tidak ada atau salah kaprah. Panas dalam ini sebenarnya bukanlah penyakit, tapi gejala yang timbul dari suatu penyakit.

Mengalami panas dalam atau gejala panas dalam memang tidak mengenakkan. Rasanya panas disekitar tenggorokan sampai ke dada. Memang panas dalam erat kaitannya dengan masalah pencernaan. Ada banyak penyebab kenapa seseorang bisa terkena panas dalam. Mulai dari kekurangan vitamin C, dehidrasi, kelelahan dan kurang istirahat sampai dengan pola makan yang kurang sehat.

Nah jika Bunda mengalami hal seperti ini kemungkinan besar bisa terserang panas dalam. Panas dalam bisa  menyerang siapa saja, tak peduli tua ataupun muda. Biasanya panas dalam ditandai dengan sariawan, susah menelan makanan, nyeri ditenggorokan dan masih banyak ciri lainnya.

Hal apa yang perlu dilakukan, jika memang panas dalam telah menyerang? Tentu mengobati jauh lebih penting, namun yang enggak kalah penting juga adalah mencegah panas dalam datang kembali. Bagaimanapun juga mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati bukan?

Benernya ada banyak cara lho Bun untuk mencegah dan mengobati panas dalam. Saya sendiri secara pribadi lebih suka dengan cara yang alami, meski butuh proses yang agak lama untuk bisa enakan alias sembuh. Jarang sekali beli obat kalau benar-benar dirasa belum membutuhkan. Pasalnya pengalaman dulu, pernah terkena panas dalam itu sampai enggak bisa bicara, karena memang urgent belilah saya obat ke apotik. Emang sih…lansung cepet terasa hasilnya. Langsung cepat enakan, tapi baru sekitar 2 hari kumat lagi, buat menelan makanan dan bicara itu sakit sekali.

Mungkin salah saya juga kenapa enggak periksa langsung saja ke dokter. Dari pengalaman yang sering terkena panas dalam, saya sering mengamati dan sedikit demi sedikit mengerti akan polanya. Dan benar saja apa kata buku-buku kesehatan yang saya baca bahwa panas dalam itu bisa dipengaruhi oleh pola makan dan pola hidup yang tak sehat.

Iya pola makan dan hidup sehat ini sangat berpengaruh sekali. Mengonsumsi makanan pedas, makanan yang terlalu panas dan atau dingin, gorengan secara berlebihan bisa menyebabkan panas dalam. Apalagi jika memang sudah terkena, maka menghindari makanan pedas, terlalu panas atau dingin, dan gorengan wajib dilakukan. Pasalnya kalau tidak, hal ini justru akan memperparah panas dalam yang terjadi. Ujung-ujungnya bisa terkena radang tenggorokan.

Biasanya saya kalau sudah terkena radang ini justru makin susah mengobatinya. Pasalnya setiap kita bicara keras sedikit atau terlalu lama berbicara, maka tenggorokan akan terasa sakit sekali meski sebelumnya sudah agak enakan. Semisal kalau harus mengajar. Haduh…untuk bersuara rasanya susah sekali. Hehehe…

Sekedar berbagi pengalaman saja, biasanya kalau sudah begini saya suka genjot dengan memakan buah-buahan dan sayuran. Tentunya buah yang banyak mengandung vitamin C. Seperti layaknya jeruk, jambu biji, tomat, pisang dan banyak ya macam lainnya. Kalau saya paling suka makan pisang dan jambu bijinya. Selain itu saya imbangi juga dengan mengonsumsi air kelapa muda. Ini bagus sekali untuk memulihkan kondisi tubuh, mengganti ion dan mencegah dehidrasi. Ingatkan salah satu penyebab panas dalam itu bisa kekurangan vitamin C, dehidrasi dan kelelahan. Maka dari itu solusinya bisa dengan memakan buah dan sayur yang banyak mengandung vitamin C, mengonsumsi air kelapa muda sebagai pengganti ion tubuh yang hilang dan tentunya jangan lupa untuk istirahat dengan cukup. Jangan banyak bergadang ya Bun…

Continue Reading