inspirasi

Dijamin! 5 Cara Ini Bakal Bikin Quality Time Bersama Keluarga Makin Berkualitas

By on April 11, 2019

Hih… paling gemes nih kalau pas weekend atau hari libur kerja, suami masih saja masuk kerja. Eh, bukannya malah ber-uang ya. Hihihi…. Enggak lah ya bu ibu. Namanya juga manusia butuh istirahat juga, butuh me time juga. Enggak hanya soal uang melulu..

Kadang memang kenyataan tak sesuai harapan dan enggak bisa dihindari juga ketika ingin punya quality time bersama keluarga harus berbenturan dengan pekerjaan. So, bagi saya yang notabene-nya ibu rumah tangga bisa berkumpul bersama suami dan anak di akhir pekan atau ketika hari libur itu jadi sesuatu bangeeeet…sesuatu yang spesial gitu lah.

Enggak meski pergi liburan, bisa berkumpul saja udah seneng banget. Bisa cerita ini itu secara lansung tanpa alat perantara. Jadi lebih berasa saja kebersamaannya dan makin berkualitas. Intinya enggak harus lama-lama. Melakukan hal-hal kecil bersama keluarga pun menjadi moment tersendiri untuk meningkatkan quality time bersama keluarga.

Bagi bu ibu yang masih bingung mau ngapain aja biar quality time bersama keluarga makin berkualitas, 5 cara ini bisa dijadikan ide atau referensi. Tidak harus mahal, enggak harus ngeluarin banyak ongkos dan yang terpenting ramah dikantong.

  1. Baca buku bareng

“Ya, kok baca buku sih. Kan aye enggak suka baca buku.”  Eh, tunggu dulu…jangan dimakan  mentah-mentah gitu dong. Kalau emang enggak suka baca buku, cobalah belajar untuk suka. Kan awiting tresno jalaran songko kulino (Bahasa Jawa), senang berawal dari kebiasaan. Bisa dimulai dengan hal-hal kecil, semisal baca buku cerita ketika hendak tidur, bercerita bareng, atau bisa juga mengajak anak pergi ke perpusda untuk berkenalan dengan buku dan membacanya. Lebih bermanfaat seperti ini bukan, dari hanya sekadar main game.

  1. Project keluarga

Kegiatan selanjutnya yang bisa dilakukan adalah dengan membuat atau merencanakan project keluarga. Project keluarga ini semisal dengan memasak bareng dengan membuat menu-menu yang bisa direquest, kemudian bisa juga dengan kegiatan beberes dan bersih-bersih bersama di rumah. Tuh kan jadi asyik…beberapa pekerjaan ibu jadi terselesaikan. Bertanam pun bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Project ini bisa Bu IBu  diskusikan terlebih dahulu bersama keluarga untuk menentukan kegiatan apa yang akan diambil.

  1. Lakukan apa yang disuka

Nah, selain project keluarga melakukan apa yang disuka atau menekuni hobi pun dapat dijadikan suatu pilihan. Ajak anak-anak untuk mengenalkan hobi dan menanyakan apa hobi mereka. Pada dasarnya libatkan anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk menggali, mengenal hobi, dan membangun komunikasi.

  1. Liburan tipis-tipis

Wuih…ini nih yang paling saya suka. Liburan!!! Meski hanya tipis-tipis atau semi liburan. Kalau saya paling seneng ngajak anak dan ayahnya pergi ke perpustakaan atau kalau enggak ya main ke wahana bermain dekat rumah. Sering juga hanya pergi makan keluar atau kalau enggak silaturrahim ke rumah temen. Sambil cerita ini itu. Hehehe bukan ngegosip ya. Meski terlihat sederhana tapi yakinlah ini akan bermanfaat sekali buat keharmonisan keluarga. Kalau liburan tipis-tipis saja udah oke, apalagi liburan beneran. Wuuiish tambah mantul. Lebih keren lagi kalau Bu Ibu persiapkan segala sesuatunya secara matang. Termasuk urusan menghandle anak. Soalnya namanya anak-anak suka bikin sesuatu tak terduga kalau diajak liburan. Salah satunya tuh ini yang wajib Ibu baca, “ Tips agar anak tak cranky saat liburan.”

  1. Jalan-jalan

Nah kalau yang ini lebih sederhana lagi. Jalan-jalan di sore hari sambil nyari cemilan sana sini. Jujur, saya ini sering melakukan hal ini. Sore-sore keliling desa naik motor sama anak dan suami. Sambil mendiskusikan segala sesuatu yang memang perlu didiskusikan.

Itulah beberapa cara sederhana yang bisa Bu Ibu coba agar quality time bersama keluarga makin berkualitas. Tak perlu banyak biaya dan yang jelas ramah dikantong. Bagaimana, tertarik untuk mencoba atau punya pengalaman lain? Kuy ah, di share…

 

Continue Reading

inspirasi

Pesantren Almawaddah: Konsep Pesantren Berbasis Kewirausahaan

By on Oktober 5, 2018

Holla readers, lama nih udah enggak bersua di blog. Doakan semoga makin istiqomah dan konsisten ya untuk berbagi di sini. Meski tak seberapa, semoga bermanfaat sebagai mana motto hidup saya “menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama walaupun cuma satu orang.

Sedikit cerita, oleh-oleh dari kegiatan outbond anak  beberapa waktu lalu di pesantren Almawadah. Ini merupakan kegiatan outbound anak saya di paud. Ih, apa menariknya kegiatan anak paud. Paling ya cuma main-main gitu. Iya, betul kegiatannya memang sederhana, layaknya kegiatan outbond untuk anak paud lainnya. Tapi jangan salah, ada satu konsep  menarik yang dibangun sang pemilik di area outbond mereka. Saya lebih suka menyebut tempat ini dengan sebutan pesantren Almawaddah karena area outbond ini memang terletak di sana.

Pertama kali memasuki pesantren ini, saya langsung berpikir, “Ah, besuk Una (anak saya) mau saya pondokin di sini.” enggak tahu kenapa tiba-tiba saya merasa cocok banget dengan pesantren ini. Nah, untuk melampiaskan keingintahuan dan kekepoan, saya bertanya pada salah satu santri. “Mbak, yang mondok atau nyantri di sini mulai usia berapa?”

“Usia anak kuliahan, Bu.” Jawabnya singkat. Saya agak terkejut dengan jawaban si Mbak.

“Loh, kenapa? Emang enggak ada untuk anak kecil usia setelah lulus SD ya, Mbak?” Tanyaku balik.

“Enggak bu. Di pesantren ini dikhususkan untuk mereka yang usia kuliahan. Diharapkan dengan rentang usia itu, anak akan dibimbing untuk belajar mandiri dan mampu menghidupi diri mereka sendiri.” Jelas salah satu mbak santri.

“Bagus!” Pikirku dalam hati. Tapi sayang una belum bisa ikutan dan bergabung dengan santri ponpes ini. Ya iya lah ya, orang anakku masih paud. Hehehe.. tapi setidaknya bisa jadi sumber referensi lah untuk sarana pendidikan anak.

konsep outbound anak

Menurut saya pribadi konsep yang diusung pesantren ini cukup unik dan berbeda dengan pesantren-pesantren lainnya. Kalau kebanyakan pesantren dan sekolah swasta di desa masih mengandalkan biaya dari wali murid atau wali santri, lain halnya dengan pesantren yang satu ini.

Pesantren Al-Mawaddah yang terletak di desa Honggosoco, Jekula kabupaten kudus ini merupakan pesantren mandiri yang berbasis kewirausahaan. Pendirinya sendiri, bapak KH. Sofiyan Hadi, Lc. MA dan ibu Hj. Khadijah telah berhasil mengembangkan tiga aspek penting yaitu intelektual spiritualitas, enterpreneur, dan leadership di dalam pesantrennya.  Jadi para santri  tak hanya dididik dalam rangka intelektual spriritualitasnya saja akan tetapi juga dilatih dalam hal kepemimpinan dan kewirausahaan. Sehingga mereka mandiri dalam mengurus kebutuhan diri dan memenuhi biaya hidup mereka sendiri.

foto bareng ibu Hj. Khadijah

Konsep yang diusung pesantren yang satu ini adalah argo dan eduwisata untuk mengembangkan potensi daerah dan masyarakat sekitar, serta para santri pada khususnya. Mereka membudidayakan lele, padi, pohon ketela, kebun buah naga, dan kebun sayur hidroponik. Sedangkan untuk eduwisata, mereka menyediakan fasilitas outbound. Ada flying fox khusus anak, area pra karya, area taman, dan ada juga area fish spa. Cocok untuk orang tua sambil menunggu anak bermain di area outbound bersama kakak-kakak pendamping.

bermain tangkap ikan

Untuk hasil pertanian seperti ketela pohon akan diolah menjadi tepung mocaf atau keripik telo yang dipasarkan di daerah sekitar kudus. Buah naga diolah menjadi sirup dan keripik. Selain itu saya juga melihat ada beberapa mainan tradisional yang dijajankan di sana. Kemungkinan besar adalah hasil karya para santri setempat.

Ada satu yang menarik perhatian saya. Ketika anak-anak digiring untuk mengikuti kegiatan outbound, kami  para orang tua diminta untuk meninggalkan sang anak dan berkumpul di aula pesantren. Oh, ternyata tak hanya anak yang diajak bermain sambil belajar. Kami, orang tua pun demikian adanya. Kami diajak untuk mengikuti kelas parenting. Ide bagus dan kegiatannya oke. Enggak hanya anak saja yang dapat ilmu, orang tua pun mendapatkannya juga.

melukis celengan

Selain kegiatan edukatifnya kala itu adalah anak diminta untuk melukis celengan yang terbuat dari tanah. Dengan kreasi mereka sendiri dan setelah jadi boleh dibawa pulang. Alhamdulillah, anak diajari menabung dan mengelola keuangannya sendiri dengan konsep yang sederhana.

Hmmm, saya jadi iri. Semoga kelak saya punya sanggar belajar yang punya konsep demikian adanya. Aamiin…

Continue Reading

inspirasi

The Ramadhan Project untuk Ramadhan Terakhirku

By on Mei 17, 2018

“Marhaban ya ramadhan, marhaban ya ramadhan. Setiap ramadhan yang datang padaku adalah ramadhan terakhir.”

(Roikhatuz Zahro)

Pelecut diri! Kalimat itu selalu tertanam dibenakku dan menjadi mood booster ketika ramadhan datang. Bagiku setiap ramadhan adalah ramadhan terakhir. Karena aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa menginjakkan kaki di dunia ini. Setidaknya “Ning dunyo mung mampir sedelok” menjadi  wejangan yang paling kuingat baik suka maupun duka ketika melanda. Sebagai “Tombo ati” untuk selalu bersyukur atas nikmatnya.

Ramadhan kali ini agaknya sedikit berbeda karena disambut dengan berbagai kerusuhan yang melanda negeri. Turut berduka atas tragedi bom yang menimpa saudara di surabaya dan sidoarjo. semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Terlepas dari segala asumsi tentang Islam, bagiku menjadi muslimah adalah anugerah dan nikmat tersendiri. Beriman dan menjalani rukun Islam berpuasa di bulan ramadhan yang penuh rahmat.

Berbagi, berserah, dan meningkatkan kapasitas diri merupakan arti ramadhan kali ini. Menjadi tujuan dan goal setting dalam ramadhan project yang telah aku susun. Setidaknya dengan membuat ramadhan project, dalam menjalani ibadah puasa akan lebih terarah dan mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai. Hal seperti inilah yang juga aku lakukan di tahun-tahun sebelumnya.

 

Jika dulu hanya mentarget khatam 30 juzz dalam satu bulan, maka ramadhan project kali ini berbeda. Tentu ada banyak hal yang ingin dicapai demi meningkatkan kapasitas diri. Salah satunya punya target khatam 30 juzz dalam 15 hari, membiasakan tahajud penuh selama ramadhan, odop, dan minum air putih minimal 2 liter sehari, heheheh…mungkin kedengarannya gimana gitu ya. tapi itulah ramadhan project-ku yang gue banget.

Nah, kamu pun bisa mencobanya dengan versimu sendiri sesuai dengan kepentingan. Jadi kalau ditanya misal neh, jika ramadhan ini ramadhan terakhir, apa yang akan kamu lakukan? Ya, biasa saja. Karena setiap ramadhan yang datang ya ramadhan terakhir. Yang jelas bagaimana kita mampu memanfaatkan ramadhan yang datang dengan sebaik-baiknya. Istilah kerennya berlomba-lomba dalam mencari kebaikan. Kalau bisa sih enggak hanya di bulan ramadhan saja. Hanya saja kapasitasnya ditambah di bulan yang penuh berkah ini.

So, buatlah ramadhan project yang loe banget dan gue banget. Ini juga bisa diterapkan untuk anak-anak dalam berlatih berpuasa. Pada intinya ramadhan project dibuat untuk mengubah diri kita ke arah yang lebih baik. Semisal neh aku memasukkan pembiasaan tahajud, one day one post, dan minum air putih minimal 2 liter, tak lain karena ada tujuan dibalik itu semua yang ingin kucapai.

Pertama, one day one post, bertujuan untuk melatih konsistensi dalam menulis dan goal jangka panjangnya adalah memperoleh kebiasaan menulis tanpa beban. Banyak komunitas yang menyelenggarakan odop ini. Bergabung dengan komunitas seperti ini akan menjaga semangat kita untuk mendapatkan dan mencapai kebiasaan baru itu. Syukur-syukur bisa mempertahankannya ya, sebab meraih itu lebih mudah daripada mempertahankan. Hehehe

Kedua, minum air putih sebanyak 2 liter sehari. Kelihatan sepele dan gampang ya, wong tiap hari juga kita minum air putih. Iya, gampang itu buat kamu dan susah buat aku yang sering lupa untuk minum. Sebenarnya membiasakan minum air putih bertujuan untuk menjaga kesehatan. Karena kata bang Ippo Santoso dalam bukunya “Percepatan rezeki” air ini merupakan rahasia terbesar dalam menjaga kesehatan. Kenapa oh kenapa?

Karena pada dasarnya tubuh manusia itu terdiri dari komposisi air yang jauh lebih besar. Dan partikel air mampu membentuk kristal yang begitu indah tatkala ditaburi dengan syukur dan cinta. Dan jika kamu ingin sehat, cepat sembuh maka perbanyaklah bersyukur. Bersyukur atas kesehatan yang telah diberi dan jangan lupa tetap berdoa meminta kesembuhan.

Ingatkan sabda Nabi Muhammad Saw bahwa sebaik-baiknya air adalah air zam-zam. Di dalamnya terdapat obat bagi yang sakit dan makanan bagi yang lapar. Kalau tak punya air zam-zam bisa menggunakan air putih biasa dengan dibacakan basmallah dan alfatihah.

Ketiga, membiasakan tahajud. Ini merupakan rahasia besar pertama untuk sehat. Ingin sehat? Rutinkan tahajud. Bagaimana cara kerja salat tahajud kok bisa menyehatkan? Hmmm…masih bersumber dalam bukunya Ippo Santoso “Percepatan Rezeki” dikatakan bahwa salat tahajud dapat menstabilkan hormon melatonin. Saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan menghasilkan hormon melatonin dalam jumlah besar. Puncaknya pada pukul 02.00-03.00 dini hari. That’s tahajud time!

 Nah, salat tahajud dapat menstabilkan hormon melatonin sehingga membantu terbentuknya sisem kekebalan tubuh, membatasi pemicu-pemicu tumor seperti esterogen, dan menghasilkan turunan asam amino trytophan, salah satu penyusun protein.

baca juga: sudahkah pekerjaan Anda membawa berkah

Selain itu salat tahajud juga membantu ketahanan tubuh, mengurangi nyeri pada pasien pengidap kanker, dan mengendalikan hormon kortisol sehingga mengurangi stress. Banyak kan manfaat salat tahajud. Itulah alasan aku mengapa shalat tahajud menjadi salah satu my ramadhan project.

Terus bagaimana dengan ramadhan project versimu? Dah buat belum? Hmm…kalau masih bingung menentukan ramadhan project, di luar sana banyak kok yang mengadakan. Kamu bisa ikutan ramadhan project yang mereka buat dan memodifikasinya dalam versimu. Sekian semoga bermanfaat.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam postingan tematik blogger muslimah indonesia

#PostinganTematik #PosTemSpesialRamadan #bloggermuslimahindonesia

 

Continue Reading

inspirasi

Resolusi 2018: Make a Team to Make a Solid Family

By on Januari 16, 2018

 

Baru saja kita menyaksikan akhir tahun 2017 dan menyambut awal 2018. Tentu banyak cerita, pengalaman, dan kejadian yang bermakna yang dapat kita ambil hikmah dan pelajaran di dalamnya.

Awal tahun 2018 merupakan kesempatan bagi kita untuk membuat dan menyusun kembali, resolusi untuk satu tahun ke depan. Hal ini berfungsi sebagai bahan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan di tahun sebelumnya.

Sudahkah Anda membuat resolusi 2018? Jika belum, mumpung masih awal tahun yuk, kita buat agar hidup lebih terarah dan dapat mencapai target. Berharap dengan tulisan ini, bisa mendokumentasikan resolusi saya, agar lebih mudah diingat dan tidak melupakannya begitu saja.

Ada banyak hal yang ingin dicapai dan diperbaiki di tahun 2018. Pada intinya, ini semua saya lakukan untuk mencapai tujuan utama di tahun 2018, yaitu make a team to make a solid family.

Untuk mencapai tujuan di atas, tentu harus dibagi ke dalam goal-goal kecil. Tak lupa juga untuk menyelaraskan goal, visi, dan misi saya terhadap goal, visi, dan misi keluarga. Saya dan pasangan memang memiliki goal-goal kecil tersendiri dan menyatukannya menjadi goal keluarga. Dengan seperti ini, kita bisa mengetahui keinginan pasangan dan mendukung satu sama lain. Jika ada yang tak sejalan, kami pun mengomunikasikannya.

Resolusi 2018 ini ada beberapa hal yang ingin saya perbaiki. Terutama dalam bisnis, nulis, keuangan, mendidik anak, dan managemen rumah tangga. Ini sih semuanya, bukan beberapa lagi, hehehe…

Mulai dari bisnis, dua tahun ke belakang adalah masa-masa saya mengenal bisnis online. Padahal, sebelumnya sudah mengenal bisnis ini sejak 2007 silam, ketika masih sekolah menengah atas. Namun, teknologi belum seperti sekarang ini dan saya lebih menyukai melakukan hobi menulis.

Masa 2 tahun seperti masa buih dalam ombak. Banyaknya informasi menjadikan saya susah untuk fokus. Namun, setidaknya di tahun ini sudah mulai terarah dan mengenal pola. Menyusun strategi dan tak asal action adalah resolusi saya dibidang bisnis online.

Tidak jauh berbeda dengan bisnis, kegiatan menulis dan blogging yang selama ini menjadi hobi saya pun, turut mengalami kemajuan yang berarti. Setidaknya, banyak ilmu kepenulisan dan blogging yang saya dapat. Ikut beberapa lomba blog adalah resolusi saya di tahun 2018. Ini saya lakukan hanya untuk melatih konsistensi dan menjadikan menulis sebagai kebiasaan serta kebutuhan. Memang, saya sendiri belum berani membuat target tinggi, karena masih menyesuaikan dengan kapasitas diri.

Hal terpenting di tahun 2018 adalah antara nulis, blogging, dan bisnis bisa berjalan beriringan. Berharap bisa memanage, menemukan irama blogging, dan bisnis jauh lebih asyik.

Resolusi 2018 selanjutnya adalah masalah finansial. Target tahun ini dapat melunasi utang,   dengan mengalokasikan sejumlah dana.  Dengan rutin menyisihkan uang untuk membayar utang, saya berharap ini bisa menjadi kebiasaan untuk menabung, bukan untuk membayar utang kembali.

Tak kalah pentingnya lagi adalah goal dalam mendidik anak dan mengurus rumah. Pasalnya pekerjaan rumah, mendidik anak adalah suatu yang dipandang sebelah mata. Padahal, pekerjaan ini sangatlah berat dan mempunyai tanggung jawab besar di dunia maupun akhirat. Pekerjaan seorang ibu yang amat mulia dan yang dianggap sebagian orang remeh ini, memerlukan ilmu lebih untuk mengantarkan putra-putri tercinta menjadi generasi unggul di masa depan.

Itulah sepenggal kisah resolusi 2018 saya secara umum. Saya pun masih perlu memetakannya secara detail dan mengambil langkah untuk mengeksekusinya. Ada beberapa tips untuk menyusun rencana atau goal yang ingin dicapai sebagai bagian dari resolusi.

Pertama, buat atau susun goal sesuai dengan kapasitas dari Anda. jangan terlalu memaksakan diri untuk membuat target yang Anda sendiri tak yakin untuk mencapainya.

Kedua, don’t be sad if you don’t get your target. Tidak bisa mencapai target bukan alasan Anda untuk bersedih, berkecil hati atau malah berhenti berusaha. Jadikan ini seebagai cambuk dan evaluasi diri untuk ke depan lebih baik lagi.

Ketiga, realistis. Buatlah goal yang realitis. Tentukan goal yang ingin dicapai dan sub goal atau goal-goal kecil untuk mewujudkan goal utama Anda. Jangan lupa untuk mengomunikasikan goal, target, dan resolusi anda pada pasangan. Ini penting sekali untuk mencapai goal tersebut.

Nah, dengan mengetahui ketiga hal di atas. Semoga tidak bingung lagi ya, menentukan resolusi 2018. Kalau itu cerita resolusi saya, sekarang apa resolusimu?

Continue Reading

inspirasi

6 Kunci Penenang dan Penentram hati

By on Januari 4, 2018

 

Jika ingin hatimu tenang, tentram maka bersyukurlah. Seperti itulah tausiyah yang sering saya dengar. Memang bersyukur adalah cara yang diajarkan Tuhan agar hidup kita menjadi tenang dan tentram. Sebenarnya kalau kita jeli dan pandai membaca kehidupan, banyak sekali disekitar kita yang mengajarkan tentang bersyukur. Bahkan tanpa kita sadari telah melakukannya berulang-ulang.

Berikut adalah enam hal yang buat kita belajar bersyukur  dan merupakan kunci penenang dan penentram hati.

  • Shalat

Cobalah shalat di awal waktu. Lakukan dengan khusyuk, insyaallah rasa tenang pun akan datang. Shalat di awal waktu juga akan memperlancar usaha kita termasuk dalam hal urusan rezeki. Dahulukan Allah, maka Allah akan mendahulukan urusan kita. yakinlah bahwa dengan memperbaiki kualitas shalat kita maka kita akan merasakan ketenangan dan ketentraman.

  • Wudhu

Begitu juga halnya dengan shalat, berwudhu pun akan membuat diri kita jauh lebih baik. Setiap gerakan wudhu mempunyai keutamaan dan manfaat masing-masing, asalkan dilakukan dengan benar dan sesuai syariat. Tatkala kita sedang kumur-kumur berarti membersihkan segala kotoran yang ada di mulut. Membasuh muka mempunyai manfaat agar wajah terbebas dari keriput dan nampak awet muda. Mengusap kepala dapat menurunkan tekanan darah. Gerakan mengusap telinga mempunyai manfaat untuk mempertajam daya ingat kita dan mencegah kepikunan. Membasuh tangan  agar terhindar dari kanker kulit begitu juga halnya dengan membasuh kaki. Dengan berwudhu insyaallah kita akan merasa segar kembali dan pikiran pun akan menjadi lebih baik.

  • Baca Al-quran

Kalau lagi marah atau ngerasa enggak enak hati, biasanya yang saya lakukan adalah ambil wudhu dan baca Al-quran. Percaya atau tidak setelah baca Al-quran mood atau suasana hati akan jauh lebih baik. Cara ini bisa dicoba di rumah, tidak hanya satu dua kali namun, harus berkali-kali agar terasa manfaatnnya.

baca juga : Sudahkah Pekerjaan Kita Membawa Berkah?

  • Hening malam

Cobalah untuk sesekali bangun di sepertiga malam dan lakukanlah shalat tahajud. Curahkan semua perasaan pada sang pemberi kehidupan maka perasaan kita akan terasa lebih ringan dan beban pikiran insyaallah akan berkurang. Tak jarang dengan shalat malam, solusi atas permasalahan pun akan datang. Habis shalat malam, Anda bisa menikmati waktu untuk diri sendiri. Semisal dengan baca buku atau minum secangkir kopi. Hal ini dapat menghilangkan penat, stress atau rutinitas sehari-hari yang telah melanda.

  • Keindahan alam

Ini cara yang paling favorit menurut saya. Enggak harus berlibur ke tempat yang mahal. Pemandangan dekat rumah atau keluar di malam hari ketika langit cerah  akan membuat kita merasakan decak kagum dengan penciptaan alam ini. Jika mau berpikir, tentu hal ini akan membuat kita jadi jauh lebih  bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.

  • Menulis

Ini bagian dari hobi dan pekerjaan saya. Dengan menulis bisa mencurahkan isi hati, segala sesuatu yang terlintas dipikiran, dan akhirnya bisa membuat saya merasa lega. Menulis bagi saya bisa menjadi suatu terapi hati karena rasa kesal, marah, senang akan tertuang dalam bentuk tulisan.

Hati akan merasa tenang dan tentram tatkala kita mampu bersyukur atas segala nikmat yang kita terima. Kita bisa mencoba salah satu cara di atas dan terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

inspirasi

Konsep Rezeki Mulus Tanpa Seret

By on Oktober 10, 2017

Alhamdulillah beberapa hari ini baru diberi rezeki sakit sama Yang Maha Pemberi kesehatan. Setidaknya dengan sakit, tubuh bisa beristirahat sejenak dari rutinitas sehari-hari dan lebih banyak mengingat-Nya. Beberapa hari sakit, diri ini rindu untuk menulis lagi setelah hampir 4 hari enggak sempat meluangkan waktu untuk sekedar menulis, me-refresing-kan pikiran kembali.

Selama sakit, kegiatan yang paling banyak saya lakukan tentunya beristirahat sambil membaca buku. Dan teringat akan beberapa hal, salah satunya tentang konsep rezeki. Berbicara soal rezeki itu tak sebatas soal uang melulu. Rezeki itu luas, sehat, sakit, sedih, susah, senang, semuanya termasuk rezeki. Musibah dan cobaan juga bagian dari rezeki. Banyak orang pasti sudah paham akan hal ini tentunya.

Dalam Alquran itu sendiri pun telah dijelaskan bahwa rezeki itu segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu, entah berupa pakaian, makanan, sampai pada istri. Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-laki atau perempuan termasuk rezeki. Termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran dan penglihatan.

Kalau sudah dijelaskan seperti ini, pandangan kita akan rezeki semoga tak sebatas hanya uang belaka. Tapi jujur yang namanya manusia pasti ada rasa was-was mana kala kita tidak punya uang atau dompet lagi menipis. Meski udah dijamin, rasa khawatir itu pasti ada. Persoalannya banyak dari kita yang mungkin sudah merasa berusaha semaksimal mungkin, tapi kok ya masih kurang terus? Masih tetap berhutang dan lain sebagainya yang buat hati tak tenang, hidup pun tak tentram.

Kuncinya semua ini tergantung pada diri kita. Bagaimana kita harus menata hati terlebih dahulu, dalam artian rasa syukur terhadap rezeki yang sudah didapat. Bukankah kalau kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat kita. menurut saya hal ini memang benar adanya, bukan sebatas teori atau firman Allah semata. Karena saya pun mengalaminya sendiri. Allah juga berfirman bahwa akan mencukupi segala kebutuhan kita. ingat ya… kebutuhan bukan keinginan.

Sebenarnya kalau kita mampu memahami akan hal ini dengan baik, kebutuhan bukan keinginan, ada hikmah atau pelajaran yang dapat diambil. Yaitu tentang kesederhanaan. Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Jika setiap manusia menuruti semua keinginannya maka ya enggak akan ada habisnya. Maka hanya kebutuhanlah yang akan dicukupi oleh sang Maha Pemberi Rezeki.

Kita hanya diwajibkan untuk berikhtiar dan bertawakal. Ikhtiar inilah yang mungkin bisa kita lakukan. Ikhtiar seperti apa agar rezeki kita tak seret dan tak merasa kekurangan? Pertama, kita bisa meniru konsep petani dalam menanam padi. Ibarat kata petani setelah panen, pasti mengambil terlebih dahulu beberapa padi yang bagus untuk dijadikan bibit selanjutnya untuk ditanam, baru kemudian sisanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini juga berlaku sama terhadap rezeki yang kita dapat, misalnya rezeki uang. Kalau kita menginginkan uang yang kita dapat tidak habis begitu saja sebelum waktunya, dan sudah dapat rezeki lagi sebelum kantong habis, bisalah kita meniru konsep pak tani dalam menanam padi ini. Istilah jawanya itu agar rezeki tidak entuk-entek namun entek-entuk (dapat-habis namun habis-dapat).

Jadi setiap kali mendapatkan rezeki, semisal berupa gaji kita bisa mengambil terlebih dahulu beberapa persen dari gaji kita untuk kita sedekahkan. Lakukan hal ini sebelum membelanjakan gaji untuk kebutuhan kita. bukankah petani mengambil beberapa padi untuk dijadikan bibit terlebih dahulu, kemudian ditanam lagi. Jadi sebelum stok padi habis,mereka sudah panen kembali. Konsep seperti ini berlaku pada rezeki yang kita terima.

Selain sedekah, kedua adalah orangtua tentunya. Bakti atau tindak-tanduk kita terhadapat orangtua baik orangtua kandung ataupun mertua. Perlakukan mereka secara baik. Jangan jadikan mereka seperti pembantu. Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah banyak pasangan yang bekerja dan menyerahkan anak diasuh oleh orangtuanya atau nenek kakeknya. Mungkin dengan alasan lebih aman dari pada diasuh oleh baby sister. Iya, mungkin hal ini benar adanya. Saya pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Tapi, suatu ketika saat saya ikut suami berziarah dalam acara wisata religi yang diadakan oleh sekolahnya, saya diberi wejangan atau nasehat oleh pak supir bus yang saya tumpangi bahwa orangtua itu sudah capek mengasuh kita. sebagai anak kita juga harus mengerti hal itu, meskipun orangtua tak akan pernah mengeluh mengasuh anaknya. Jangan bebani orangtua dengan mengasuh anak kita lagi. bolehlah orangtua menjaga, ikut merawat, bermain sama cucunya, namun jadikan hal itu sebagai perekat hubungan antara cucu dengan nenek kakeknya. Bukan lantas menyerahkan pengasuhan terhadap mereka. Jika dirasa anak kita sudah lama bersama kakek nenek, segeralah ambil mereka kembali, siapa tahu orangtua kita sudah lelah dan butuh istirahat.

Rasanya Jleb kan, ditambah lagi ada semacam petuah atau apa ya namanya, sebut saja sebagai nasehat. Kalau kita memperlakukan orangtua kita layaknya pembantu, maka rezeki yang kita dapat pun seperti pembantu. Konsep rezeki agar tidak seret itu tidak bisa lepas dari marketing bumi dan marketing langit. Marketing bumi ya usaha kita secara nyata dalam bekerja dan marketing langit itu bentuk usaha kita dalam hubungannya merayu Sang Pemberi Rezeki. Orang-orang suka menyebutnya dengan matematika langit. Bentuknya sebagaimana kita berdoa, tahajud, dhuha, bersikap baik kepada kedua orangtua, sedekah, bersyukur, menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan dosa, berbuat baik pada sesama. Hal-hal seperti inilah yang akan membuat rezeki kita jauh dari kata seret. Sebagai penutup, mengutip dari kata-kata mas Ippo Santosa bahwa bukan rezeki kita yang seret namun sedekah kita mungkin yang seret. Bukan rezeki kita yang kurang namun syukur kita yang kurang. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

inspirasi

Sudahkah Pekerjaan Kita Membawa Berkah?

By on Juli 19, 2017

Shock, itulah pertama kali yang saya rasakan ketika mendengar jam ngajar sang suami berkurang drastis. Bagaimana tidak, karena hal ini juga akan berpengaruh pada keadaan finansial keluarga. Langsung bingung, cemas, khawatir semuanya ada menjadi bayang-bayang dalam pikiran. Untunglah perasaan ini tak bertahan lama. Insyaf dan istigfar, segala puji bagi Allah bahwa setiap rezeki makhluk hidup sudah dijamin oleh Nya, tinggal kita sebagai hambanya mampu bersabar, tidak putus asa dan mau berusaha  atau tidak.

Peristiwa atau kejadian seperti ini membuatku teringat akan visi misi awalku kembali. Ya ingin berbisnis dan mendapat pekerjaan yang berkah. Yang mampu mendekatkan diri saya pada sang Pencipta. Masih teringat sekali, doa yang selalu saya panjatkan agar diberi pekerjan dan usaha yang mampu mendekatkan diri ini padaNya. Jauhkanlah jika pekerjaan itu justru membuatku jauh dariMu. Dan alhamdulillah semuanya terjawab. Berbisnis dari rumah dan menulis membuatku semakin dekat dengan Nya. Saya lebih bisa mengatur waktu  baik itu untuk keluarga, bisnis dan untuk beribadah. Hati ini jauh lebih merasa tenang , beda ketika dulu masih ngantor, yang adanya hanyalah segudang deadline hingga lupa akan hubungan vertikal dengan Tuhan YME. Kosong dan hampa, itulah yang ada.

Apapun pekerjaan dan profesi kita pada intinya keberkahanlah yang dicari. Rezeki yang berkah dan halal. Lalu bagaimanakah konsep reze

ki  dalam Islam sendiri? Dijelaskan dalam Alquran bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu. Entah itu berupa pakaian, makanan, anak-laki-laki, anak perempuan, kesehatan, pendengaran, penglihatan sampai punya istri atau suami pun juga termasuk rezeki.

Namun kebanyakan, pandangan orang sekarang ini tentang konsep rezeki sudah banyak yang berubah dan mengalami pergeseran paradigma. Konsep rezeki tidak lagi diartikan sebagaimana di atas, namun hanya sebatas uang dan keuntungan  dari bisnis yang kita jalankan. Teringat akan nasehat paman yang mengajari saya tentang konsep rezeki agar tidak seret. Rezeki itu jangan sampai entuk-entek (bahasa jawa) tapi entek-entuk. Kelihatan sepele tapi dalem banget maknanya.

Konsep entuk-entek ini berbeda dengan entek-entuk. Entuk-entek ini berarti dapat uang langsung habis untuk kebutuhan. Sedangkan entek-entuk, setiap uang kita habis, kita memperoleh rezeki lagi. He… semoga tidak bingung ya sama penjelasannya. Kalau masih bingung bolehlah tanya-tanya. Selain itu agar rezeki kita enggak seret, ada satu hal yang harus kita instrospeksi. Instropeksi terhadap diri sendiri dalam hal ibadah. Sudah oke kah ibadah kita, shalat tepat waktu, sudahkah melakukan ibadah wajib dan atau sunnah, sudah berbaktikah kita pada orang tua, sedekahnya bagaimana dan lain sebagainya. Pada intinya perbaiki ibadah kita juga, jangan hanya memikirkan urusan duniawi semata.

Keseimbangan dalam mencari rezeki dengan cara yang baik “ajmilu fit tholab” akan mendapati kita pada rezeki yang berkah. Bagaimana agar pekerjaan atau  usaha kita membawa berkah? Bisa dilakukan dengan dua cara yaitu rezeki atau nikmat yang kita dapat, dimanfaatkan untuk melakukan ketaatan pada Allah dan memberi manfaat pada kaum muslimin yang lain.

 

Continue Reading