Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
finansial

Sudah Sakinah Finansial kah keuanganmu? Yuk, Cek Sekarang!

Juni 14, 2019

“Kebebasan finansial adalah suatu keadaan di mana seseorang telah berhasil menempatkan harta di tangannya, namun tidak dihatinya.”

(Ali bin Abi Thalib)

Hmmm, kali ini akan sedikit berbicara tentang sakinah finansial ya manteman. Tapi, apa hubungannya ya sakinah finansial dengan kebebasan finansial. Judulnya sakinah finansial kok quote-nya tentang kebebasan finansial. Ngaco apa gimana nih. Hehehehe

Tenang saudara-saudara… kalau kita muslim kan lebih enak bilang sakinah finansial gitu ya. Menurut saya pribadi sih, kalau sakinah finansial justru arti dan maknanya jauh lebih luas daripada kebebasan finansial. Yang namanya sakinah finansial ya berarti  dimudahkan dalam urusan money, membawa keberkahan, dan bermanfaat bagi sesama. Kira-kira keuangan kita udah gitu belum ya. Kalau belum teruskan membaca dan yang sudah merasa sakinah finansial, teruskan saja bacanya. Hehehe nanggung soalnya.

Sebelum ke sakinah finansial, kita akan menyinggung sedikit tentang kebebasan finansial. Kalau menurut teman-teman semua, kebebasan finansial itu yang bagaimana sih? Tulis di kolom komentar ya. Terlepas dari itu semua ada beberapa pendapat tentang hal ini. Sebagaimana menurut  Robert Kiyosaki yang mengatakan bahwa kebebasan finansial adalah suatu kondisi di mana seseorang sudah bisa men-support berbagai kebutuhan dirinya hanya dari passive income. Berbeda dengan Robert Kiyosaki, Suze Orman mengatakan bahwa kebebasan finansial adalah hilangnya kecemasan akan uang untuk selama-lamanya.

Diakui atau tidak, uang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keharmonisan rumah tangga dan kesakinahan sebuah keluarga. Apapun kondisi keuangan kita, kalau sudah mencapai taraf sakinah finansial, maka segala-galanya akan terasa mudah. Bukankah kita sering mendengar semoga menjadi keluarga yang samara. Sakinah, mawaddah dan rahmah sendiri bagi saya, harus diperjuangkan dan terus menerus diperjuangkan. Termasuk dalam hal keuangan. Tanpa proses perjuangan tidak mungkin hal itu akan tercapai dengan sendiri. Sakinah finansial merupakan suatu kondisi di mana kita merasa tenang akan kondisi keuangan kita yang merupakan ciri utama dari sebuah kehidupan keluarga.

Lantas, bagaimana mewujudkan hal ini?

Tentunya ada beberapa rambu yang harus diperhatikan jika kita ingin menuju proses sakinah dalam melaksanakannya. Sakinah finansial ini berdasar pada maqashid syariah atau aturan agama. Di mana keuangan kita mampu untuk mencukupi kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder. Alhamdulillah jika bisa memenuhi kebutuhan tersier.

Semoga tidak pusing ya bacanya. Jujur saya sendiri pun masih berproses dan belajar prinsip sakinah finansial ini. Aduh Maaakkk….godaan banyak banget. Apalagi musim lebaran kayak gini. Bikin khilaf saja. Pantangan terberat dalam mempraktikkan ilmu sakinah finansial ini adalah melawan hawa nafsu. Bagaimana kita harus bisa mengontrol nafsu kita untuk pengeluaran yang bersifat tidak begitu penting. Mengendalikan diri untuk belanja ini dan itu. Di sini kita dituntut untuk mampu menganalisis dan mengenali mana kebutuhan, mana keinginan. Karena perbedaan diantara keduanya sangatlah tipis. Pada prinsipnya ketika kebutuhan dharuriyat ini sudah tercapai, jika posisi keuangan kita masih surplus boleh lah untuk sesekali memenuhi keinginan atau kebutuhan tersier.

Rambu-rambu untuk mencapai sakinah finansial.

Aturan atau tahapan menjadi sangat penting jika kita ingin sukses dalam mencapai suatu hal. Setidaknya ini untuk mengurangi resiko trial dan eror karena kita sudah memiliki rambu-rambu atau acuan untuk menjalankannya. Begitu juga dalam proses menuju sakinah finansial. Untuk mempermudah prosesnya ada beberapa yang harus diperhatikan. Mungkin lebih tepatnya tahapan untuk menjalankannya.

  • Niat

Nah, ini urgent nih. Kelihatan sepele namun, jika tidak ada niat yang benar segala sesuatunya bakal percuma. Niat ini berkaitan dengan motivasi dalam mencari rezeki yang halal. Niatkan tak hanya bekerja semata untuk cari pundi-pundi rupiah, akan tetapi niatkan untuk beribadah. Dengan demikian apa yang kita usahakan insyaallah berkah.

  • Halal dan baik

Mencari rezeki pun tidak cukup sekadar halal saja, baik juga menjadi syarat lainnya yang harus dipenuhi. Bagaimana pun apa yang kita dapat, kita pakai, kita makan harus baik dan halal agar tidak mengurangi keberkahan rezeki tersebut. So, kita harus berhati-hati dalam mencari dan mempergunakan rezeki yang baik dan halal. Terutama apa yang kita makan karena itu akan menjadi darah daging dalam tubuh.

  • Bekerja keras dan mulailah di pagi hari
sumber gambar : shutterstock

Berdoa pun tak cukup. Kita diwajibkan berdoa dan berikhtiar. Kalau dalam ilmu marketing modern mungkin sekiranya kita menyebutnya sebagai marketing langit dan bumi haruslah seimbang. Dan mulailah di waktu pagi karena waktu ini sangatlah diberkahi. Bisa mendatangkan motivasi dan semangat dalam bekerja.

  • Menyambung dan menjaga silaturrahim

Ini nih yang paling asyiieeek dan saya suka saya suka. Hehehe…silaturrahim. Gampangnya pergi main, entah ke rumah saudara, teman atau kolega bisnis. Kata guru saya, kalau bisnisnya sepi salah satu faktor penyebabnya bisa jadi kita kurang mainnya alias kurang silaturrahim. Artinya apa? Dengan bersilaturrahim berarti kita menambah jaringan baru dan menjaga hubungan baik dengan mereka yang sudah menjadi partner kita. Ini kalau dari pandangan bisnis. Begitu juga halnya dengan menjaga silaturrahim ke sanak keluarga atau saudara dan teman. Secara tidak langsung kita membuat taman rezeki dengan menyambung dan menjaga silaturrahim. Siapa coba yang enggak mau punya taman rezeki? Anda mau kagak? Hehehe. Toh, di agama kita juga disuruh seperti ini, bukan? Sambunglah tali silaturrahim jika ingin dipanjangkan umur dan diluaskan rezeki.

  • Muhasabah dan tobat

Hah, ini dia! Kalau di buku “Rezeki Level 9” karya bang Andre Raditya ini merupakan rezeki level 9. Ho’oh loh ga bo’ong. Di buku dituliskan begitu. Muhasabah dan tobat. Instropeksi diri dan banyak beristigfar, insyaallah rezeki pun akan lancar dan kita mendapat ampunan dari sang Maha Pencipta.

  • Banyak bersyukur

yang ingin jangan sampai lupa ya bu ibu. Banyak-banyakin bersyukur. Udah tahu kan kenapa? Dengan banyak bersyukur maka Allah akan tambah nikmat kita. Sebaliknya jika kita tak bersyukur maka akan kufur nikmat. Bersyukur ini bisa menjadi salah satu cara untuk memperbaiki kondisi keuangan kita. Tahu-tahu bisa nabung jika sebelumnya pendapatan enggak cukup untuk menabung. Bisa nyicil utang, menjadikan hidup lebih tenang dan inilah salah satu manfaat jika kita banyak bersyukur. Tidak hanya dari segi nominal rupiahnya yang bertambah namun, dari segi kemanfaatannya juga.

  • Menunaikan hak Allah

Terakhir, jangan lupa untuk menunaikan hak Allah. Menunaikan zakat dan mengeluarkan sedekah. Sejatinya apa yang kita dapat dan harta yang kita miliki ada hak orang lain di dalamnya. Infakkan maka Allah akan tambah. Dalam (QS. Albaqarah [2]: 276) Allah berfirman bahwa “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah.”

Itulah beberapa tahapan awal yang temen-temen bisa lakukan untuk mencapai sakinah finansial. Tahapan selanjutnya adalah bagaimana kita mampu membelanjakan harta kita sesuai kebutuhan atau lebih tepatnya sesuai dengan maqashid syariah. Panduan dasarnya adalah sesuai prinsip kehalalan dan kemaslahatan. Dasari setiap keputusan keuangan dengan pemenuhan kondisi dasar atau primer terlebih dahulu yang harus diutamakan.

Selanjutnya yang berkaitan dengan langkah-langkah praktis tentang sakinah finansial tunggu postingan sekanjutnya ya….dah panjang kayaknya tulisan ini. Hehehe….selamat merabahi diri eh maksudnya instropeksi diri dan mulai perbaiki kondisi keuangan yang dirasa kurang oke. Bismillah menuju perbaikan diri dan semoga proses menuju sakinah finansial dipermudah. Amiin…

Salam,

Roiza

Sumber : buku Sakinah Finansial karya Luqyan Tamanni dan Murniati Mukhlisin.

  

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!