Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
rupa-rupa

Marhaban Ya Ramadhan: Sarana Terapi Menyehatkan Mental

Mei 7, 2019

Alhamdulillah, meski terlambat akhirnya masih bisa nulis juga. Efek keroyokan laptop sama pak suami. Marhaban ya Ramadhan, tulisan pertama di bulan Ramadhan. Terinspirasi dari tulisan temen beberapa waktu yang lalu tentang mental health, rasanya kok pas banget sama dirikuh yang sering dimabuk sama pemikiran rumit yang ada di kepala. Semakin dipikir begini dan begitu malah semakin enggak kelar-kelar. Tidak jadi ngelakuin apa-apa, Cuma jalan ditempat doang. Padahal kalau dipikir gampang ya bakalan gampang and enggak ribet. Hanya butuh disederhanain itu pikiran. Hehehe

Bagi temen-temen ya punya karakter kayak dirikuh, yang suka banget sama yang namanya “ribet” itu, bisa mampir ke tulisannya mbak dian tentang mental health dan akan dibahas tuntas beserta tips-tipsnya. Kalau mbak dian lebih melihat mental health ini dari segi keilmuan, Islam sendiri pun sudah memberi rambu-rambu juga akan hal ini. Hmm, pernah dengar lagu tombo ati yang dinyanyikan opick kan? Membaca Alquran, salat malam, berkumpul dengan orang saleh, berpuasa, dan zikir malam. Sebenarnya kelima cara di atas bisa digunakan sebagai terapi yang menyehatkan mental. Berhubung suasana Ramadhan, puasa dan salat malam sangat efektif untuk mengendalikan diri yang akan berujung pada sikap atau tindakan kita.

Mencoba berserah diri dan mengikhlaskan. Loh, apa hubungannya coba antara orang yang pemikirannya ribet sama berserah diri, ikhlas, ditambah puasa, dan salat malam? Kayak enggak nyambung dan malah bikin bingung saja ya. Hehehe…

Tapi semuanya, suka enggak suka, mau enggak mau ya memang ada hubungannya dan saling berhubungan. Saat pikiran ruwet, ingin mengerjakan ini, mengerjakan itu, tapi keterbatasan waktu dan kemampuan sering membuat saya jadi ngomel-ngomel. Walhasil sering semua mahluk yang ada di rumah bisa kena semprot. Hehehe…jangan ditiru yak, masih belajar mengendalikan ini. Padahal udah di manage tuh. Kalau Bahasa sekarang itu mah udah di manajemin waktu. Diatur waktu dan skala prioritasnya. Tapi tetep aja masih sering meleset. Ya namanya juga masih belajar. Trial and error.  

Sering juga dari diri saya sendiri yang masih terlalu banyak memikirkan segala resikonya, plus minusnya kalau mau mengambil tindakan dan keputusan. Atau kalau tidak terlalu banyak berencana. Akhirnya jadi bingung sendiri dan bikin bad mood. Dan kalau rasa ini sudah melanda, alamat deh susah banget ngembaliin itu mood jadi lebih baik.

Itulah mengapa menurut saya manajemen hati, rasa, hati, pikiran bisa dimulai dari puasa dan salat malam. Di mana ini semua bisa digunakan untuk memperbaiki dan mngendalikan diri yang mana akan berpengaruh pada pola pikir dan pola tindakan.

Dengan puasa kita belajar mengendalikan diri, enggak gampang marah dan tidak mudah dikendalikan emosi. Dengan salat malam kita belajar berpasrah dan mengikhlaskan. Saya sendiri sering diingatkan suami akan hal ini. “Kenapa harus marah-marah kalau target enggak tercapai. Kalau capek ya sudah berhenti kan bisa dikerjakan besuk. Enggak harus perfect kok.”

Harusnya aku bersyukur ya punya suami perhatian seperti ini. Enggak banyak nuntut. Emang dasar akunya yang terbiasa hidup dengan deadline. Padahal juga sering molor terus dari deadline. Rencana dalam angan yang banyak justru sering membawa diri entah kemana enggak jelas. Gagal fokus kali ya. Pada akhirnya malah ga dikerjain semuanya. Tambah berabe kan kalau udah kayak gini.

Kalau kata Pak suami itulah pentingnya bersyukur, ikhlas, dan pasrah. Mulai ditata hati dan niatnya untuk apa. Berusaha mendahulukan skala prioritas, memanajemeni waktu itu penting, berusaha memenuhi target juga penting, menjadi lebih baik apalagi. Namun, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tugas kita selanjutnya ya berpasrah, bersyukur bisa melakukannya, dan mengikhlaskan beberapa pekerjaan yang belum dikerjakan untuk dilanjutkan keesok harinya, jika memungkinkan. Jangan memperkerjakan rodi diri karena tubuh pun butuh beristirahat.

Dengan terbiasa puasa maupun tahajud pengendalian diri kita akan semakin membaik. Tidak mudah emosi dan ngoyo (jawa). tujuan akhirnya adalah hidup kita akan tenang dan mudah dalam melakukan apapun. Nabi Muhammad SAW sendiri pun menganjurkan umatnya untuk membiasakan tahajud ataupun puasa sunnah. Tentunya hal ini tak lepas dari besarnya manfaat yang akan diperoleh jika kita mau melakukannya. Terlebih lagi sekarang bulan ramadhan di mana seluruh umat Islam melaksanakan kewajiban berpuasa ramadhan.

Begitu pula dengan salat tahajud atau qiyamul lail. Tahajud bisa menjadi sarana terapi untuk menyehatkan mental, menguatkan jiwa, dan sebagai mesin keimanan bagi mereka yang istiqomah menjalankannya. Manfaat lain yang didapat adalah sebagai terapi pengobatan terbaik dari segala macam penyakit. Karena mereka yang melakukannya akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan tak mudah terserang penyakit. Tidak hanya sekedar itu. Ternyata salat tahajud ini menjadi rahasia dan senjata hebat para sahabat

Inilah beberapa keutamaan salat tahajud atau qiyamul lail.

  • Allah akan mengangkat hambanya yang gemar melakukan salat malam ke tempat yang terpuji.
  • Sarana mendekatkan diri pada Allah Swt dan menghapus dosa
  • Dimuliakan oleh Allah.
  • Waktu mustajab dikabulkannya doa
  • Menghapus dan mencegah dosa serta sebagai sarana untuk masuk surga.

Begitu juga halnya dengan puasa. Baik puasa sunnah maupun puasa wajib. Mempunyai keutamaan-keutamaannya sendiri. Nah, bagi yang ingin berlatih sabar dan menambah kesabaran maka berpuasalah. Ibadah puasa dapat dijadikan sebagai perisai dalam mencegah kegalauan hati karena dorongan hawa nafsu.

Beberapa tujuan besar dari ibadah puasa, baik sunah maupun wajib.

  • Puasa menjadi sarana pendidikan manusia agar tetap bertakwa
  • Media pendidikan bagi jiwa untuk bersabar dan tahan terhadap segala penderitaan dalam menempuh dan melaksanakan perintah Allah swt.
  • Menumbuhkan rasa kasih sayang di antara manusia sehingga tercipta empati, saling tolong menolong dan menumbuhkan persaudaraan di antara manusia.
  • Manfaat atau tujuan terbesar adalah menanamkan rasa takwa pada Alah Swt.

Nah loh, banyak banget kan manfaat salat malam dan ibadah puasa. Apalagi di bulan Ramadhan, Allah akan janjikan berlipat-lipat pahala. Dengan melakukannya secara rutin, insyaallah salat malam dan puasa dapat dijadikan tameng untuk menata hati, pikiran, dan tindakan agar lebih baik lagi. Bertambah kesabarannya dan tidak mudah untuk berkeluh kesah. Dan secara otomatis kebiasaan ini akan berdampak pada kesehatan jiea atau mental Anda. Bagaima pemirsah…sudah merutinkan ibadah ini? Bagi yang sudah semoga istiqomah dan berkah. Bagi yang belum semoga dimudahkan untuk menjalankannya. Amiin…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!