Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
parenting | Uncategorized

Disposable Diaper, Baik dan Aman Kah?

Januari 12, 2019

Beberapa hari lalu saya dan suami bergotong-royong membersihkan halaman dan selokan rumah. Maklum, musim penghujan rumput-rumput pada seger dan mongkok tumbuhnya. Sampai-sampai selokan rumah saja dipadati olehnya. Belum lagi urusan sampah plastik yang membuat selokan jadi tersumbat.

Entah kenapa, enggak ada angin enggak ada hujan, terlintas dipikiran karena melihat sampah plastik ini banyak banget, teringat sama disposable diapers atau popok sekali pakai. Gimana cara menangani limbahnya. Orang urusan plastik saja masih bikin riweuh ditambah lagi dengan sampah disposable diaper dan turunan sampah plastik lainnya. Banyak kan ya, yang membuang limbah diaper ini sembarangan, terutama di sungai-sungai.

Baik enggak sih, aman enggak sih, manfaat enggak sih menggunakan disposable diaper?

Balik lagi kalau ditanya soal ini, kembali ke pribadinya masing-masing. Akan tetapi pengetahuan akan hal ini juga penting untuk memberikan feedback positif atau setidaknya tindakan  tepat yang akan diambil terkait disposable diaper ini. Semuanya punya plus minus tersendiri sehingga kita harus mampu mengambil tindakan secara tepat untuk mengurangi mudharatnya. Untuk mengetahui seberapa pentingkah penggunaan disposable diaper ini, yuk simak ulasannya!

Kelebihan memakai disposable diaper.

Allah itu menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Tak terkecuali nih, disposable diaper yang ciptaan manusia juga mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Memang saya akui dan pasti semua ibu-ibu yang pernah menggunakan disposable diaper ke anaknya sepakat kalau menggunakan  diaper ini sangat praktis dan sangat membantu mengurangi beban kerja ibu. Apalagi setelah mereka melahirkan.

Enggak riuweh, praktis, enggak harus bolak-balik ganti popok, mengurangi beban tumpukan cucian dan anak enggak terganggu tidurnya karena mengompol. Ibunya pun bisa tertidur pulas. Hehehe…

Akan tetapi, jangan seneng dulu. Ada lho beberapa anak yang sensitif jika dipakaian disposable diaper. Salah satunya terkena ruam popok. Jadi pastikan dulu anak Anda aman dalam pemakaian popok sekali pakai ini. Salah satu caranya, ya dengan uji coba. Jika dipakaikan diaper ada gejala yang ditimbulkan berarti Anda harus menghentikan pemakaian. Namun, jika dirasa dalam pemakaian tidak ada gejala yang mengkhawatirkan berarti kulit anak mampu menyesuaikan. It is okey jika mau dilanjut. Dengan syarat pahami konsekuensi lain yang akan muncul dan usahakan mampu untuk mengatasi limbahnya.

Urusan limbah ini yang biasanya menjadi momok yang cukup mengerikan bagi kebanyakan orang. Bingung sendiri dan akhirnya malah ikut-ikutan cuek. Jadi kita cuma menambah beban limbah dong ya kalau enggak bisa mengolahnya sendiri.

Kelemahan memakai disposable diaper.

Sebagaimana kelebihan yang telah dipaparkan di atas,   memakai disposable diaper juga mempunyai kelemahan atau kekurangan. Berikut adalah beberapa dampak yang ditimbulkan akibat memakai popok sekali pakai ini.

  • Menyebabkan Iritasi

Memakai disposable diaper bisa menyebabkan iritasi kulit pada anak. Bisa  juga menyebabkan ruam popok pada bayi. Memang tidak semua balita yang menggunakan diaper akan mengalami hal yang sama. Ada yang berkulit sensitif ada juga yang tidak. Jadi keputusan mengunakan diaper ini tergantung kepada orang tua dengan berbagai pertimbangan.

  • Menambah Anggaran

Disadari atau tidak, memakai disposable diaper akan menambah beban anggaran keuangan belanja. Entah itu harian ataupun bulanan. Bayangkan saja berapa dana yang akan dikeluarkan untuk membeli popok sekali pakai ini. Jika setidaknya setiap hari anak memakai 2 kali diaper dengan anggaran 5000 per hari, bisa dihitung berapa biaya yang dikeluarkan dalam setahun.

  • Menambah Limbah Rumah Tangga

Dampak lain dari memakai disposable diaper ini adalah limbah yang dihasilkan. Banyak orang tua membuang begitu saja diaper yang sudah tidak digunakan langsung ke sungai atau tempat sampah tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Apalagi di pedesaan banyak yang membuang limbah diaper ini ke kebonan (tanah kosong yang tidak diproduktifkan) atau membakarnya begitu saja.

  • Merusak Lingkungan

Pengolahan limbah apapun yang tidak tepat akan merusak lingkungan. Termasuk limbah popok sekali pakai. Banyak yang dibuang begitu saja tanpa tahu bagaimana mengolahnya. Untuk itulah penting sekiranya para orang tua mengetahui bagaimana cara tepat untuk mengolah limbah diaper ini. Kita yang menggunakan kita juga yang harus bertanggung jawab dengan hasil limbah yang ditimbulkannya.

Tips mengolah limbah disposable diaper agar aman dan tidak merusak lingkungan

Disposable diaper merupakan limbah turunan dari plastik yang mana semua orang tahu bahwa sampah jenis ini belum menemukan solusi tepat guna untuk mengolahnya. Butuh waktu di atas 100 tahun untuk menguraikan sampah disposable diaper ini secara sempurna. Untuk itu dibutuhkan cara yang tepat dan efektif dalam memberdayakan limbah ini. Membakar belum menjadi solusi yang handal untuk menyelesaikan masalah limbah diaper. Berikut ini beberapa cara yang bisa diadopsi atau dicontoh untuk mengolah limbah diaper.

  • Menjadikannya sebagai Media Tanam

Menurut para ahli pertanian, bahan yang ada di dalam diaper sangat bagus digunakan sebagai media tanam karena bisa mengikat air. Salah satu caranya dengan membersihkan kotoran yang ada di dalam diaper terlebih dahulu. Baru kemudian buang kulit luar diaper yang berupa plastik dan ambil bagian dalam yang akan digunakan. Taruh bagian dalam diaper dalam wadah pot atau polibag baru kemudian diberi media tanah di atasnya. Setelah beberapa hari media tanam dari diaper pun sudah dapat digunakan.

 

  • Mengolahnya menjadi Pupuk dan di Daur Ulang

Selain menjadikannya sebagai media tanam, limbah diaper pun dapat diolah menjadi pupuk dan barang bernilai jual tinggi. Sebagaimana di atas, limbah diaper yang sudah bersih dari kotoran di potong-potong kecil kemudian dimasukkan ke dalam wadah untuk dipanaskan. Air yang dihasilkan dari proses tersebut dapat digunakan sebagai pupuk dan limbah bahan diaper dapat digunakan sebagai campuran dalam membuat batu bata sebagai bahan dasar membuat bangunan. Hasilnya pun cukup bagus dan kuat untuk membuat dasar bangunan.

  • Melarutkan dalam Air

Cara ini termasuk yang paling mudah. Namun, menurut saya belum seefektif dengan dua cara di atas. Pasalnya melarutkan limbah diaper dalam air dan memasukkannya ke septitank bukanlah cara yang cukup bagus. Takutnya terjadi penyumbatan dengan sifatnya yang menyerap air.

Selain ketiga hal di atas, kita sebagai perempuan dan ibu juga bisa ikut andil dalam mengurangi penggunaan disposable diaper ini. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan cloth diaper atau popok yang bisa dicuci, tidak sekali pakai. Sekarang ini sudah banyak sekali produsen cloth diaper yang menyedikan popok dengan kualitas baik agar nyaman buat anak dan batita.

Tentunya hal ini diprakarsai oleh adanya penggunaan disposable diaper yang kurang ramah terhadap lingkungan. Mungkin memang tak sepraktis disposable diaper. Namun, menurut saya penggunaan cloth diaper merupakan secercah harapan untuk mengurangi limbah dari popok sekali pakai. Masa’ kita engak mau sih menjaga linkungan kita. Hal terkecil yang bisa kita lakukan sebagai seorang ibu dengan menjaga sebaik-baiknya amanah yang telah disematkan pada diri kita sebagai khalifah di bumi oleh Allah swt.

  1. Saya juga yang lama move on dari diapers ini tapi setelah dipikir2 akhirnya nekat buat bener2 lepas meski anak masih ngompol klo tidur. Akhirnya pilih pake perlak saja sama kain yang udah nggak kepake biar nggak meleber kemana2. Dan sedikit rasa bersalah karena udah nyumbang limbah di alam bisa berkurang

  2. Woow bisa untuk media tanam juga ya, baru tahu aku… dan iya banget tuh, mending klo setelah pakai buangnya ke tempat sampah, di septic tank malah bisa menyumbat.

  3. wah emang sih, akan jadi limbah ya, dua ponakan saya semua pakai disposable diaper, soalnya ini yang paling enggak repot kan. tapi pas dipikir-pikir masalah limbah, jadi permasalahan lingkungan lagi, heu. Tapi udah ada solusinya juga sih ya, makasih banyak sharingnya bun ~

  4. Limbah diapers ini ngeri banget. Termasuk bagiku yang aktif memakaikan popok ke anak. Suka kadang mikir dibawa kemana yaa itu limbahnya. Belum ada mesin pengolah ala – ala luar negeri kan di sini, sedang sampah datang setiap waktu.
    Waktu masih baby banget saya pake clodi ( cloth diaper ) tapi berhubung sekarang anak aktif banget malah jadi agak sulit. Rencananya ya pengen segera bisa lepas diaper secepatnya aja sih, mayan soalnya memang

  5. Bagus bun sarannya cuma yakin deh kebanyakan ibuk2 ga sempet melakukan hal kaya ngejadiin diapersnya pupuk bener gak? Yang ada tetep dibuang gitu aja. Bingung juga yah kalo udah kayak gini ujun2nya jadi limbah lagi yang ga bisa terurai

  6. Wah sharingnya bagus banget mba. Sebetulnya cara orang tua kita zaman dulu memang lebih bersahabat ya untuk lingkungan. Sayangnya memang lebih ribet pake clodi, tapi lebih hemat. Pilihan tinggal ke pribadi masing2 ya?

  7. Oh, bisa dibikin pupuk dan media tanam ya?
    Saya jarang menggunakan diapers, saya biarkan alami sambil belajar pola bayi tiap berapa lama dia pipis. Jika bepergian aja, atau di rumah tapi lagi ada acara pake diapernya

  8. Aku senang baca artikel ini karena jadi tahu kalau disposable diaper bisa untuk media tanam dam segala hal di atas. Keren nih, jadi berasa enggak berdosa memakaikan ke anak kita 😀
    Anakku yang pertama dulu pakai diaper kalau pergi doang. Anak kedua pakai terus sampai bisa bilang pipis (2 tahun-an) karena waktu itu tinggal di Amerika, aturan sewa rumah ketat banget. Karpet musti dijaga kebersihannya, kalau begini begitu rumah kena denda…bla bla bla..Jadilah aku pakaikan anak diaper hampir seharian karena enggak ada pilihan.

  9. Saya pakai dua2nya, Mbak. Clodi dan yang disposable. Alhamdulillah, selama ini kulit si kecil ga pernah ruam. Kasian emang kalo kena ruam gitu. Nah, sekarang lagi fase toilet training, sih. Jadi ufah sering ga pake
    Btw, baru tahu kalo isi disposable diaper bisa untuk pupuk. Kudet, hihi. Nice info. Memang salah satu problem sampah terbesar kita, nih.

    1. iya neh mbak. gara-gara lihat tumpukan pampers dari simbahku kok dibuang gitu aja. terus aku searching cara menanganinya ya sekalian aku bagi info di blog ini.

  10. Mbak, berarti kalau bekas ompol harus dicuci dulu kah lalu dijemur sebelum dipakai untuk media tanam? Kebetulan anakku alergi dengan popok sekali pakai ini. Hanya merk tertentu saja cocoknya. Alhamdulillah sudah nggak pake lagi nih setelah usianya 3 tahun

  11. Disposable diapers emang praktis dan membantu banget. Kalo dulu aku menyiasati dengan pemakaian cream di area yang terbungkus diaper biar ga iritasi. Dan pernah juga ngoleksi cloth diapers, cuma ya itu 1 bijiknya lumayan mahal. 😆

  12. diaper sekali pakai, memang praktis, tetapi sebagai pecinta lingkungan, membuat sampah semakin banyak. Ini saya rasakan di pedesaan. Orang dengan mudah membuang diaper. Bahkan pernah melihat di pantai. Setuju untuk menggunakan diaper yang ramah lingkungan. semoga bisa diterapkan untuk dedek bayi nanti.

  13. Ada konsekuensi dari kepraktisan diapers yah. Limbahnya merusak lingkungan.
    Bagus nih infonya, bahwa ternyata malah bisa jadi pupuk yah…
    Tapi harus rajin uy…

  14. Alhamdulillah anak saya pakai diaper gak sampai setahun. Itupun jarang2. Sayang lingkungannya kalau pakai diaper. Tapi juga butuh kalau pas keluar gitu. Jadi pakainya pas mau keluar rumah aja

  15. Cloth diapers lebih aman ya, mbak. Tapi saat anak² bayi aku belum sempet mencoba ini. Karena aku sambil kerja bawa anak², rada repot juga kalau pakai cloth diapers. Terima kasih untuk sharingnya, mbak 😊

  16. wkt anak2ku masih pake popok, aku jujurnya milih disposable diaper dr mereka pertama lahir. alasanku sbnrnya, supaya babysitterku ga capek utk nyuciin popok tiap saat, dan supaya ga ush sering2 ganti popok. jd kan asistenku jg bisa istirahat. makanya wkt itu kita putusin pake pospak supaya babysitterku ttp fokus ama anak2 dan ga capek.

    dan aku br tau mba kalo isian dlm pospak bisa berguna utk media tanam. berarti sama juga kayak pembalut yaaa.. kan butiran dlmnya jg pengikat air.. bagus juga sih kalo bisa dimanfaatin seperti itu

  17. Hal yang saya ga suka dari disposable diaper ya limbahnya. Sering merasa berdosa aja gitu sumbang limbah kek gini dan belum bisa recycle sendiri. Paling banter dikubur di kebon belakang berharap terurai sendiri.
    Paling enak sih pake clodi ya walau lebih mahal di awal tapi kepake terus. Makasih mbak tulisannya.

  18. Alhamdulillah saat anak kedua lahir saya mantap memakai clodi. Anaknya nyaman. tetep keren. dan yang terpenting tidak merasa bersalah karena kalau pakai pospak yang dipasaran itu kan kurang baik ke kesehatan anak dan beratus tahun belum tentu terurai. Saya juga malah sekarang ikutan pakai menspad. Alhamdulillah juga nyaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!