Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
inspirasi

Pesantren Almawaddah: Konsep Pesantren Berbasis Kewirausahaan

Oktober 5, 2018

Holla readers, lama nih udah enggak bersua di blog. Doakan semoga makin istiqomah dan konsisten ya untuk berbagi di sini. Meski tak seberapa, semoga bermanfaat sebagai mana motto hidup saya “menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama walaupun cuma satu orang.

Sedikit cerita, oleh-oleh dari kegiatan outbond anak  beberapa waktu lalu di pesantren Almawadah. Ini merupakan kegiatan outbound anak saya di paud. Ih, apa menariknya kegiatan anak paud. Paling ya cuma main-main gitu. Iya, betul kegiatannya memang sederhana, layaknya kegiatan outbond untuk anak paud lainnya. Tapi jangan salah, ada satu konsep  menarik yang dibangun sang pemilik di area outbond mereka. Saya lebih suka menyebut tempat ini dengan sebutan pesantren Almawaddah karena area outbond ini memang terletak di sana.

Pertama kali memasuki pesantren ini, saya langsung berpikir, “Ah, besuk Una (anak saya) mau saya pondokin di sini.” enggak tahu kenapa tiba-tiba saya merasa cocok banget dengan pesantren ini. Nah, untuk melampiaskan keingintahuan dan kekepoan, saya bertanya pada salah satu santri. “Mbak, yang mondok atau nyantri di sini mulai usia berapa?”

“Usia anak kuliahan, Bu.” Jawabnya singkat. Saya agak terkejut dengan jawaban si Mbak.

“Loh, kenapa? Emang enggak ada untuk anak kecil usia setelah lulus SD ya, Mbak?” Tanyaku balik.

“Enggak bu. Di pesantren ini dikhususkan untuk mereka yang usia kuliahan. Diharapkan dengan rentang usia itu, anak akan dibimbing untuk belajar mandiri dan mampu menghidupi diri mereka sendiri.” Jelas salah satu mbak santri.

“Bagus!” Pikirku dalam hati. Tapi sayang una belum bisa ikutan dan bergabung dengan santri ponpes ini. Ya iya lah ya, orang anakku masih paud. Hehehe.. tapi setidaknya bisa jadi sumber referensi lah untuk sarana pendidikan anak.

konsep outbound anak

Menurut saya pribadi konsep yang diusung pesantren ini cukup unik dan berbeda dengan pesantren-pesantren lainnya. Kalau kebanyakan pesantren dan sekolah swasta di desa masih mengandalkan biaya dari wali murid atau wali santri, lain halnya dengan pesantren yang satu ini.

Pesantren Al-Mawaddah yang terletak di desa Honggosoco, Jekula kabupaten kudus ini merupakan pesantren mandiri yang berbasis kewirausahaan. Pendirinya sendiri, bapak KH. Sofiyan Hadi, Lc. MA dan ibu Hj. Khadijah telah berhasil mengembangkan tiga aspek penting yaitu intelektual spiritualitas, enterpreneur, dan leadership di dalam pesantrennya.  Jadi para santri  tak hanya dididik dalam rangka intelektual spriritualitasnya saja akan tetapi juga dilatih dalam hal kepemimpinan dan kewirausahaan. Sehingga mereka mandiri dalam mengurus kebutuhan diri dan memenuhi biaya hidup mereka sendiri.

foto bareng ibu Hj. Khadijah

Konsep yang diusung pesantren yang satu ini adalah argo dan eduwisata untuk mengembangkan potensi daerah dan masyarakat sekitar, serta para santri pada khususnya. Mereka membudidayakan lele, padi, pohon ketela, kebun buah naga, dan kebun sayur hidroponik. Sedangkan untuk eduwisata, mereka menyediakan fasilitas outbound. Ada flying fox khusus anak, area pra karya, area taman, dan ada juga area fish spa. Cocok untuk orang tua sambil menunggu anak bermain di area outbound bersama kakak-kakak pendamping.

bermain tangkap ikan

Untuk hasil pertanian seperti ketela pohon akan diolah menjadi tepung mocaf atau keripik telo yang dipasarkan di daerah sekitar kudus. Buah naga diolah menjadi sirup dan keripik. Selain itu saya juga melihat ada beberapa mainan tradisional yang dijajankan di sana. Kemungkinan besar adalah hasil karya para santri setempat.

Ada satu yang menarik perhatian saya. Ketika anak-anak digiring untuk mengikuti kegiatan outbound, kami  para orang tua diminta untuk meninggalkan sang anak dan berkumpul di aula pesantren. Oh, ternyata tak hanya anak yang diajak bermain sambil belajar. Kami, orang tua pun demikian adanya. Kami diajak untuk mengikuti kelas parenting. Ide bagus dan kegiatannya oke. Enggak hanya anak saja yang dapat ilmu, orang tua pun mendapatkannya juga.

melukis celengan

Selain kegiatan edukatifnya kala itu adalah anak diminta untuk melukis celengan yang terbuat dari tanah. Dengan kreasi mereka sendiri dan setelah jadi boleh dibawa pulang. Alhamdulillah, anak diajari menabung dan mengelola keuangannya sendiri dengan konsep yang sederhana.

Hmmm, saya jadi iri. Semoga kelak saya punya sanggar belajar yang punya konsep demikian adanya. Aamiin…

  1. Wah..keren ini tempatnya untuk outbond. Selain anaknya bisa belajar, Ibunya pun jadi tambah pintar.

    Kalau ponpes yang mandiri begini, bisa mendidik santri untuk menjadi wirausaha nanti..Bagus untuk bekal di kemudian hari, ya Mbak Roik:)

  2. Woow…keren ya. Anak2 perlu sejak.kecil.diajarkan hal seperti itu, tp tentunya harus kontinyu & berkesinambungan agar pd masanya dapat mandiri & membuka.lapangan pekerjaan. Sukses terus ya Mba dlm mendidik anak2

  3. Keren nih pesantrennya. Zaman sekarang harus mampu bersaing dan berani berwirausaha. Apalagi ada internet, bisa bikin start up bisnis deh.
    Semoga semakin maju pesantren Al-Mawaddah.

  4. Kalau usia anak sudah kuliahan mungkin lebih masuk ya, konsep mandiri dan entrepreneurshipnya. tapi bisa juga nih, dikembangkan ke anak SMA. Jadi lebih awal dipersiapkan untuk kehidupan.

  5. Wah bagus nih…makasih mba sharingnya..jadi alternatif sekolah. Dan memang wirausaha sangat dibutuhkan ke depannya agar anak mandiri finansial

  6. Konsep pesantrennya bagus ya, Mbak. Unik dan kreatif pastinya. Beda dengan pesantren-pesantren yang aku lihat selama ini. Kalau konsepnya seperti ini memang lebih cocok untuk anak-anak usia kuliah ya, karena memang tujuannya membangun jiwa enterpreneur dalam diri anak. Keren banget deh, semoga lembaga pendidikan lainnya memiliki pola pikir yang sama sehingga semakin banyak anak muda yang mandiri dan masa depan negara kita lebih cerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!