Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
parenting

Di Sini Ku Belajar Komunikasi Produktif

September 27, 2018

Beberapa hari lalu kami sekeluarga sempat mengikuti wisata edukatif bersama sanggar sains di Kudus. Agendanya adalah melihat-lihat ke peternakan sapi perah sebagai edukasi untuk anak dan membuat terrarium untuk  orang tua yang mendampingi. Sama dengan kegiatan edukasi lainnya,  kami diajak melihat tempat pembuatan biogas yang memanfaatkan kotoran sapi. Selain itu kami juga memberi makan  dan memerah susu sapi secara langsung. Tentunya hal ini tak lepas dari pendampingan.

Ada satu hal yang menarik perhatianku dalam kegiatan ini. Peserta acara wisata edukasi melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus. Sekilas mereka nampak biasa, tapi kebanyakan  adalah anak autis dan keterbelakangan mental. Ada yang jelas terlihat dari fisiknya, ada juga yang tidak. Layaknya anak normal sebagaimana mestinya.

Di sinilah moment yang kurasa tepat untuk menjelaskan dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada pada anak. Mengenalkan sifat simpati, empati, dan syukur pada anak. Bersyukur karena telah diberi fisik yang sempurna sama Allah, dijadikan sosok pribadi yang sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menghargai mereka secara utuh tanpa harus merendahkan diri orang lain.

Di sini pula aku mendapatkan moment yang pas dan alami untuk melakukan tantangan bunsay tentang komunikasi produktif pada anak, khususnya dalam ranah pengendalian emosi. Jangan kira hal ini gampang. Mengajarkan pengelolaan emosi pada anak tak semudah yang dibayangkan. Kita saja yang notabene sudah dewasa dan berstatus orang tua saja masih kesulitan mengelola emosi, apalagi anak-anak.

Kebetulan di tempat pemerahan sapi kemarin, terdapat bazar mainan anak. Sontak saja anakku, Una langsung merengek minta dibelikan mainan. Awalnya satu dua, masih bisa  menahan. Akan tetapi, lama kelamaan rengekan itu semakin keras dan tak mampu lagi ditahan. Menghadapi anak yang merengek sambil menangis dihadapan banyak orang tentu menjadi tantangan tersendiri.

Malu? Iya, karena ini sikap alami yang muncul dan manusiawi. Namun, sebagai Ibu aku hanya ingin berbuat yang terbaik untuknya. Mencoba menenangkan dan mengalihkan perhatiannya pada mainan tersebut. Ku ajak Ia menjauh dari lingkungan dan mengalihkannya untuk memberi makan sapi. Mendengarkan penjelasan dari sang pemandu. Oh gini loh cara memberi sapi makan, cara sapi makan, dan jenis makanan sapi. Saat itu sapi lagi diberi makan kulit jagung mentah.

Memang sih tak lantas membuatnya menangis dan meminta mainan. Tetapi setidaknya bisa mengalihkan perhatiannya dari mainan tersebut. Berkali-kali ku bujuk dan mengajaknya bermain. Menemaniku membuat terrarium, bermain game dengan anak-anak disabilitas, dan minum susu menjadi rongga tersendiri buat dia untuk sedikit melupakan dari meminta mainan.

Akhirnya gimana? Ya tetap saja. Tiap permainan selesai, dia ingat lagi tuh sama keinginannya. Hingga dipenghujung acara, tetap meminta dibelikan mainan. Sebenarnya tak mengapa dia meminta mainan. Namun, kami berusaha untuk menanamkan pada anak kalau ingin membeli barang yang bener-bener tidak urgent, ya harus menabung terlebih dahulu. Semacam ingin membeli mainan.

Akhirnya setelah acara selesai, aku mengajaknya pulang. Meski masih meninggalkan rengekan dan diperjalanan justru semakin keras, hehehe. Kali ini ditambah dengan ngedumel. Tak apalah karena ini bagian dari proses. Aku berusaha menerima kemarahannya, kekecewaannya sambil ku peluk dan mengusap kepalanya. Lama kelamaan ia kelihatan mengantuk dan aku pun terus mengusap kepalanya. Meminta maaf dan berusaha menjelaskan kenapa tidak langsung memberikannya mainan. Dalam kondisi otaknya yang alpha ku selingi dengan nasihat-nasihat dan akhirnya tertidur.

  1. Nah, ini. Menanamkan kepada anak tentang menunda kesenangan dan belajar bersabar ya, Mbak. Anak pastinya ‘berontak’ dg menangis krn blm bisa banyak berkata2. Dan perjuangan ortu ada di sini, nih. Serunya jadi orang tua ^^

  2. Wah keren mbak pembelajarannya, menikmati setiap prosesnya, walaupun terkadang hasilnya tidak selalu sama dengan yang kita inginkan. Terima kasih sudah berbagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!