Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
buku

Inner Child: Ma, Aku Ingin Bicara

September 5, 2018

Bismillahirrahmanirrahim…

Rasanya aku tak ingin membagi, inginku pendam sendiri. Demi Allah ini aku tulis bukan untuk menyakiti apalagi mencari empati. Akan tetapi, untuk penyembuhan diri. Meski jari ini terasa sangat berat  menekan setiap huruf untuk merangkai kata, tapi tulus dari hati, ini surat cintaku untukmu, Ma. Bantu aku untuk sembuh dan bantu aku untuk mendidik cucumu lebih baik.

Jujur Ma, aku tak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Dan jujur tak pernah membayangkan sebelumnya dalam benak ini. Layaknya seorang pengantin baru pada umumnya, mungkin hanya rasa bahagia yang menyelimuti. Karena impian untuk bersatu dengan sang pujaan hati terlaksana tanpa mengerti seluk beluk kehidupan rumah tangga selanjutnya. Bagi Mama, mungki aku ini tak seperti ekspektasi yang Mama angankan. Jauh dari ekspektasi yang Mama harapkan yang tak memiliki anak perempuan dan akan memiliki anak menantu perempuan.

Ma, aku bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga besar Mama, keluarga besar anak lelakimu yang sekarang yang menjadi imamku. Tapi Ma, aku tak mengerti kenapa aku merasakan suasana dingin dari Mama dan saudara-saudara perempuan Mama. Aku hanya melihat wajah yang garang, yang menunjukkan tak kesukaan. Sikap yang dingin yang tak bisa aku tebak. Tak sedikit pun bicara padaku, tak sedikit pun memarahiku. Sayup-sayup kecil justru terdengar dari saudara-saudara perempuanmu dan orang lain.

Ma, aku ingin sekali bisa bicara denganmu, bisa mengobrol denganmu. Marahi aku jika mama marah padaku. Ingatkan aku jika aku salah, Ma. Beri tahu aku jika aku tak tahu. Mama diamkan aku tanpa aku tahu letak kesalahanku.

Jujur Ma, aku kecewa, akan perlakuan Mama. Aku sakit hati atas ucapan-ucapan Mama yang merendahkan keluargaku. Perlakuan, ucapan Mama, dan saudara-saudara perempuan Mama terhadap keluargaku sungguh menyakitiku dan kedua orang tuaku.  Aku sadar aku berasal dari keluarga yang tak punya dan bukan siapa-siapa. Perlakuanmu terhadap keluargaku di hari aqiqah cucumu sungguh membuat hatiku terluka dan pudarnya kepercayaan jika Mama kelak ikut mengasuhnya.

Ma, aku tak ingin dianggap lebih. Aku hanya ingin diperlakukan sebagai anak dan aku ingin berusaha jadi anak Mama. Aku butuh proses, jika aku tak seperti ekspektasi Mama. Aku mungkin tak bisa merubah sikap Mama ke aku. Aku hanya bisa berdoa semoga kelak sikap Mama ke aku bisa berubah.

Terima kasih dan sangat bersyukur atas karunia Allah yang telah memberikan sosok suami yang sangat pengertian dengan segala kelebihan dan kekurangannya  dalam mendampingi diri. Tanpa harus berat sebelah membelaku atau membela sang Ibunda tercinta. Sosok peneduh hati, tempatku berkeluh kesah sesama manusia. Hanya berharap dan berdoa semoga kelak Mama bisa menerimaku apa adanya.

Dan akhir-akhir ini aku tahu bahwa tidak semua kesalahan dari Mama, atas perlakuannya terhadapku. Mungkin sikapku pun turut memberikan andil, kenapa Mama bersikap demikian. Iya, aku yang tak tahu, aku yang bodoh ilmu. Aku hanya memandang dari sudut pandangku, begitu juga dengan Mama yang memperlakukannku hanya dari sudut pandangnya. Aku yang lebih muda, yang baru, harusnya lebih mengerti.

Terima kasih karena Allah sudah menjawab doaku. Mempertemukanku dengan sosok septi peni wulandani sehingga aku bisa ngangsu kawruh ilmu lebih lagi. Mengajariku bagaimana bersikap dan bertutur pada sang Mama mertua. Pemikiran-pemikiran beliau mengubah sudut pandangku dari sudut pandang Mama. Sehingga aku lebih bisa memahami pola pikir Mama.

Rasanya lega dan ringan sekali hati ini. Entah kenapa sikap Mama  sedikit demi sedkit mulai berubah. Mulai mengajakku mengobrol, sudah mau bercerita sana-sini. Sudah mau menyuruh  ini itu. Rasanya diri ini bisa berguna buat Mama itu sungguh sangat membahagiakan. Bisa membantu dan dianggap sebagai anak itu sudah cukup membuat hati ini bahagia.

Ya Allah terima kasih Engkau kabulkan doa-doaku. Aku sadar aku telah kecewa akan sikap Mama dan aku ikhlaskan. Aku sadar bahwa selama ini aku hanya ingin diperlakukan sebagai anak bukan orang asing yang masuk ke dalam keluarganya.

Ya Allah, jagalah keempat orang tuaku,

kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku

ampuni dosa mereka dan lapangkan rezeki mereka.

Ya Allah, jagalah keluarga kecilku

Taburilah dengan bunga keberkahan

Hiasi pernikahan kami dengan rahmah dan mawaddah

Giring kami menuju JannahMU.

Aamiin.

  1. Aamiin Allahumma Aamiin mba. Aku ikut terenyuh bacanya. Yang sabar ya mba setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Hanya pada Allah kita bisa meminta kepadanya agar selalu dimudahkan urusan kita. Semoga urusan mba bisa segera selesai dan mertua mba bisa baik lagi ya. Aamiin. Semangat terus mba ada Allah ✊🏻

  2. Setiap orang memang berbeda dlm menerima menantunya. Klo aku hanya melihat & mencoba memahami sang menantu. Klo dirasa ada yg kurang, saya akan membicarakan dg anak saya dulu. Biar dia yg memberi tahu. Malah saya akrab dg besan, dia yg minta tolong saya untuk menegur anaknya atau menantu saya…hehhe

  3. Setiap orang memang berbeda dlm menerima menantunya. Klo aku hanya melihat & mencoba memahami sang menantu. Klo dirasa ada yg kurang, saya akan membicarakan dg anak saya dulu. Biar dia yg memberi tahu. Malah saya akrab dg besan, dia yg minta tolong saya untuk menegur anaknya atau menantu saya…hehhe

  4. menjadi menantu memang tidak mudah ya, mbak. kita harus mampu cepat beradaptasi dengan keluarga baru yang sebenarnya ‘asing’ bagi kita. tapi semuanya kembali kepada kita mbak, aku sendiri pun sejak menikah tinggal bersama dengan mertua. awal-awalnya memang canggung, tapi aku ga menyerah untuk selalu berusaha mendekatkan diri dengan mertuaku. bantuin dia kerja, menemani dia makan dan juga menemani dia menonton. satu hal yang membuat mertuaku cepat meleleh saat itu mungkin karena perhatian yang aku berikan. dalam sehari-hari aku mengamati mertuaku, bagaimana mimik wajahnya, gestur tubuhnya. aku berusaha peka dengan semua itu. disaat dia nampak lelah atau sakit, aku tidak sungkan menawarkan diri untuk memijitnya. karena itu mungkin mbak, sampai hari ini sudah 9 tahun aku tinggal bersama mertua, dan alhamdulillah aku bisa merasakan kasih sayang yang sama darinya. semoga hubungan mbak dan mertua harmonis, ya.

  5. Wah, ibu Septi Peni Wulandani? Ikutan kelas Ibu Profesional kah, Mbak? Tulisan di atas menyentuh sekali. Pastinya ditulis dengan sepenuh hati, ya. Saya ikut mengaminkan baris-baris doa di atas. Moga senantiasa diliputi keberkahan, ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!