Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
parenting

Mendidik Sesuai Fitrah: Sudahkah Bunda Lakukan?

Mei 10, 2018

 

“Pengetahuan bukan untuk dikuasai, ia ibarat cahaya yang berpendar-pendar dalam ruang yang gelap di mana kita hanya bisa melangkah dalam bayangan pendar-pendar itu menuju kesejatian diri kita. learning is  not for learning, but learning is for being. Pendidikan juga bukan untuk melahirkan human thinking dan human doing, tetapi human being atau manusia seutuhnya (insan kamil), yang semua aspek fitrahnya tumbuh paripurna sehingga menjadi peran-peran peradaban terbaik yang menebar manfaat dan rahmat bagi semesta.”

(Ustadz Harry Santoso)

Setidaknya apa yang disampaikan ustadz Harry Santoso  di atas begitu menohok relung hati saya. Mulai berpikir kembali tentang urusan mendidik anak.  Susah kah mendidik anak? Hmm, tidak juga. lebih tepatnya susah-susah gampang. Seni mendidik anak inilah yang perlu orang tua kuasai. Salah satunya mendidik sesuai fitrah anak.

Mendidik sesuai fitrah itu bagaimana? Pertanyaan itulah yang terbesit dalam pikiran saya kala itu. Fitrah ini merupakan suatu anugerah yang sudah terinstal dalam diri manusia yang diberikan oleh Tuhan bahkan ketika masih berada di dalam kandungan. Sebagai contoh seorang anak yang akan belajar tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan kemudian berlari. Bahkan bayi yang baru terlahir pun langsung dapat menyusu sang ibu tanpa harus diberitahu caranya. Inilah yang disebut fitrah.

Fitrah anak perempuan yang bermain boneka, mengenakan baju wanita, menyukai mainan masak-masakan. Begitu pula halnya dengan anak laki-laki yang hobi beli mainan mobil-mobilan dan sebagaimana mestinya. Kurang lebihnya seperti itulah saya memaknainya.

Sedangkan menurut wikipedia fitrah adalah sesuatu yang netral pada jiwa dan tidak terikat serta terpasung oleh keinginan dan keperluan duniawi dan berlapang dada serta jiwa yang tentram dan tenang. fitrah hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan Penciptanya. Jiwa yang tidak terikat oleh harta benda duniawi dan yang meninggalkan penyakit jiwa (Iri, dengki, kecemburuan sosial, hasut, sombong, ria, dan pelit).

Sejatinya dalam setiap diri anak mempunyai fitrah termasuk fitrah belajar. Namun, terkadang kita lupa dan lalai dalam mendidik sehingga mematikan fitrah belajar anak. Perlu dipahami bahwa ada beberapa kebiasaan di masyarakat kita yang justru mengubur fitrah belajar anak. Padahal sejatinya tidak ada anak yang tak punya fitrah belajar. Semua anak adalah pembelajar yang ulung dan kreatif, limited edition dan mereka mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar.

Hal apa saja yang mengubur gairah dan hasrat belajar anak?

Wuiih…jangan tanya, banyak banget. Salah satunya terlalu protect sama anak. Lah kok bisa? Ya bisa saja. Simak yuk pemaparannya.

  • Terlalu menyetir proses belajar.

Setiap orang tua tentunya menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi buah hati. Namun, terkadang saking menginginkan hal itu orang tua jadi protect dan terlalu menyetir proses belajar anak tanpa mengindahkan keinginannya. Kita sebagai orang tua, harus memahami bahwa anak mempunyai gaya belajar tersendiri, punya minat yang membuatnya berbinar-binar, dan tentunya bakat.

Jadi teringat akan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai zamannya.” Boleh saja kita memiliki raga anak, tapi jiwa anak adalah milik zamannya. Efek dari cara mendidik yang terlalu menyetir ini akan melumpuhkan daya kreatifitas anak.

  • Pendidik terlalu Memanjakan

Fenomena ini sering saya temui, entah pada orang tua, guru, dan tentor belajar. Meski tidak semuanya namun, pendidik yang notabene-nya pendamping belajar beralih fungsi sebagai penjawab soal. Anak sering belajar kelompok bareng atau mengikuti bimbel sekadar untuk mendapat jawaban soal tanpa mau berpikir bagaimana cara mengerjakan soal tersebut.

Ditambah lagi arus budaya yang telah menggiring pendidik pada pola pikir instan. Menyarikan setiap materi yang ada, sehingga kemampuan anak untuk menemukan inti sari atau ide yang terkandung di dalamnya kurang terasah.

  • Buku pelajaran yang bikin gagal fokus

Konsep penyajian buku yang kering, kurang mampu untuk menggugah ide kreatif anak. Sekadar dumbed down atau picisan. Anak pun lebih tertarik membaca buku jenis lain dan malas untuk membaca buku pelajaran (text book).

  • Senjata kompetisi dan rasa takut berlebih

Tak jarang lho, pendidik dan orang tua menggunakan senjata ini. Kompetisi, di satu sisi memang bagus untuk meningkatkan dan memacu anak untuk lebih giat dan berprestasi. Namun, ada kalanya dalam kondisi tertentu anak bisa menjadi tertekan dan takut. Lupa mengerjakan tugas atau tidak mengerjakan tugas, anak langsung heboh, menangis, dan ketakutan sendiri. Ada lho tipikal anak seperti ini.

Metode mendidik sesuai fitrah anak yang patut dicoba.

Kalau kita sudah bisa memahami faktor apa saja yang bisa mengubur fitrah belajar anak, maka cara mendidik atau metode mendidik sesuai fitrah ini pun wajib kita ketahui. Ada beberapa cara yang bisa dicoba, salah satunya:

  1. Memotivasi belajar anak dengan kisah ulama dan ilmuwan

Fitrah belajar, berpikir, dan bernalar sejatinya berkembang pesat ketika anak berusia 7-12 tahun. Masa- masa inilah bagus untuk mengenalkan kisah nabi, ulama ataupun ilmuwan. Bisa mengambil hikmah dari setiap kisah, berpikir mana yang bisa diteladani.  Meningkatkan kemampuan bernalar. Orang tua pun bisa menceritakan perjuangan Imam-Imam besar dalam mencari ilmu. Setidaknya dengan seperti itu anak akan semakin termotivasi untuk belajar tanpa paksaan dan tekanan. Perasaan butuh belajar akan datang dari dirinya sendiri, bukan karena orang lain.

  1. Me time bersama buah hati

Luangkan waktu entah beberapa jam atau menit untuk sekadar menemani dan mendampingi anak. Terutama saat mereka belajar. Orang tua juga bisa membuat learning project bersama anak-anak dan didokumentasikan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai  home education project’s. Jadi terdapat kurikulum keluarga untuk anak bahkan untuk seluruh anggota keluarga.

  1. Menemukan insight learning

Satu lagi yang enggak kalah penting. Menemukan insigh learning atau hikmah pelajaran yang bisa diambil dari setiap apa yang kita pelajari. Orang tua dan anak bisa melakukan tea-time atau meluangkan waktu untuk bincang-bincang tentang insight learning  apa yang didapat.

  1. Sediakan sumber ilmu di rumah.

Penting bagi saya untuk menyediakan dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan sumber belajar yang mudah. Salah satunya buku bacaan di rumah. Membuat perpustakan mini di rumah menjadi salah satu misi utama keluarga. Bacaan yang berkualitas akan membantu diri anak dalam mengembangkan potensinya. Selain itu juga bertujuan untuk menciptakan habit baca di lingkungan keluarga.

Itulah beberapa metode mendidik sesuai fitrah yang bisa Bunda coba. Dengan mendidik anak sesuai fitrah bukan tidak mungkin jika anak jadi lebih mudah untuk diarahkan. Berharap dengan ini semua mampu membentuk generasi cerdas dan unggul dari rumah.

  1. Aku kalau selesai baca tulisan parenting suka merasa bersalah, heuheuu.. pas baca kayanya udah berazzam banget mau nerapin. Tapi pas ngadepin anak kadang kelepasan juga, heuheuu. Terima kasih ya mba aku butuh banyak tulisan seperti ini.

  2. Insight learning, ini bagus banget Mbak Roik 😍

    Me time sama anak ini yang setiap hari yaa, kadang-kadang butuh variasi metode mendidiknya 😘

  3. Iya memang mba..beberapa orang tua mengikutkan les anak anaknya untuk sekedar bisa menjawab soal soal ulangan dan ujian.akibatnya anak kurang bisa belajar secara mandiri

  4. Mendidik sesuai fitrah, wah ulasan yang bermanfaat Mbak…
    Seringkali saya lupa untuk membahas apa yang pernah dipelajari anak-anak dari sisi hikmah.
    Terima kasih sudah diingatkan pentingnya hal ini:)

  5. untuk urusan mendidik anak, aku banyak belajar dari mamahku, beliau punya 6 anak (aku sulung) dengan rentang jarak usia yg cukup jauh … asiknya mamah enak diajak diskusi soal parenting, intinya kami nyambung banget

  6. Bener banget nih mak, kisah ilmuwan dan ulama bagus banget utk disampaikan ke anak. Lagi berusaha menumbuhkan keingintahuan anak lelakiku nih mak, beda dengan kakak perempuannya yang hobi banget baca soalnya. Kudu pelan2 dan sabar membacakannya terlebih dahulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!