inspirasi

The Ramadhan Project untuk Ramadhan Terakhirku

By on Mei 17, 2018

“Marhaban ya ramadhan, marhaban ya ramadhan. Setiap ramadhan yang datang padaku adalah ramadhan terakhir.”

(Roikhatuz Zahro)

Pelecut diri! Kalimat itu selalu tertanam dibenakku dan menjadi mood booster ketika ramadhan datang. Bagiku setiap ramadhan adalah ramadhan terakhir. Karena aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa menginjakkan kaki di dunia ini. Setidaknya “Ning dunyo mung mampir sedelok” menjadi  wejangan yang paling kuingat baik suka maupun duka ketika melanda. Sebagai “Tombo ati” untuk selalu bersyukur atas nikmatnya.

Ramadhan kali ini agaknya sedikit berbeda karena disambut dengan berbagai kerusuhan yang melanda negeri. Turut berduka atas tragedi bom yang menimpa saudara di surabaya dan sidoarjo. semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Terlepas dari segala asumsi tentang Islam, bagiku menjadi muslimah adalah anugerah dan nikmat tersendiri. Beriman dan menjalani rukun Islam berpuasa di bulan ramadhan yang penuh rahmat.

Berbagi, berserah, dan meningkatkan kapasitas diri merupakan arti ramadhan kali ini. Menjadi tujuan dan goal setting dalam ramadhan project yang telah aku susun. Setidaknya dengan membuat ramadhan project, dalam menjalani ibadah puasa akan lebih terarah dan mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai. Hal seperti inilah yang juga aku lakukan di tahun-tahun sebelumnya.

 

Jika dulu hanya mentarget khatam 30 juzz dalam satu bulan, maka ramadhan project kali ini berbeda. Tentu ada banyak hal yang ingin dicapai demi meningkatkan kapasitas diri. Salah satunya punya target khatam 30 juzz dalam 15 hari, membiasakan tahajud penuh selama ramadhan, odop, dan minum air putih minimal 2 liter sehari, heheheh…mungkin kedengarannya gimana gitu ya. tapi itulah ramadhan project-ku yang gue banget.

Nah, kamu pun bisa mencobanya dengan versimu sendiri sesuai dengan kepentingan. Jadi kalau ditanya misal neh, jika ramadhan ini ramadhan terakhir, apa yang akan kamu lakukan? Ya, biasa saja. Karena setiap ramadhan yang datang ya ramadhan terakhir. Yang jelas bagaimana kita mampu memanfaatkan ramadhan yang datang dengan sebaik-baiknya. Istilah kerennya berlomba-lomba dalam mencari kebaikan. Kalau bisa sih enggak hanya di bulan ramadhan saja. Hanya saja kapasitasnya ditambah di bulan yang penuh berkah ini.

So, buatlah ramadhan project yang loe banget dan gue banget. Ini juga bisa diterapkan untuk anak-anak dalam berlatih berpuasa. Pada intinya ramadhan project dibuat untuk mengubah diri kita ke arah yang lebih baik. Semisal neh aku memasukkan pembiasaan tahajud, one day one post, dan minum air putih minimal 2 liter, tak lain karena ada tujuan dibalik itu semua yang ingin kucapai.

Pertama, one day one post, bertujuan untuk melatih konsistensi dalam menulis dan goal jangka panjangnya adalah memperoleh kebiasaan menulis tanpa beban. Banyak komunitas yang menyelenggarakan odop ini. Bergabung dengan komunitas seperti ini akan menjaga semangat kita untuk mendapatkan dan mencapai kebiasaan baru itu. Syukur-syukur bisa mempertahankannya ya, sebab meraih itu lebih mudah daripada mempertahankan. Hehehe

Kedua, minum air putih sebanyak 2 liter sehari. Kelihatan sepele dan gampang ya, wong tiap hari juga kita minum air putih. Iya, gampang itu buat kamu dan susah buat aku yang sering lupa untuk minum. Sebenarnya membiasakan minum air putih bertujuan untuk menjaga kesehatan. Karena kata bang Ippo Santoso dalam bukunya “Percepatan rezeki” air ini merupakan rahasia terbesar dalam menjaga kesehatan. Kenapa oh kenapa?

Karena pada dasarnya tubuh manusia itu terdiri dari komposisi air yang jauh lebih besar. Dan partikel air mampu membentuk kristal yang begitu indah tatkala ditaburi dengan syukur dan cinta. Dan jika kamu ingin sehat, cepat sembuh maka perbanyaklah bersyukur. Bersyukur atas kesehatan yang telah diberi dan jangan lupa tetap berdoa meminta kesembuhan.

Ingatkan sabda Nabi Muhammad Saw bahwa sebaik-baiknya air adalah air zam-zam. Di dalamnya terdapat obat bagi yang sakit dan makanan bagi yang lapar. Kalau tak punya air zam-zam bisa menggunakan air putih biasa dengan dibacakan basmallah dan alfatihah.

Ketiga, membiasakan tahajud. Ini merupakan rahasia besar pertama untuk sehat. Ingin sehat? Rutinkan tahajud. Bagaimana cara kerja salat tahajud kok bisa menyehatkan? Hmmm…masih bersumber dalam bukunya Ippo Santoso “Percepatan Rezeki” dikatakan bahwa salat tahajud dapat menstabilkan hormon melatonin. Saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan menghasilkan hormon melatonin dalam jumlah besar. Puncaknya pada pukul 02.00-03.00 dini hari. That’s tahajud time!

 Nah, salat tahajud dapat menstabilkan hormon melatonin sehingga membantu terbentuknya sisem kekebalan tubuh, membatasi pemicu-pemicu tumor seperti esterogen, dan menghasilkan turunan asam amino trytophan, salah satu penyusun protein.

baca juga: sudahkah pekerjaan Anda membawa berkah

Selain itu salat tahajud juga membantu ketahanan tubuh, mengurangi nyeri pada pasien pengidap kanker, dan mengendalikan hormon kortisol sehingga mengurangi stress. Banyak kan manfaat salat tahajud. Itulah alasan aku mengapa shalat tahajud menjadi salah satu my ramadhan project.

Terus bagaimana dengan ramadhan project versimu? Dah buat belum? Hmm…kalau masih bingung menentukan ramadhan project, di luar sana banyak kok yang mengadakan. Kamu bisa ikutan ramadhan project yang mereka buat dan memodifikasinya dalam versimu. Sekian semoga bermanfaat.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam postingan tematik blogger muslimah indonesia

#PostinganTematik #PosTemSpesialRamadan #bloggermuslimahindonesia

 

Continue Reading

parenting

Mendidik Sesuai Fitrah: Sudahkah Bunda Lakukan?

By on Mei 10, 2018

 

“Pengetahuan bukan untuk dikuasai, ia ibarat cahaya yang berpendar-pendar dalam ruang yang gelap di mana kita hanya bisa melangkah dalam bayangan pendar-pendar itu menuju kesejatian diri kita. learning is  not for learning, but learning is for being. Pendidikan juga bukan untuk melahirkan human thinking dan human doing, tetapi human being atau manusia seutuhnya (insan kamil), yang semua aspek fitrahnya tumbuh paripurna sehingga menjadi peran-peran peradaban terbaik yang menebar manfaat dan rahmat bagi semesta.”

(Ustadz Harry Santoso)

Setidaknya apa yang disampaikan ustadz Harry Santoso  di atas begitu menohok relung hati saya. Mulai berpikir kembali tentang urusan mendidik anak.  Susah kah mendidik anak? Hmm, tidak juga. lebih tepatnya susah-susah gampang. Seni mendidik anak inilah yang perlu orang tua kuasai. Salah satunya mendidik sesuai fitrah anak.

Mendidik sesuai fitrah itu bagaimana? Pertanyaan itulah yang terbesit dalam pikiran saya kala itu. Fitrah ini merupakan suatu anugerah yang sudah terinstal dalam diri manusia yang diberikan oleh Tuhan bahkan ketika masih berada di dalam kandungan. Sebagai contoh seorang anak yang akan belajar tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan kemudian berlari. Bahkan bayi yang baru terlahir pun langsung dapat menyusu sang ibu tanpa harus diberitahu caranya. Inilah yang disebut fitrah.

Fitrah anak perempuan yang bermain boneka, mengenakan baju wanita, menyukai mainan masak-masakan. Begitu pula halnya dengan anak laki-laki yang hobi beli mainan mobil-mobilan dan sebagaimana mestinya. Kurang lebihnya seperti itulah saya memaknainya.

Sedangkan menurut wikipedia fitrah adalah sesuatu yang netral pada jiwa dan tidak terikat serta terpasung oleh keinginan dan keperluan duniawi dan berlapang dada serta jiwa yang tentram dan tenang. fitrah hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan Penciptanya. Jiwa yang tidak terikat oleh harta benda duniawi dan yang meninggalkan penyakit jiwa (Iri, dengki, kecemburuan sosial, hasut, sombong, ria, dan pelit).

Sejatinya dalam setiap diri anak mempunyai fitrah termasuk fitrah belajar. Namun, terkadang kita lupa dan lalai dalam mendidik sehingga mematikan fitrah belajar anak. Perlu dipahami bahwa ada beberapa kebiasaan di masyarakat kita yang justru mengubur fitrah belajar anak. Padahal sejatinya tidak ada anak yang tak punya fitrah belajar. Semua anak adalah pembelajar yang ulung dan kreatif, limited edition dan mereka mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar.

Hal apa saja yang mengubur gairah dan hasrat belajar anak?

Wuiih…jangan tanya, banyak banget. Salah satunya terlalu protect sama anak. Lah kok bisa? Ya bisa saja. Simak yuk pemaparannya.

  • Terlalu menyetir proses belajar.

Setiap orang tua tentunya menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi buah hati. Namun, terkadang saking menginginkan hal itu orang tua jadi protect dan terlalu menyetir proses belajar anak tanpa mengindahkan keinginannya. Kita sebagai orang tua, harus memahami bahwa anak mempunyai gaya belajar tersendiri, punya minat yang membuatnya berbinar-binar, dan tentunya bakat.

Jadi teringat akan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai zamannya.” Boleh saja kita memiliki raga anak, tapi jiwa anak adalah milik zamannya. Efek dari cara mendidik yang terlalu menyetir ini akan melumpuhkan daya kreatifitas anak.

  • Pendidik terlalu Memanjakan

Fenomena ini sering saya temui, entah pada orang tua, guru, dan tentor belajar. Meski tidak semuanya namun, pendidik yang notabene-nya pendamping belajar beralih fungsi sebagai penjawab soal. Anak sering belajar kelompok bareng atau mengikuti bimbel sekadar untuk mendapat jawaban soal tanpa mau berpikir bagaimana cara mengerjakan soal tersebut.

Ditambah lagi arus budaya yang telah menggiring pendidik pada pola pikir instan. Menyarikan setiap materi yang ada, sehingga kemampuan anak untuk menemukan inti sari atau ide yang terkandung di dalamnya kurang terasah.

  • Buku pelajaran yang bikin gagal fokus

Konsep penyajian buku yang kering, kurang mampu untuk menggugah ide kreatif anak. Sekadar dumbed down atau picisan. Anak pun lebih tertarik membaca buku jenis lain dan malas untuk membaca buku pelajaran (text book).

  • Senjata kompetisi dan rasa takut berlebih

Tak jarang lho, pendidik dan orang tua menggunakan senjata ini. Kompetisi, di satu sisi memang bagus untuk meningkatkan dan memacu anak untuk lebih giat dan berprestasi. Namun, ada kalanya dalam kondisi tertentu anak bisa menjadi tertekan dan takut. Lupa mengerjakan tugas atau tidak mengerjakan tugas, anak langsung heboh, menangis, dan ketakutan sendiri. Ada lho tipikal anak seperti ini.

Metode mendidik sesuai fitrah anak yang patut dicoba.

Kalau kita sudah bisa memahami faktor apa saja yang bisa mengubur fitrah belajar anak, maka cara mendidik atau metode mendidik sesuai fitrah ini pun wajib kita ketahui. Ada beberapa cara yang bisa dicoba, salah satunya:

  1. Memotivasi belajar anak dengan kisah ulama dan ilmuwan

Fitrah belajar, berpikir, dan bernalar sejatinya berkembang pesat ketika anak berusia 7-12 tahun. Masa- masa inilah bagus untuk mengenalkan kisah nabi, ulama ataupun ilmuwan. Bisa mengambil hikmah dari setiap kisah, berpikir mana yang bisa diteladani.  Meningkatkan kemampuan bernalar. Orang tua pun bisa menceritakan perjuangan Imam-Imam besar dalam mencari ilmu. Setidaknya dengan seperti itu anak akan semakin termotivasi untuk belajar tanpa paksaan dan tekanan. Perasaan butuh belajar akan datang dari dirinya sendiri, bukan karena orang lain.

  1. Me time bersama buah hati

Luangkan waktu entah beberapa jam atau menit untuk sekadar menemani dan mendampingi anak. Terutama saat mereka belajar. Orang tua juga bisa membuat learning project bersama anak-anak dan didokumentasikan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai  home education project’s. Jadi terdapat kurikulum keluarga untuk anak bahkan untuk seluruh anggota keluarga.

  1. Menemukan insight learning

Satu lagi yang enggak kalah penting. Menemukan insigh learning atau hikmah pelajaran yang bisa diambil dari setiap apa yang kita pelajari. Orang tua dan anak bisa melakukan tea-time atau meluangkan waktu untuk bincang-bincang tentang insight learning  apa yang didapat.

  1. Sediakan sumber ilmu di rumah.

Penting bagi saya untuk menyediakan dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan sumber belajar yang mudah. Salah satunya buku bacaan di rumah. Membuat perpustakan mini di rumah menjadi salah satu misi utama keluarga. Bacaan yang berkualitas akan membantu diri anak dalam mengembangkan potensinya. Selain itu juga bertujuan untuk menciptakan habit baca di lingkungan keluarga.

Itulah beberapa metode mendidik sesuai fitrah yang bisa Bunda coba. Dengan mendidik anak sesuai fitrah bukan tidak mungkin jika anak jadi lebih mudah untuk diarahkan. Berharap dengan ini semua mampu membentuk generasi cerdas dan unggul dari rumah.

Continue Reading