cerita anak

Cemara Kembar yang Ditebang

By on April 17, 2018

 

“Berhenti!!! Apa yang kalian lakukan?” teriak si Adit ketika melihat sekawanan orang berpakaian lengkap dengan peralatan gergaji yang mencoba mendekati pohon kesayangannya itu.

“Hai, ada apa Nak? Kenapa kamu teriak-teriak?” tanya salah satu orang dari mereka.

“Kalian mau apa? Kenapa kalian membawa peralatan gergaji? Apa kalian mau menebang pohon ini?” tanya Adit.

“Iya, kamu benar Nak.” Sahut meraka.

“ Tak boleh! Kalian tak boleh menebang pohon ini!” jawab Adit garang.

Adit memang sayang pada kedua pohon Cemara ini. Di mata Adit kedua pohon ini mempunyai cerita dan kenangan tersendiri bagi hidupnya. Sejak kecil, ia tumbuh dan besar di bawah naungan pohon Cemara ini.

Iya,  di bawah pohon inilah sang ibu mencari nafkah untuk menghidupinya. Ibu punya warung kecil di bawah pohon yang rindang ini. Kedua pohon ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat sekitar. Dua buah pohon Cemara yang besar dan rindang, meneduhi jalanan Jepara yang terik dan memberi kesejukkan disekitarnya.

Masyarakat sekitar sering menyebut kedua pohon ini dengan sebutan Cemara kembar. Di bawah  kedua pohon Cemara  banyak sekali warung yang menjajakan beranekaragam makanan. Dan tempat ini terkenal sebagai tempat berteduh bagi para pelancong yang ingin beristirahat sejenak dari perjalanan mereka. Sejuk dan banyak warung membuat tempat ini asyik untuk sekadar tempat nongkrong atau istirahat.

Itulah mengapa Adit begitu marah ketika mendengar dan melihat kedua pohon cemara akan ditebang. Dia merasa tak rela, tak ingin kehilangan tempat yang sedemikian sejuknya, tak ingin kehilangan kedua pohon kesayangan yang telah menemani hidupnya sekian lama.

Dari kaca mata Adit, memang benar adanya. Siapa yang rela kehilangan tempat seperti itu. Suatu tempat yang sudah mulai jarang ditemui di Jepara. Yang ada hanyalah bangunan pabrik-pabrik yang mulai bertumbuhan. Sedih rasanya, tempat yang penuh kenangan harus menghilang dan  kehilangan pohon kesayangan.

Namun, melihat dari satu sisi pun akan menimbulkan ketimpangan. Tentu, pemerintah punya alasan tersendiri kenapa harus menebang kedua pohon rindang itu yang tumbuh di pinggir jalanan kota.

Ya, kedua pohon cemara kembar memang besar dan sangat rindang. Memberi kesejukkan di tengah jalanan kota yang panas dan berpolusi. Akan tetapi, pohon ini sudah cukup tua dan berbahaya bagi pengguna jalan disaat musim penghujan tiba. Itulah sebabnya pemerintah mengirimkan beberapa orang untuk menebang pohon Cemara kembar. Alasan inilah yang belum dipahami oleh Adit.

“Nak, kami diminta oleh Bapak pemerintah daerah untuk  menebang pohon ini. Kalau kau sayang, kami juga menyayangkan. Karena pohon ini begitu indah, rindang dan dijadikan banyak orang untuk berteduh.” jawab salah satu Bapak yang mencoba menjelaskan.

“ Pohon ini sudah terlalu tua dan akan berbahaya jika musim penghujan tiba. Karena rawan tumbang dan bisa mencelakakan banyak orang. Kami menebang, kami juga akan menggantikan. Mati satu tumbuh seribu.” lanjut Bapak tadi menjelaskan dan memberi pengertian ke Adit.

Dengan raut muka yang sedih, Adit pun akhirnya mengikhlaskan kedua pohon Cemara kembar kesayangannya itu ditebang. Dipelukkan ibunya, Adit menangis hingga tak kuasa menahan air matanya, ia pun pergi meninggalkan tempat itu.

Beberapa hari kemudian seorang bapak setengah baya menghampiri Adit di rumah. Ia berniat mengajak Adit berjalan-jalan.

“Adit, ikut Bapak jalan-jalan, yuk?” tanya seorang bapak.

Adit pun menoleh dan melongok, “ Lho, Bapak bukankah kemarin yang menebang pohon itu, kan? Mau jalan-jalan kemana? Aku enggak mau.” jawab Adit lemes.

“Ayolah, ikut saja.” Pinta Bapak itu.

Adit pun pergi bersama Bapak penebang pohon tadi. Diajaknya Adit ke tempat pohon Cemara kembar yang telah ditebang. Melihat tempat itu Adit terbelalak dan ketika itu juga raut wajahnya nampak sumringah.

Ya, Adit melihat 4 buah pohon cemara muda yang berdiri kokoh di tempat pohon Cemara kembar ditebang.

“Adit, kamu rawat keempat pohon cemara ini baik-baik, ya.” pinta Bapak itu.

Dengan badan  gemetar senang Adit berkata, “ Ini apa Pak?”

“ Iya, kemarin kan Bapak sudah bilang, mati satu tumbuh seribu. Pohon Cemara kembar yang sudah tua itu diganti dengan pohon Cemara yang muda ini. Anggap saja ini anak dari pohon cemara kembarmu. Generasi penerusnya, kamu rawat dan pelihara dengan baik, ya.” ucap Bapak penebang pohon.

“ Baik Pak, siap laksanakan!” jawab Adit bersemangat.

Kemudian Bapak penebang pohon itu mengajak Adit untuk ikut menanam seribu pohon di kawasan bumi perkemahan Pakis Aji. Dan saat itu Adit merasa sangat senang dan beruntung bisa bertemu dengan Bapak si penebang pohon Cemara kesayangannya itu.

Meski wujudnya telah tiada, Adit merasakan bahwa kenangan bersama pohon Cemara kembarnya tidak akan pernah menghilang. Bersama 4 pohon Cemara kembarnya yang baru ia akan tetap merawat kenangan itu dan menjaga agar Jepara tetap sejuk.

 

Continue Reading