Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
parenting

Selamatkan Anak dari Bahaya Perilaku Menyimpang, Sejak Dini!

Februari 17, 2018

 

Kenali ciri-cirinya!

Pakai tanda seru, karena ini memang penting banget. Banyaknya kasus penyimpangan perilaku saat ini, terutama pada anak-anak menimbulkan kekhawatiran tersendiri dikalangan orang tua. Harus ekstra hati-hati dalam menjaga anak, baik sebagai korban penyimpangan perilaku ataupun sebagai pelaku.

Pada dasarnya banyak sekali jenis perilaku menyimpang. Mulai dari pemakaian obat-obat terlarang atau narkoba, pencurian, pembunuhan, sampai dengan tindak kejahatan seksual. Terlebih masalah penyimpangan seksual, di mana anak sering menjadi incaran. Pedofilia, incest, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) merupakan beberapa contoh perilaku peyimpangan seksual yang perlu di waspadai.

Bahaya selalu mengincar, tidak hanya di tempat yang biasa menjadi sasaran perilaku menyimpang, Masjid yang notabene-nya tempat yang aman, tempat beribadah, pun tak luput dari serangan orang-orang yang berperilaku menyimpang.

Beberapa waktu lalu, ada sebuah kejadian seorang anak kecil yang sedang berjamaah di masjid, sempat menjadi incaran pedofil. Anak ini sudah merasa diintai dan ikuti sejak datang ke masjid, ke tempat wudu, dan terakhir  ketika hendak melaksanakan salat. Dan kejadian pun  ketika hendak melaksanakan salat berjamaah. Bagian tubuhnya yang sensitive ada yang meraba. Sontak saja ketika salat sudah selesai, ia bergegas pulang dan menceritakan hal ini kepada ibu dan tantenya.

Untungya anak ini mau melapor dan bercerita kepada ibunya. Jadi orang tua anak tersebut dapat melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Di sini lah perlunya kita sebagai orang tua untuk mawas diri. Butuh kerjasama semua pihak agar kasus-kasus penyimpangan perilaku seksual ini dapat di atasi.

Flashback sebentar, sebenarnya apa sih fedofilia, incest, LGBT itu? Apa faktor penyebabnya, bagaimana cara pencegahan dan lain sebagainya. Tak ada asap kalau enggak ada api. Sama halnya dengan penyimpangan perilaku seksual ini. Tidak akan terjadi jika tidak ada hal atau faktor yang mendorongnya. Trauma masa kecil, penyakit, korban tindak kejahatan seksual, bisa jadi menjadi faktor kenapa seseorang melakukan incest, pedofilia ataupun LGBT.

Incest itu sendiri hubungan sedarah atau perkawinan sedarah. Perkawinan yang terjadi masih dalam lingkup keluarga, entah itu keluarga inti atau sepersusuan. Semisal hubungan perkawinan terlarang antara ayah dan anak kandung perempuannya, kakak dan adik kandung, ibu dengan anak kandung laki-lakinya, sepupu, keponakan atau saudara sepersusuan. Pada dasarnya yang dilarang untuk dinikahi atau mahram.

Kenapa hal ini bisa terjadi dan kenapa agama mengharamkan perkawinan sedarah?

Tentunya banyak faktor kenapa seseorang memilih untuk incest. Dan kenapa agama melarang, tentu banyak kemudharatan yang akan didapat dibanding kebaikan yang akan diterima. Mendapat bibit keturunan yang unggul disinyalir menjadi penyebab kebanyakan keluarga kerajaan di mesir melakukan hubungan sedarah (incest). Selain itu, laki-laki yang lama ditinggal istrinya, entah merantau atau meninggal dunia dan mendapati anak perempuannya bisa menjadikan seseorang itu melakukan incest. Entah faktor suka sama suka atau pemaksaan alias pemerkosaan. Begitu juga sebaliknya, bisa terjadi dengan ibu dan anak laki-lakinya atau kakak beradik.

Dari segi medis dan sosial pun, incest membawa dampak yang luar biasa bagi para pelaku atau korbannya. Terlebih bagi perempuan. Karena dari sisi medis, seorang wanita yang melakukan incest ataupun menjadi korban akan mengalami keputihan, mengompol, nyeri pada organ vital, pendarahan, konstipasi, dan mengalami disuria kronis (sakit saat buang air kecil).

Dilihat dari segi sosial ataupun psikologi, orang yang melakukan incest akan mengalami gangguan tidur, gangguan makan, mimpi buruk, fobia, kurang konsentrasi, menarik diri dari lingkungan, mengalami perilaku seksual sebelum waktunya, dan bisa juga melakukan bunuh diri.

Sedangkan bahaya incest dari sudut pandang biologis adalah anak yang dilahirkan berisiko tinggi lahir cacat, keterbelakangan mental, mengalami kelainan resesif autosomal, kelainan  fisik bawaan, gangguan intelektual parah, dan kematian dini.

Hampir sama dengan incest, pedofilia juga tak kalah mengerikan dalam membawa dampak buruk bagi anak. Berbeda dengan incest, korban pedofilia kebanyakan adalah anak-anak.   Dilansir dari situs kemdikbud.go.id, seorang pedofil memiliki ciri-ciri introvert. Menutup diri dari lingkungan dan suka menyendiri. Seorang yang introvert belum tentu pedofil, tapi pada umumnya pedofil memiliki sifat introvet. Selain itu ia juga memiliki sifat obsesif yang berlebihan. Tidak akan berhenti mengejar target sasaran sebelum tercapai. Dan ciri-ciri yang perlu diwaspadai adalah mereka lebih mampu berinteraksi dengan anak-anak. Bukan  orang asing lagi, karena mereka mempunyai akses berinteraksi yang intens.

 

baca juga: ambil jurusan apa Mak, di universitas kehidupan?

 

Kemudian menurut hasil penelitian, kebanyakan orang pedofil adalah kidal. Pedofil itu sendiri dikatakan sebagai gangguan mental. Kelainan psikoseksual, di mana orang dewasa atau remaja memiliki preferensi seksual terhadap anank-anak pra remaja. Perilaku pedofil terkait pedofilia ini ada yang melakukan kejahatan, ada juga yang menahan diri untuk tidak melakukannya. Dan “Loly” adalah sebutan bagi mereka yang telah menjadi korban pedofil.

Selain incest, pedofil, ada juga LGBT yang mana kepanjangan dari lesbian, gay, biseksual dan transgender. Lesbian adalah wanita penyuka sesama jenis. Gay  sebutan untuk laki-laki penyuka sesama jenis. Biseksual merupakan gangguan mental yang mana menyukai sesama dan lawan jenis. Sedangkan transgender adalah istilah untuk orang yang berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.

Secara umum, ada beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang tersebut diantaranya, ketidaksempurnaan sosialisasi. Artinya ketika seseorang diajarkan norma, aturan, nilai-nilai sosial, tapi media yang merupakan sarana belajarnya tak sejalan dengan apa yang diajarkan. Sebagai contoh, di rumah ayah mengajarkan untuk tidak merokok. Namun, ditempat lain banyak orang yang merokok.

Faktor selanjutnya adalah menganut suatu kebudayaan menyimpang. Mudahnya mendapat informasi sekarang ini, tidak menutup kemungkinan banyak kebudayaan baru yang masuk. Terlepas kebudayaan itu baik atau tidak. Jika tidak mampu berpikir, membentengi diri, maka seseorang akan mudah terseret dalam arus kebudayaan menyimpang.

Selain itu, kesalahan dalam menerima informasi juga dapat menyebabkan seseorang berperilaku menyimpang. Menelan informasi secara mentah-mentah tanpa menelaahnya terlebih dahulu.

Faktor lain adalah ikatan sosial menyimpang. Adanya juga perilaku menyimpang ini merupakan bawaan atau keturunan sebagaimana LGBT. Orang yang merasa berperilaku menyimpang biasanya akan mencari sebuah kelompok yang semisi, membentuk solidaritas di antara mereka. Sehingga terbentuklah suatu ikatan sosial.

Bagaimana pun juga sebagai orang tua kita tetap harus mencegah diri, anak-anak dan keluarga dari perilaku menyimpang. Hal ini bisa dimulai sejak dini. Tanamkan fitrah keimanan anak sejak ia lahir. Ajari anak untuk berkata tidak jika ada orang yang berusaha menyakiti atau menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Ajari pula mana bagian tubuh yang boleh disentuh orang lain mana yang tidak.

Selain itu membangun bonding antara orang tua dan anak juga sangat perlu. Karena bonding inilah yang akan membuat komunikasi antara anak dan orang tua semakin terbuka. Jangan lupa juga sebagai orang tua kita harus belajar bagaimana sih mendidik anak dengan baik sesuai dengan ajaran agama. Di luar sana banyak sekali ilmu-ilmu parenting dan komunitas parenting yang bisa ikuti.

Tulisan ini diikut sertakan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

#PostinganTematik

#BloggerMuslimahIndonesia

  1. Astaghfirullah. Kejadian di masjid yang mba ceritakan diatas itu membuat saya ngeri. Ketika anak-anak kita biasakan ke masjid sejak kecil justru tak luput dari incaran para pedofil yang sedang mencari korban.

  2. Ulasan menarik Mbak..
    Memang bonding anak dan orang tua itu yang utama, agar mereka selalu merasa dihargai keberadannya. Tak lupa doa agar anak-anak selalu dijaga Allah SWT dimanapun mereka berada. Juga masyarakat yang ikut serta terus memerangi perilaku ini.
    Semoga anak-anak kita semua terhindar dari perilaku menyimpang ini. Aamiin

  3. Magus banget mbak, artikelnya. Penyimpangan seks saat ini memang sudah sangat meresahkan. Kita sebagi orang tua kita harus bisa menjalin kedekatan dengan anak, agar mereka mau bercerita dengan apa yang mereka alami,

  4. Menjadi geram sendiri ketika mendengar maupun membaca berita semacam ini. Apalagi yang disasar adalah golongan yang lemah dan belum mampu melindunhi dirinya …

  5. Setuju, bonding anak dan ortu adalah pondasi yang kuat untuk membentuk karakter anak, sekaligus menjaganya agar tetap berada di jalan yang benar. Kalo seseorang sudah leboh “dewasa” dan terkontaminasi lingkungan, itu yang akhirnya tidak bisa dikontrol lagi oleh ortu.

  6. Astaghfirullo, nauzubillah, ngeri sangat mendengar berita seperti ini. APalagi kalau terjadi di sekitar kita. Semoga kita menjadi orang tua yang mampu melindungi dan mengarahkan anak kita pada kebaikan ya, Mbak. Sedih rasanya

  7. Subhanallah 😭.
    Lingkungan sekitar semakin rawan yaa Mbak Roik, aduh makin khawatir dan parno melihat berita di media sosil dan tv. Tapi lebih baii waspada dan berupaya melakukan pencegahan, daripada tidak tahu dan tidak mau tahu.

    Lebih mawas diri terhadap keluarha dan lingkungan sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!