Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
rupa-rupa

Surat Cinta untuk Suami

Februari 12, 2018

 

Viral dan ngetrend!!!

Inilah gambaran yang bisa dilukiskan saat ini, di mana kaum muda dimabok asmara akan sosok Dilan dan Milea. Yang tua-an dikit khususnya kaum emak-emak dilanda baper sama sosok bunda Tika dalam “Bunda, Kisah Cinta Dua Kodi” karya Asma Nadia. Di mana kedua film ini sama-sama digandrungi oleh penggemarnya masing-masing dan diputar dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ditambah lagi dalam minggu ini, kalau kita lihat pemberitaan di media hiburan yang sedang gempor dengan adanya kisah pembuktian cinta seorang Viqi Prasetyo kepada angle lelga yang terjun ke laut. Melihat fenomena ini, terkadang membuat kita atau bahkan saya sendiri untuk flashback ke masa lalu. Di mana setiap orang pasti punya cerita cinta dan kisah kasihnya masing-masing.

Sama seperti halnya diri ini yang mempunyai alasan tersendiri untuk mencintai sang suami. Sosoknya yang sederhana, apa adanya, penyabar, dan mampu mengelola emosi dengan baik membuat saya jatuh hati dan memantabkan hati, bahwa beliau mampu menjadi imam yang baik bagi saya dan anak.

Saya memang termasuk pribadi yang susah untuk beromantis, apalagi merayu dengan kata-kata. Yang ada hanyalah to the point mengutarakan isi hati. Tak sama halnya dengan beliau yang selera seninya tinggi, membuat ia mudah sekali untuk merangkai kata-kata indah dan punya sejuta cara untuk menyampaikan maksud hati secara halus. Dari apa yang saya rasakan mungkin tulisan sebagaimana di kertas inilah yang mampu mewakili perasaan dan isi hati.

sumber foto: dok. pribadi

Kami bukanlah pasangan yang sempurna, membawa kelebihan dan kekurangan pada diri masing-masing. Tak ada yang salah dan tak ada yang paling benar, karena sesungguhnya kebenaran hanya milik Allah semata. Berusaha untuk jadi lebih baik, bermanfaat dan memperbaiki kualitas diri dari waktu ke waktu menjadi salah satu visi dan misi keluarga kecil kami. Suami dengan segala potensinya dan begitu juga halnya dengan saya saling mengisi dan melengkapi kekurangan dengan kelebihan yang dimiliki. Setidaknya dengan begini, tak ada kesombongan yang muncul, karena kami saling membutuhkan.

Melangkah bersama dan saling membersamai di saat senang ataupun susah itu merupakan bentuk cinta tersendiri bagi kami. Tak usah muluk-muluk atau yang membuat sensani, tapi sesungguhnya kebersamaan dan  keberadaan dalam setiap aktivitas merupakan bentuk kesetiaan buat saya dan pasangan.

Tak jarang pula, kami sudah bahagia dengan pijatan kecil yang dapat kami rasakan secara bergantian untuk melepas rasa lelah dan pegal dalam tubuh ini. Suatu ketika saya pernah bertanya seacara iseng, “ Apa yang membuatmu bahagia?” dan dipijat setelah pulang bekerja menjadi jawabannya. Makjelb rasanya. Hal yang selama ini sering saya minta padanya namun, saya sendiri jarang melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Memang sedikit pijatan pada tubuh mampu untuk merilekskan diri.

surat cinta dari suami

Lebih dari itu, mengarungi bahtera rumah tangga bukanlah perkara mudah untuk menjaga keutuhan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Menyatukan dua kepala saja sudah susah, apalagi menyatukan dua keluarga dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda. Perlu kelapangan hati dari kedua belah pihak agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Inilah pentingnya mengetahui potensi dan kelemahan diri untuk membentuk keluarga solid. Kemampuan mengelola emosi yang bagus dari suami membuat beliau mampu untuk menarik ulur saya yang ambisius dalam mencapai segala keinginan. Begitu juga dengan halnya dengan saya. Saya yang menyukai target, cepat mengambil tindakan berharap mampu memotivasi suami untuk lebih giat lagi.

Satu hal yang mana saya harus belajar banyak dari sosok beliau adalah tentang penerimaan diri dan keikhlasan hati. Belajar bagaimana suami dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan keluarga saya, tapi tidak dengan saya yang masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan keluarganya. Satu nasihat yang selalu saya ingat, di mana pun kita berada dan selama kita masih hidup pasti akan menemui masalah dan beberapa orang yang tak menyukai diri kita.

 Mencoba mengikhlaskan segala sesuatu yang telah terjadi, mencoba untuk menerima kenyataan akan lebih baik dan harusnya mampu mendorong kita untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Semoga suami bisa menuntun dan menjadi panutan kamin dalam mencapai JannahNya. Aamiin….

Tuhan menciptakan manusia tentu mempunyai tujuan masing-masing. Setiap individu membawa misi khusus atau spesifik dalam kehidupannya. Tugas kita sebagai individu, terutama saya adalah menemukan misi spesifik itu dengan menggali potensi diri, anak, dan lingkungan agar lebih bermanfaat bagi sesama.

Jikalau ditanya apa sih potensi diri ini? Mungkin saya akan gamang menjawabnya. Secara latar belakang pendidikan saya adalah tarbiyah namun, passion saya dibidang bisnis, akuntansi, pendidikan anak, blogging, dan dunia literasi. Tanpa menanggalkan latar belakang pendidikan, saya sangat menyukai semua dunia keenam bidang di atas dan semuanya pernah saya lakukan. Bagi saya keenam bidang di atas saling mendukung dan dapat berjalan beriringan. Berharap dengan menulis, ngeblogging bisa ikut berdakwah mensyiarkan agama dan membaentuk karakter untuk anak hebat sejak dini. Kenapa?

Karena mendidik, terutama akhlak atau karakter bukanlah hal yang mudah, tak semudah membalik telapak tangan. Mengenal potensi anak sangat berpengaruh dalam pola pendidikan untuk anak. Yumna, anak semata wayang saya yang berusia 3 tahun pun tak luput dari perhatian untuk mengenali dan menggali lebih jauh potensi yang ada dalam dirinya. Selama ini anak baru menunjukkan ketertarikan pada dunia menyanyi, sama dengan anak-anak lain pada umumnya. Saya dan suami berusaha untuk menggali lebih potensi anak dengan mengajaknya bermain beraneka ragam permainan. Tak lupa juga menerapkan home education untuk memantau perkembangan anak. Karena sesungguhnya kami lah tempat dan guru pertama dan utama bagi anak. Bukan sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.

So, peran dan potensi lingkungan sekitar rumah juga mendukung keberhasilan suatu proses pendidikan. Melihat potensi lingkungan sekitar terkadang ingin membuat saya belajar banyak tentang pengelolaan sampah, kedisiplinan, kepedulian lingkungan. Contoh kecil saja, karena saya masih tinggal serumah dengan mama, terkadang perbedaan pengasuhan sering terjadi. Mana kala kebiasaan-kebiasaan buruk muncul dan kesalahan pola asuh di masa lalu, membuat saya semakin tertantang untuk memutus lingkaran dan kebiasaan buruk tersebut.

Kelihatannya mungkin hal sepele namun, menanamkan kebiasaan baik, disiplin, tepat waktu, peduli sesama, kemandirian dan peduli lingkungan sejak dini sangat lah penting. Kita tak pernah tahu batas usia sampai kapan. Hanya berharap dengan kemandirian dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, anak tak merasa kesulitan menjalani kehidupan mana kala saya tinggal atau berpulang.

  1. Memang perlu waktu unuk terus menyesuaikan diri dengan pasangan, Mbak..Yang utama kita tetap ingat bahwa kita menikahi pasangan dengan segala lebih dan kurang. Kelebihannya untuk disyukuri dan kekurangannya bisa jadi ladang jihad bagi kita untuk memperbaikinya..:)

  2. Dalam banget Mbak Roik… Proses merefresh kasih sayang dalam pernikahan memang harus selalu diupdate dan diupgrade ya Mbak.

    Semoga pernikahan kita semua sakinah, mawaddah, warahmah hingga maut memisahkan dan berkumpul kembali di surgaNya.

  3. Romantisnyaaaaa….. saya sama suami gak pernah surat-suratan, sih. Hehe.
    Tapisentuhan kecil itu penting juga dalam kehidupan rumah tangga ya, Mbak.

  4. Suami istri itu seperti sepasang sepatu, selalu bersama, tdk ada gunanya klo sendiri, ga dpt melebur jd satu tapi selalu berjalan bersama bersisian.

    Butuh wkt lama untuk bisa ikhlas menerima kekurangan tp bisa ditutup sg saling pengertian…

  5. kayaknya perlu di coba ini Mbak, heheeee
    mengingat kami sama2 bukanlah sosok yang pandai mengungkapkan isi hati lewat tulisan.
    heheeee …

  6. Wah… surat-suratan setelah menikah itu…sesuatu banget ya mbak. Jadi mupeng, sayangnya suami saya tak seromantis itu, tapi alhamdulillah keromantisan tiap pasutri berbeda dan unik. Btw, tulisan suaminya bagus mbak, pasti paksu sabar ya? hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!