Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
rupa-rupa

Ambil Jurusan Apa di Universitas Kehidupan, Mak?

Januari 27, 2018

 

“Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemualiaan hidup, maka carilah dengan jalan yang mulia”

 

Tarbiyah, itulah jawaban yang langsung terlontar dari mulut saya, ketika membaca judul di atas dengan sekilas. Tersedak, layaknya minum air ketika mendengar “Universitas kehidupan.”

“Apa tadi, universitas kehidupan? Kira’in ambil jurusan waktu kuliah?”

Hampir seperti itulah pikiran saya, saat membaca judul di atas dan berbalik mengulanginya dengan seksama. Iya, benar saja, universitas kehidupan. Bukan universitas tempat saya kuliah dulu.

Ya, kalau ditanya seperti itu, “Ambil jurusan apa di universitas kehidupan?” atau lebih tepatnya ilmu apa yang ingin dipelajari dalam hidup, tentu jawabannya banyak. Ingin belajar ini itu untuk melayakkan diri jauh lebih baik lagi. Namun, untuk tahun ini ilmu yang paling saya butuhkan adalah internet marketing. Kalau di tahun 2017 kemarin, saya lebih fokus untuk belajar nulis, tahun ini resolusinya adalah go online.

Baca juga : resolusi 2018: Make A Time To Make A Solid Family

Kenapa oh kenapa? Hihihihi…

Tentu ada alasan tersendiri yang melatarbelakangi, kenapa saya memilih ilmu satu ini. Selain faktor keluarga, bisnis juga memegang peranan penting. Sebelumnya, flashback terlebih dahulu.

 

Saya mengenal ilmu internet marketing ini sejak lulus SMA dan saat itu pula, langsung jatuh hati dan “srek” banget. Ibarat kata, cinta pada pandangan pertama. Kenapa ya kok bisa gini … mungkin ini ada kaitannya dengan hobi. Saya termasuk orang yang suka dengan ilmu komputer, suka otak-atik, dan waktu sekolah pun nilai yang paling tinggi, ya di bidang ini. Tanya kenapa? Saya juga tidak tahu kenapa. Suka aja, kan kalau cinta enggak pakai syarat. Mencintaimu apa adanya. Cieealaaaah….

Kembali lagi ya, faktor keluarga menjadi alasan utama saya untuk memulai kembali belajar ilmu internet marketing, setelah vakum beberapa tahun ini. Ingin bekerja dari rumah, produktif di rumah, ingin belajar jadi ibu dan istri yang baik, serta ingin menemani anak dalam tumbuh kembangnya. Dengan belajar marketing online, saya bisa melakukan pekerjaan dan bekerja tanpa harus meninggalkan anak dan rumah.

Alasan kedua karena hobi. Internet marketing bagi saya, merupakan satu kesatuan utuh dengan dunia kepenulisan atau literasi. Yang mana sangat mendukung kegiatan saya di event kepenulisan. “Penulis harus bisa berbisnis dan pebisnis pun harus bisa menulis.” Itulah quote yang paling saya suka dan bisa membangkitkan semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang, siap mengosongkan gelas untuk belajar lebih baik lagi.

Alasan ketiga adalah sejak 2 tahun terakhir ini memutuskan untuk berbisnis online. Mau tidak mau ilmu ini penting banget buat saya untuk didalami. Berbisnis online menjadi pilihan terakhir setelah memutuskan resign dari pekerjaan di ranah publik dan benar-benar fokus to be full time mom. Sedangkan menulis, saya jadikan sebagai wadah untuk berkarya dan sarana pengaktualisasikan diri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ber-networking, berkomunitas, mempunyai andil yang sangat besar bagi perkembangan bisnis dan dunia literasi yang saya tekuni. Meski sekarang di rumah, tapi tidak menghalangi saya untuk ber-networking  ria. Kemajuan teknologi memudahkan segala hal tanpa terbatas ruang dan waktu. Tentunya hal ini harus dalam ranah positif.

Dan ini merupakan salah satu cara atau strategi saya untuk menuntut ilmu. Tak jarang pula, di komunitas itu ada sharing-sharing gratis dan terkadang ilmu yang dibagikan itu daging dan renyah banget. Meskipun tak dipungkiri mengikuti kelas satu ke kelas lainnya, juga saya lakukan untuk melayakkan diri.

“Kalau ingin sukses, jangan bermental gratisan.”

Membaca kalimat di atas benar-benar menohok saya dan memang benar adanya. Sebelum menuntut ilmu, kita harus mengetahui adab terlebih dahulu. Etika, tutur kata, dan tingkah laku. Ini semua dilakukan tak lain untuk mendapatkan keberkahan itu sendiri.

Bagi saya mengubah mental dan pola pikir gratisan itu perlu. Sebagaimana kita menghargai seseorang yang berilmu. Kita ganti waktu mereka yang telah bersedia meluangkan waktu dan berbagi ilmu, serta pelajaran berharga yang bisa diambil hikmahnya. Lebih tepatnya saya suka menyebut hal ini sebagai investasi leher ke atas. Yang dimaksud investasi leher ke atas ini bukan kalung, giwang, make up, jilbab, dan lain sebagainya ya bun.

Itulah mengapa bagi saya, kekayaan itu tak sebatas uang, harta atau emas yang kita miliki. Namun, lebih kepada otak kita sebagai sarana untuk berpikir, berkreativitas, dan tak lupa sebagai wujud syukur terhadap Allah Swt yang telah menganugerahi otak yang super canggih. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkannya dengan baik atau tidak. Dengan seperti ini semoga menambah rasa iman dan syukur, serta melapangkan hati yang kita miliki. Aamin….

Catatan:

Tulisan ini diikut sertakan dalam pengerjaan tugas nhw matrikulasi batch 5 SJS “Adab mencari ilmu.”

  1. Setuju, menuntut ilmu perlu tahu adab terlebih dahulu..
    Sayangnya masih banyak yang bermental gratisan di sekitar kita.. Padahal itu jadi salah satu penghambat kesuksesan.

    Semoga sukses untuk go online nya yaaa Mbak

  2. Saya pribadi udah merasakan nikmatnya bisnis online, ya bisa dikerjakan sambil asuh anak hihi. Tapi tahun ini pengen lebih serius ngerjainnya karena ternyata lumayan banget hasilnya.
    Mudah-mudahan rencana mba cepet terwujud juga ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!