Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
Book Review

Membiasakan Anak Suka Baca, Pentingkah?

November 1, 2017

Membaca, suatu kata yang begitu klasik kedengarannya namun mempunyai andil besar dalam kehidupan seseorang. Setiap orang tentu tahulah sama kata kerja yang satu ini. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang “enggak banget” dalam tradisi dan budaya bacanya. Hmmm…bisa dibilang momok kali ya kalau disuruh membaca. Apalagi kalau diminta membaca buku, “Haduh ampun deh…” kata anak-anak didik saya.

Suatu fenomena yang bikin muka jadi keriput memikirkan generasi penerus bangsa yang demikian adanya. Memang sih enggak semuanya begitu. Mungkin berbeda anak yang tinggal di perkotaan dengan anak di desa atau memang sama, entahlah? Namun kenyataan seperti ini sering saya jumpai di sekitar tempat tinggal saya.

Beberapa tahun belakangan ini terjadi pergeseran budaya, yang mana semakin kompleknya materi pelajaran di sekolah tingkat dasar, memaksa banyak anak untuk berbondong-bondong mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Lalu, apakah mereka belajar seutuhnya? Iya, bagi mereka yang ingin bisa, tapi tidak untuk mereka yang hanya mengejar nilai. Dan fakta yang paling menyedihkan adalah banyak dari mereka yang mengikuti bimbel hanya untuk mengejar nilai secara instan tanpa mau tahu cara yang benar dan proses menjalaninya. Tak jarang juga ada yang ikut bimbel hanya bertujuan untuk bertemu teman. Menyerahkan Homework pada mentor bimbel dan bilang jawabannya apa kak. Dan ketika diminta untuk mencari jawaban yang ada dalam bacaan, biasanya mereka akan malas sekali bahkan ada yang memang tak mau melakukannya.

Fenomena ini memang tidak bisa menyalahkan salah satu pihak saja. Entah murid, guru, orangtua, dan bahkan pemerintah. Namun dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk mengatasi malasnya kids zaman now untuk mau dan suka membaca. Dimulai dari diri dan keluarga sendiri untuk memberikan teladan dan menciptakan habit baca dari rumah. Mulailah dari kecil sehingga kebiasaan itu mendarah daging pada anak dan keluarga. Terpenting orangtua harus bisa jadi role model bagi anak.

Berbicara soal membiasakan membaca pada anak, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan. Pertama, ciptakan lingkungan yang mana anak mudah untuk menjangkau buku. Dalam artian taruh beberapa buku ditempat yang sering dijadikan anak untuk beraktivitas. Semisal di ruang tamu, ruang keluarga, ruang bermain, kamar, dan lain sebagainya. Kedua, sediakan buku yang sesuai dengan usia, minat, dan taraf perkembangan anak. Sedikit tips buat para Bunda tentang pemilihan buku yang cocok untuk anak.

Mengajari anak membaca sebenarnya bisa dilakukan sejak dini, bahkan dari dalam kandungan. Nah, untuk bayi usia 0-1 tahun, Bunda bisa memberikan anak buku bantal. Buku ini aman untuk bayi karena tidak mudah dirobek ataupun ditelan.  Di usia satu tahun ke atas (2-7 tahun) bisa dimulai dengan mengenalkan bentuk buku seutuhnya. Ada buku halo balita, buku ini dirancang secara  khusus untuk anak balita. Bentuk fisik buku berupa boardbook dengan setiap sudut buku dibuat tumpul agar lebih aman dan nyaman buat anak. Buku ini tebal dan permukaannya dilapisi dengan bahan anti air sehingga mudah dibersihkan dari corat-coret pensil, melindungi dari tumpahan air atau sisa makanan yang menempel.

Dalam satu paket buku halo balita ini terdapat 25 buku yang terdiri dari sembilan buah buku untuk melatih kemandirian, lima buah buku bertema spiritual, sebelas buah buku untuk melatih value dan satu buah buku panduan untuk orangtua. Selain itu dalam satu paket juga terdapat tiga buah boneka tangan, Sali, Saliha, dan Kumi.

Memberikan buku yang tepat pada anak akan menarik perhatian anak untuk mau membaca. Untuk anak usia balita, gambar menjadi daya tarik utama. Nah, di sinilah yang menjadi daya tarik buku halo balita. Gambarnya yang colorfull, tidak terlalu banyak tokoh membuat anak semakin mudah mengingat nama tokoh dan karakter yang dimilikinya. Sehingga pesan yang ingin disampaikan pun dapat tersampaikan dengan baik.

Saya yang menggunakan buku ini merasakan manfaat yang begitu besar, tidak hanya membuat anak suka buku, senang baca namun melatih emosi  dan kemandirian anak. Bagi seorang anak role model yang juga  anak-anak seperti Sali dan saliha akan lebih mudah masuk dalam dunia mereka. Seakan-akan mereka memang mempunyai sahabat dan teman baik dalam menjalani dunia mereka.

Selain itu buku ini juga berteknologi Augmented Reality (AR) yang mana jika gambar yang ada dibuku disorot memakai kamera Smartphone, gambar bisa mengeluarkan suara dan bergerak-gerak. So, diharapkan orangtua lebih bijak dalam memilih bahan bacaan yang berkualitas dan bermutu bagi anak. Terlepas dari itu semua peran orangtua dalam memberikan teladan dan membersamai anak dalam proses pembentukan kebiasaan membaca sangat dibutuhkan.

  1. Setuju! Sebenarnya minat baca anak2 Indonesia itu sangat tinggi hanya karena kurang stimulus sejak keceil, minim sarana dan prasaran juga dukungan semua pihak akhirnya jadi penonton TV paling teladan sejagat raya.. 🙁

  2. inspiratif… memang kalau dibiasakan, anak-anak juga akan suka membaca.. cuma kurangnya stimulasi, sarana dan prasarana lah yang membuat rendahnya minat baca anak-anak Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!