Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
inspirasi

Konsep Rezeki Mulus Tanpa Seret

Oktober 10, 2017

Alhamdulillah beberapa hari ini baru diberi rezeki sakit sama Yang Maha Pemberi kesehatan. Setidaknya dengan sakit, tubuh bisa beristirahat sejenak dari rutinitas sehari-hari dan lebih banyak mengingat-Nya. Beberapa hari sakit, diri ini rindu untuk menulis lagi setelah hampir 4 hari enggak sempat meluangkan waktu untuk sekedar menulis, me-refresing-kan pikiran kembali.

Selama sakit, kegiatan yang paling banyak saya lakukan tentunya beristirahat sambil membaca buku. Dan teringat akan beberapa hal, salah satunya tentang konsep rezeki. Berbicara soal rezeki itu tak sebatas soal uang melulu. Rezeki itu luas, sehat, sakit, sedih, susah, senang, semuanya termasuk rezeki. Musibah dan cobaan juga bagian dari rezeki. Banyak orang pasti sudah paham akan hal ini tentunya.

Dalam Alquran itu sendiri pun telah dijelaskan bahwa rezeki itu segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu, entah berupa pakaian, makanan, sampai pada istri. Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-laki atau perempuan termasuk rezeki. Termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran dan penglihatan.

Kalau sudah dijelaskan seperti ini, pandangan kita akan rezeki semoga tak sebatas hanya uang belaka. Tapi jujur yang namanya manusia pasti ada rasa was-was mana kala kita tidak punya uang atau dompet lagi menipis. Meski udah dijamin, rasa khawatir itu pasti ada. Persoalannya banyak dari kita yang mungkin sudah merasa berusaha semaksimal mungkin, tapi kok ya masih kurang terus? Masih tetap berhutang dan lain sebagainya yang buat hati tak tenang, hidup pun tak tentram.

Kuncinya semua ini tergantung pada diri kita. Bagaimana kita harus menata hati terlebih dahulu, dalam artian rasa syukur terhadap rezeki yang sudah didapat. Bukankah kalau kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat kita. menurut saya hal ini memang benar adanya, bukan sebatas teori atau firman Allah semata. Karena saya pun mengalaminya sendiri. Allah juga berfirman bahwa akan mencukupi segala kebutuhan kita. ingat ya… kebutuhan bukan keinginan.

Sebenarnya kalau kita mampu memahami akan hal ini dengan baik, kebutuhan bukan keinginan, ada hikmah atau pelajaran yang dapat diambil. Yaitu tentang kesederhanaan. Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Jika setiap manusia menuruti semua keinginannya maka ya enggak akan ada habisnya. Maka hanya kebutuhanlah yang akan dicukupi oleh sang Maha Pemberi Rezeki.

Kita hanya diwajibkan untuk berikhtiar dan bertawakal. Ikhtiar inilah yang mungkin bisa kita lakukan. Ikhtiar seperti apa agar rezeki kita tak seret dan tak merasa kekurangan? Pertama, kita bisa meniru konsep petani dalam menanam padi. Ibarat kata petani setelah panen, pasti mengambil terlebih dahulu beberapa padi yang bagus untuk dijadikan bibit selanjutnya untuk ditanam, baru kemudian sisanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini juga berlaku sama terhadap rezeki yang kita dapat, misalnya rezeki uang. Kalau kita menginginkan uang yang kita dapat tidak habis begitu saja sebelum waktunya, dan sudah dapat rezeki lagi sebelum kantong habis, bisalah kita meniru konsep pak tani dalam menanam padi ini. Istilah jawanya itu agar rezeki tidak entuk-entek namun entek-entuk (dapat-habis namun habis-dapat).

Jadi setiap kali mendapatkan rezeki, semisal berupa gaji kita bisa mengambil terlebih dahulu beberapa persen dari gaji kita untuk kita sedekahkan. Lakukan hal ini sebelum membelanjakan gaji untuk kebutuhan kita. bukankah petani mengambil beberapa padi untuk dijadikan bibit terlebih dahulu, kemudian ditanam lagi. Jadi sebelum stok padi habis,mereka sudah panen kembali. Konsep seperti ini berlaku pada rezeki yang kita terima.

Selain sedekah, kedua adalah orangtua tentunya. Bakti atau tindak-tanduk kita terhadapat orangtua baik orangtua kandung ataupun mertua. Perlakukan mereka secara baik. Jangan jadikan mereka seperti pembantu. Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah banyak pasangan yang bekerja dan menyerahkan anak diasuh oleh orangtuanya atau nenek kakeknya. Mungkin dengan alasan lebih aman dari pada diasuh oleh baby sister. Iya, mungkin hal ini benar adanya. Saya pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Tapi, suatu ketika saat saya ikut suami berziarah dalam acara wisata religi yang diadakan oleh sekolahnya, saya diberi wejangan atau nasehat oleh pak supir bus yang saya tumpangi bahwa orangtua itu sudah capek mengasuh kita. sebagai anak kita juga harus mengerti hal itu, meskipun orangtua tak akan pernah mengeluh mengasuh anaknya. Jangan bebani orangtua dengan mengasuh anak kita lagi. bolehlah orangtua menjaga, ikut merawat, bermain sama cucunya, namun jadikan hal itu sebagai perekat hubungan antara cucu dengan nenek kakeknya. Bukan lantas menyerahkan pengasuhan terhadap mereka. Jika dirasa anak kita sudah lama bersama kakek nenek, segeralah ambil mereka kembali, siapa tahu orangtua kita sudah lelah dan butuh istirahat.

Rasanya Jleb kan, ditambah lagi ada semacam petuah atau apa ya namanya, sebut saja sebagai nasehat. Kalau kita memperlakukan orangtua kita layaknya pembantu, maka rezeki yang kita dapat pun seperti pembantu. Konsep rezeki agar tidak seret itu tidak bisa lepas dari marketing bumi dan marketing langit. Marketing bumi ya usaha kita secara nyata dalam bekerja dan marketing langit itu bentuk usaha kita dalam hubungannya merayu Sang Pemberi Rezeki. Orang-orang suka menyebutnya dengan matematika langit. Bentuknya sebagaimana kita berdoa, tahajud, dhuha, bersikap baik kepada kedua orangtua, sedekah, bersyukur, menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan dosa, berbuat baik pada sesama. Hal-hal seperti inilah yang akan membuat rezeki kita jauh dari kata seret. Sebagai penutup, mengutip dari kata-kata mas Ippo Santosa bahwa bukan rezeki kita yang seret namun sedekah kita mungkin yang seret. Bukan rezeki kita yang kurang namun syukur kita yang kurang. Semoga bermanfaat.

  1. Hey webmaster
    When you write some blogs and share with us,that is a hard work for you but share makes you happly right?
    yes I am a blogger too,and I wanna share with you my method to make some extra cash,not too much
    maybe $100 a day,but when you keep up the work,the cash will come in much and more.more info you can checkout my blog.
    http://makemoneyonlineg.com/2017.php
    good luck and cheers!

  2. Suka sekali konsepnya petani mbak, mengambil jatah buat bibit setelah panen. Kalau tidak diniatkan, sampai gaji habis juga tak akan sedekah dan tak akan pernah cukup ya..terima aksih sharingnya mbak..cakep sekali tulisannya, masya Allah..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!