Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
traveling

Makam Mantingan, Wisata Budaya di Sudut Kecil Kota Jepara

Agustus 20, 2017

 

“Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi, tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.”

Dee Lestari

Quote di atas sepertinya mampu mewakili sebuah budaya dan sejarah di suatu tempat. Tak kenal maka tak sayang, mungkin seperti itulah mudahnya. Bagaimana kita bisa mencintai sebuah budaya kalau tak pernah mengenal sebelumnya. Begitu juga dengan budaya kita, terutama budaya lokal daerah masing-masing.

Tak berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia, sebuah kota kecil, di utara pulau Jawa yang sering mendapatkan julukan kota mati dan ukir ini juga mempunyai banyak tempat wisata, termasuk salah satunya wisata budaya. Ya, Jepara kota kelahiran RA. Kartini menyimpan banyak sekali tempat wisata. Karena letaknya di pinggiran pulau dan berbatasan langsung dengan laut Jawa maka tak heran kalau banyak terdapat wisata pantai, laut, dan beraneka ragam budaya lainnya.

Salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah  pesanggrahan Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat atau orang lebih mengenalnya dengan  makam Mantingan. Di makam Mantingan inilah Sultan Hadlirin beserta istri (Ratu Kalinyamat) dan anggota keluarga lainnya di makamkan.

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi tempat wisata budaya dan bersejarah ini bersama keluarga. Walau bukan yang pertama kalinya dan sebelumnya juga sudah beberapa kali mengunjungi, tempat ini ramai sekali dengan peziarah. Saya yang asli anak Jepara, mengakui bahwa tempat ini sarat akan makna dan budaya. Ada banyak cerita dan budaya yang tersimpan dibalik makam Mantingan ini.

Sebelum mengenal objek wisata ini secara penuh, tak ada salahnya kalau kita mengenal kondisi fisik makam Mantingan ini. Letaknya di desa Mantingan kecamatan Tahunan kabupaten Jepara. Makam berada dibelakang tepat masjid Mantingan, masjid tertua di Jepara setelah masjid Agung Demak. Masjid dan makam Mantingan ini kental akan budaya dan sejarah. Hal ini terbukti dengan kondisi fisik bangunan yang merupakan perpaduan antara hindu dan Islam. Selain itu juga di dalam Masjid terdapat ukiran hewan yang  benafaskan Islam yang memadukan ke dua unsur kebudayaan tersebut.

Untuk sampai ke makam Mantingan ini, sebenarnya mudah dijangkau baik dengan kendaraan umum atau pun pribadi. Kalau dari arah kudus, semarang ataupun demak bisa naik bus dengan tujuan Jepara-Kudus. Sedangkan yang dari arah Semarang atau Demak bisa naik bus Semarang-Jepara. Perkiraan biaya akomodasi Jepara-Kudus itu sekitar Rp 10.000,00 dan Jepara-Semarang sekitar Rp 15.000, sekali naik. Anda bisa meminta berhenti di bundaran Ngabul, setelah itu bisa dengan naik ojek angkutan kota sampai tempat tujuan. Jaraknya mungkin sekitar 1-2km.

 

Itulah cara termudah untuk sampai di tempat tersebut. Ada beberapa jalur alternatif, tapi menurut saya akan memakan waktu jauh lebih lama dan membingungkan. Hehehe …tapi jika ingin mencoba saya sarankan pakai google navigasi agar tak tersesat. Pasalnya perjalanan ke Mantingan kemarin, jalur yang biasanya saya lalui tiba-tiba macet karena ada kebakaran. Jadi ya harus cari jalur alternatif. Waktu itu saya dan rombongan mengandalkan google navigasi untuk sampai kesana. Lewat jalur alternatif itu enak, karena akan menemukan berbagai pemandangan yang masih asri dan tentunya jalannya naik turun. Namun kalau lewat jalur alternatif ini Anda harus memakai kendaraan sendiri atau menyewa, karena tidak ada kendaraan umum melalui jalur ini.

Kalau tadi bercerita tentang akomodasi dan transportasi, terus gimana sih dengan soal makanan atau tempat jajan disana. Jujur saya enggak pernah jajan di sana. Langsung pulang saja kalau habis ziarah, hehehh … tapi tidak usah kuatir karena banyak warung dan pedagang kaki lima di sana. Tepatnya banyak terdapat di sekitar gapura makan Mantingan.

Yang enggak boleh terlewat dan Anda wajib mengetahui dari tempat ini adalah sejarah dan budayanya. Menurut saya keren banget. Oh ya, selain makan Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat, di samping belakang mereka juga ada makam Sultan Abdul Djalil atau yang dikenal dengan Syekh Siti Jenar. Ziarah kali ini baru pertama kali saya mampir ke makam Syekh Abdul Djalil. Tidak begitu jauh dari makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat, cukup berjalan selama beberapa menit. Di tengah perjalanan ke makam Syekh Abdul Djalil, saya merasakan bau yang harum di sini. Tepat di bawah plang nama yang menunjukkan ke arah makam Beliau.

Salah satu hal yang identik dengan makam Mantingan ini adalah pohon Pace (Mengkudu) dan air yang ada di depan masjid Mantingan ini. Konon katanya, buah pace ini jika di makan dapat mempermudah seseorang dalam mendapatkan keturunan. Sedangkan air yang ada di depan masjid dipercaya mampu menguji kejujuran seseorang.

Berbicara soal sejarah makam mantingan ini berkaitan erat dengan budaya baratan atau arak-arakan Ratu Kalinyamat, di mana akan diperingati setiap tanggal 15 ruwah (kalender Jawa) atau 15 Sya’ban (kalender Islam). Budaya ini hanya ada di sekitar daerah kalinyamatan dan sekitarnya karena dahulu pusat pemerintahan Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat itu terdapat di kalinyamatan. Pesta Baratan ini di peringati untuk mengenang Ratu Kalinyamat yang membawa pulang jenazah suaminya (Sultan Hadlirin) yang dibunuh oleh Arya Penangsang.

Dari sinilah muncul beberapa nama untuk sebuah daerah. Semisal ketika kalah berperang Ratu Kalinyamat dan rombongan sampai harus merambat-rambat di tanah sehingga daerah tersebut dinamakan prambatan. Kemudian sampai di mana darah yang keluar dari jasad Sultan Hadlirin berwarna ungu dan mengalir ke sungai, sehingga daerah tersebut dinamakan kaliwungu. Kemudian sampai pada suatu daerah di mana jasad Sultan Hadlirin mengeluarkan aroma wangi, sehingga daerah tersebut dinamakan purwogondo.

Kembali ke budaya atau pesta baratan yang diperingati untuk mengenang perjuangan Ratu Kalinyamat dalam membawa pulang Jasad suaminya. Biasanya akan ada arak-arakan Ratu Kalinyamat beserta rombongan yang di mulai dari masjid Kriyan sampai pada pendopo Kalinyamat. Biasanya anak-anak suka membawa lampion atau narik berbagai jenis kendaraan yang terbuat dari bambu dan kertas, yang telah diberi lilin atau lampu.

Semasa saya kecil kegiatan seperti ini masih sangat banyak dan ramai, namun sekarang ini pesta baratan jarang sekali ada di jalan-jalan kampung. Namun yang membuat diri agaknya masih merasa senang karena banyak organisasi masyarakat yang terutama digawangi anak muda mencoba melestarikan budaya ini dengan kreativitas mereka masing-masing.

Sebenarnya ada banyak kisah dan cerita bersejarah dalam makam Mantingan ini. Tentunya ada banyak hikmah di dalamnya yang dapat kita jadikan teladan. Alhasil bagi  yang ingin mencoba wisata budaya, wisata bersejarah, sekaligus berziarah, tempat ini bisa menjadi salah satu tujuan berwisata  Anda dan keluarga.

Semoga bermanfaat…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    1. di jepara sendiri juga bisa mbak dian. di jepara kota banyak hotel dan penginapan. sekali-kali bolehlah mbak mampir ke jepara. banyak wisata pantainya dan tempat sejarah lainnya juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!