Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
rupa-rupa

Bahagia dengan Pernikahan Sebaya

Agustus 11, 2017

Pernikahan sebaya atau pernikahan yang terjadi diantara pasangan suami istri yang seumuran, saat ini sudah tidak asing lagi, bahkan banyak yang mengalami. Teman sekolah atau kuliah yang seumuran, sekarang menjadi partner hidup kita. Adakah yang suami atau istrinya merupakan teman sebaya?

Saya sendiri mengalami yang namanya pernikahan sebaya. Sedikit curcol dan berbagi pengalaman saja tentang pernikahan sebaya. Suami  adalah teman sekolah  dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (SMA). Kuliah kita enggak barengan, dia merantau ke daerah seberang  dan saya masih tetap di daerah dengan cita rasa lokal. Sewaktu masih sekolah bareng, kita biasanya saja, just friend, enggak ada perasaan gimana-gimana. Tapi entah kenapa, wallahhua’lam hanya Allah SWT yang Maha tahu, saat enggak barengan lagi justru perasaan itu ada. Mengalir saja, saling membutuhkan satu sama lain. Padahal kami tak ada sangkut-pautnya satu sama lain.

Biasanya kan seseorang punya hubungan karena mereka mempunyai suatu kesamaan yang unik, yang membuat mereka merasa nyaman satu sama lain, sehingga terciptalah suatu hubungan. Nah kalau saya, perasaan tidak begitu. Sampai sudah menikah pun kami punya kebiasaan 1800 yang berbeda. Namun di sinilah letak uniknya dan merasakan sensasi yang berbeda.

Menjalani sebuah ikatan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika pernikahan itu pernikahan sebaya yang kata sebagian orang akan rawan sekali mengalami perpecahan. Semoga tidak ya. Menjalani pernikahan sebaya itu memanglah tidak mudah. Secara kita punya tingkat  emosi dan kedewasaan yang hampir sama. Sehingga jika ada suatu masalah, tingkat pemicu pertengkaran akan jauh lebih tinggi. Saya sendiri tidak memungkiri akan hal ini karena saya pun mengalami. Namun mengenai hal itu, kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Saya dan suami yang mempunyai kebiasaan berbeda, menjalani pernikahan sebaya sejauh ini fine-fine saja, meski tak semudah membalik telapak tangan. Sudah empat tahun usia pernikahan alhamdulillah setiap kali ada masalah kami mampu menyelesaikannya secara baik-baik. Menurut saya pribadi yang mempunyai dua kebiasaan berbeda, menyiasati hal seperti dengan cara menghargai saja satu sama lain. Selain itu kontrol emosi ini yang harus dilatih terus menerus.

Saya pikir there is no one is perfect ya…pasti ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di sini lah yang memerlukan pemahaman lebih, penerimaan terhadap diri kita sendiri dan pasangan. Mencoba mengompromikan dan menyamakan persepsi untuk mencari jalan tengah lah yang biasanya saya lakukan. Mengutarakan apa yang menjadi keinginan saya dan mengomunikasikannya ke suami. Di sini kita bisa saling mengingatkan, menginstrokpeksi diri dan saling memberi masukan. Pada intinya adalah komunikasi yang baik dari kedua belah pihak.

Memang sih pada prakteknya agak susah, karena ini berkaitan dengan kebiasaan yang tidak bisa dirubah dengan begitu cepat. Butuh proses dan waktu untuk menjalani dan mengubah suatu kebiasaan. Jadi ya jangan capek untuk diingatkan dan mengingatkan. Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan suami ditutupi dengan kelebihan si istri dan begitu juga sebaliknya.

Pada akhirnya saya juga seperti itu. Suami yang karakternya tidak begitu disiplin, amburadul, hehe… tak suka dengan deadline and peraturan yang mengikat berbanding terbalik dengan saya yang suka kejar target dan deadline, disiplin, enggak bisa melihat sesuatu yang kotor, berantakan, semrawut harus berdamai dengan diri sendiri dan menerima kekurangan suami. Sedikit-dikit saya ingatkan. Begitu juga dengan suami yang menganggap saya terlalu perfectionist dan harus menurunkan sedikit standar saya untuk berdamai dengan sesuatu yang semrawut dan berantakan.

Ya sudah kami terima dengan kekurangan  masing-masing dan saling memperbaiki saja. Mungkin seperti inilah kalau punya pasangan sebagai pekerja seni. Saya mencoba lakukan masukkan yang beliau berikan yang menurut saya baik, begitu juga dengan beliau. Memahami karakter pasangan masing-masing itulah yang mungkin dapat saya simpulkan.

Bagi saya tak ada alasan untuk tidak bahagia hanya karena perbedaan. Justru dengan perbedaan kita bisa belajar banyak hal, mengasah emosi, berdamai dengan diri, menerima kelebihan dan kekurangan, melatih empati, simpati dan tentunya masih banyak lagi.

Adakah yang punya pengalaman yang sama atau berbeda tentang pernikahan sebaya? Hayuk share dan curcol dikit…

 

#ODOP11

#BloggerMuslimahIndonesia

 

  1. memang ya mbak, ada sebagian kita yang ogah nikah sama pasangan sebaya. alasan si cewek, cowok seumuran ntar sama tingkat emosinya, nggak bisa mengayomi.. nyatanya banyak yang nikah seumuran baik-baik aja. kalau menurut saya bukan soal umur sih mbak.. tapi bagaimana pemahaman masing-masing tentang hak dan kewajiban dalam rumah tangga.. saling pengertian insya allah timbul.. saya dan suami terbilang sebaya juga mbak.. cuma suami lebih muda sekitar 6 bulan.. alhamdulillah hampir lima tahun pernikahan belum ada masalah yang berarti.. suami bisa menempatkan diri sebagai pemimpin, guru dan sahabat saya.. saya berusaha mengimbanginya.. that’s it 🙂

    1. iya mbak… semua kembali ke pribadi masing-masing. sejatinya menikah itu ya untuk saling memahami, mengerti, menghargai, saling melengkapi di atas semua perbedaan yang ada. semoga samawa mbak eva. terimaksih sudah berkenan mampir…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!