Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
inspirasi

Sudahkah Pekerjaan Kita Membawa Berkah?

Juli 19, 2017

Shock, itulah pertama kali yang saya rasakan ketika mendengar jam ngajar sang suami berkurang drastis. Bagaimana tidak, karena hal ini juga akan berpengaruh pada keadaan finansial keluarga. Langsung bingung, cemas, khawatir semuanya ada menjadi bayang-bayang dalam pikiran. Untunglah perasaan ini tak bertahan lama. Insyaf dan istigfar, segala puji bagi Allah bahwa setiap rezeki makhluk hidup sudah dijamin oleh Nya, tinggal kita sebagai hambanya mampu bersabar, tidak putus asa dan mau berusaha  atau tidak.

Peristiwa atau kejadian seperti ini membuatku teringat akan visi misi awalku kembali. Ya ingin berbisnis dan mendapat pekerjaan yang berkah. Yang mampu mendekatkan diri saya pada sang Pencipta. Masih teringat sekali, doa yang selalu saya panjatkan agar diberi pekerjan dan usaha yang mampu mendekatkan diri ini padaNya. Jauhkanlah jika pekerjaan itu justru membuatku jauh dariMu. Dan alhamdulillah semuanya terjawab. Berbisnis dari rumah dan menulis membuatku semakin dekat dengan Nya. Saya lebih bisa mengatur waktu  baik itu untuk keluarga, bisnis dan untuk beribadah. Hati ini jauh lebih merasa tenang , beda ketika dulu masih ngantor, yang adanya hanyalah segudang deadline hingga lupa akan hubungan vertikal dengan Tuhan YME. Kosong dan hampa, itulah yang ada.

Apapun pekerjaan dan profesi kita pada intinya keberkahanlah yang dicari. Rezeki yang berkah dan halal. Lalu bagaimanakah konsep reze

ki  dalam Islam sendiri? Dijelaskan dalam Alquran bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu. Entah itu berupa pakaian, makanan, anak-laki-laki, anak perempuan, kesehatan, pendengaran, penglihatan sampai punya istri atau suami pun juga termasuk rezeki.

Namun kebanyakan, pandangan orang sekarang ini tentang konsep rezeki sudah banyak yang berubah dan mengalami pergeseran paradigma. Konsep rezeki tidak lagi diartikan sebagaimana di atas, namun hanya sebatas uang dan keuntungan  dari bisnis yang kita jalankan. Teringat akan nasehat paman yang mengajari saya tentang konsep rezeki agar tidak seret. Rezeki itu jangan sampai entuk-entek (bahasa jawa) tapi entek-entuk. Kelihatan sepele tapi dalem banget maknanya.

Konsep entuk-entek ini berbeda dengan entek-entuk. Entuk-entek ini berarti dapat uang langsung habis untuk kebutuhan. Sedangkan entek-entuk, setiap uang kita habis, kita memperoleh rezeki lagi. He… semoga tidak bingung ya sama penjelasannya. Kalau masih bingung bolehlah tanya-tanya. Selain itu agar rezeki kita enggak seret, ada satu hal yang harus kita instrospeksi. Instropeksi terhadap diri sendiri dalam hal ibadah. Sudah oke kah ibadah kita, shalat tepat waktu, sudahkah melakukan ibadah wajib dan atau sunnah, sudah berbaktikah kita pada orang tua, sedekahnya bagaimana dan lain sebagainya. Pada intinya perbaiki ibadah kita juga, jangan hanya memikirkan urusan duniawi semata.

Keseimbangan dalam mencari rezeki dengan cara yang baik “ajmilu fit tholab” akan mendapati kita pada rezeki yang berkah. Bagaimana agar pekerjaan atau  usaha kita membawa berkah? Bisa dilakukan dengan dua cara yaitu rezeki atau nikmat yang kita dapat, dimanfaatkan untuk melakukan ketaatan pada Allah dan memberi manfaat pada kaum muslimin yang lain.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!