Catatan Roiza

Sebuah catatan perjalanan, gaya hidup & inspirasi keluarga
inspirasi

Pesantren Almawaddah: Konsep Pesantren Berbasis Kewirausahaan

By on Oktober 5, 2018

Holla readers, lama nih udah enggak bersua di blog. Doakan semoga makin istiqomah dan konsisten ya untuk berbagi di sini. Meski tak seberapa, semoga bermanfaat sebagai mana motto hidup saya “menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama walaupun cuma satu orang.

Sedikit cerita, oleh-oleh dari kegiatan outbond anak  beberapa waktu lalu di pesantren Almawadah. Ini merupakan kegiatan outbound anak saya di paud. Ih, apa menariknya kegiatan anak paud. Paling ya cuma main-main gitu. Iya, betul kegiatannya memang sederhana, layaknya kegiatan outbond untuk anak paud lainnya. Tapi jangan salah, ada satu konsep  menarik yang dibangun sang pemilik di area outbond mereka. Saya lebih suka menyebut tempat ini dengan sebutan pesantren Almawaddah karena area outbond ini memang terletak di sana.

Pertama kali memasuki pesantren ini, saya langsung berpikir, “Ah, besuk Una (anak saya) mau saya pondokin di sini.” enggak tahu kenapa tiba-tiba saya merasa cocok banget dengan pesantren ini. Nah, untuk melampiaskan keingintahuan dan kekepoan, saya bertanya pada salah satu santri. “Mbak, yang mondok atau nyantri di sini mulai usia berapa?”

“Usia anak kuliahan, Bu.” Jawabnya singkat. Saya agak terkejut dengan jawaban si Mbak.

“Loh, kenapa? Emang enggak ada untuk anak kecil usia setelah lulus SD ya, Mbak?” Tanyaku balik.

“Enggak bu. Di pesantren ini dikhususkan untuk mereka yang usia kuliahan. Diharapkan dengan rentang usia itu, anak akan dibimbing untuk belajar mandiri dan mampu menghidupi diri mereka sendiri.” Jelas salah satu mbak santri.

“Bagus!” Pikirku dalam hati. Tapi sayang una belum bisa ikutan dan bergabung dengan santri ponpes ini. Ya iya lah ya, orang anakku masih paud. Hehehe.. tapi setidaknya bisa jadi sumber referensi lah untuk sarana pendidikan anak.

konsep outbound anak

Menurut saya pribadi konsep yang diusung pesantren ini cukup unik dan berbeda dengan pesantren-pesantren lainnya. Kalau kebanyakan pesantren dan sekolah swasta di desa masih mengandalkan biaya dari wali murid atau wali santri, lain halnya dengan pesantren yang satu ini.

Pesantren Al-Mawaddah yang terletak di desa Honggosoco, Jekula kabupaten kudus ini merupakan pesantren mandiri yang berbasis kewirausahaan. Pendirinya sendiri, bapak KH. Sofiyan Hadi, Lc. MA dan ibu Hj. Khadijah telah berhasil mengembangkan tiga aspek penting yaitu intelektual spiritualitas, enterpreneur, dan leadership di dalam pesantrennya.  Jadi para santri  tak hanya dididik dalam rangka intelektual spriritualitasnya saja akan tetapi juga dilatih dalam hal kepemimpinan dan kewirausahaan. Sehingga mereka mandiri dalam mengurus kebutuhan diri dan memenuhi biaya hidup mereka sendiri.

foto bareng ibu Hj. Khadijah

Konsep yang diusung pesantren yang satu ini adalah argo dan eduwisata untuk mengembangkan potensi daerah dan masyarakat sekitar, serta para santri pada khususnya. Mereka membudidayakan lele, padi, pohon ketela, kebun buah naga, dan kebun sayur hidroponik. Sedangkan untuk eduwisata, mereka menyediakan fasilitas outbound. Ada flying fox khusus anak, area pra karya, area taman, dan ada juga area fish spa. Cocok untuk orang tua sambil menunggu anak bermain di area outbound bersama kakak-kakak pendamping.

bermain tangkap ikan

Untuk hasil pertanian seperti ketela pohon akan diolah menjadi tepung mocaf atau keripik telo yang dipasarkan di daerah sekitar kudus. Buah naga diolah menjadi sirup dan keripik. Selain itu saya juga melihat ada beberapa mainan tradisional yang dijajankan di sana. Kemungkinan besar adalah hasil karya para santri setempat.

Ada satu yang menarik perhatian saya. Ketika anak-anak digiring untuk mengikuti kegiatan outbound, kami  para orang tua diminta untuk meninggalkan sang anak dan berkumpul di aula pesantren. Oh, ternyata tak hanya anak yang diajak bermain sambil belajar. Kami, orang tua pun demikian adanya. Kami diajak untuk mengikuti kelas parenting. Ide bagus dan kegiatannya oke. Enggak hanya anak saja yang dapat ilmu, orang tua pun mendapatkannya juga.

melukis celengan

Selain kegiatan edukatifnya kala itu adalah anak diminta untuk melukis celengan yang terbuat dari tanah. Dengan kreasi mereka sendiri dan setelah jadi boleh dibawa pulang. Alhamdulillah, anak diajari menabung dan mengelola keuangannya sendiri dengan konsep yang sederhana.

Hmmm, saya jadi iri. Semoga kelak saya punya sanggar belajar yang punya konsep demikian adanya. Aamiin…

Continue Reading

parenting

Di Sini Ku Belajar Komunikasi Produktif

By on September 27, 2018

Beberapa hari lalu kami sekeluarga sempat mengikuti wisata edukatif bersama sanggar sains di Kudus. Agendanya adalah melihat-lihat ke peternakan sapi perah sebagai edukasi untuk anak dan membuat terrarium untuk  orang tua yang mendampingi. Sama dengan kegiatan edukasi lainnya,  kami diajak melihat tempat pembuatan biogas yang memanfaatkan kotoran sapi. Selain itu kami juga memberi makan  dan memerah susu sapi secara langsung. Tentunya hal ini tak lepas dari pendampingan.

Ada satu hal yang menarik perhatianku dalam kegiatan ini. Peserta acara wisata edukasi melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus. Sekilas mereka nampak biasa, tapi kebanyakan  adalah anak autis dan keterbelakangan mental. Ada yang jelas terlihat dari fisiknya, ada juga yang tidak. Layaknya anak normal sebagaimana mestinya.

Di sinilah moment yang kurasa tepat untuk menjelaskan dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada pada anak. Mengenalkan sifat simpati, empati, dan syukur pada anak. Bersyukur karena telah diberi fisik yang sempurna sama Allah, dijadikan sosok pribadi yang sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menghargai mereka secara utuh tanpa harus merendahkan diri orang lain.

Di sini pula aku mendapatkan moment yang pas dan alami untuk melakukan tantangan bunsay tentang komunikasi produktif pada anak, khususnya dalam ranah pengendalian emosi. Jangan kira hal ini gampang. Mengajarkan pengelolaan emosi pada anak tak semudah yang dibayangkan. Kita saja yang notabene sudah dewasa dan berstatus orang tua saja masih kesulitan mengelola emosi, apalagi anak-anak.

Kebetulan di tempat pemerahan sapi kemarin, terdapat bazar mainan anak. Sontak saja anakku, Una langsung merengek minta dibelikan mainan. Awalnya satu dua, masih bisa  menahan. Akan tetapi, lama kelamaan rengekan itu semakin keras dan tak mampu lagi ditahan. Menghadapi anak yang merengek sambil menangis dihadapan banyak orang tentu menjadi tantangan tersendiri.

Malu? Iya, karena ini sikap alami yang muncul dan manusiawi. Namun, sebagai Ibu aku hanya ingin berbuat yang terbaik untuknya. Mencoba menenangkan dan mengalihkan perhatiannya pada mainan tersebut. Ku ajak Ia menjauh dari lingkungan dan mengalihkannya untuk memberi makan sapi. Mendengarkan penjelasan dari sang pemandu. Oh gini loh cara memberi sapi makan, cara sapi makan, dan jenis makanan sapi. Saat itu sapi lagi diberi makan kulit jagung mentah.

Memang sih tak lantas membuatnya menangis dan meminta mainan. Tetapi setidaknya bisa mengalihkan perhatiannya dari mainan tersebut. Berkali-kali ku bujuk dan mengajaknya bermain. Menemaniku membuat terrarium, bermain game dengan anak-anak disabilitas, dan minum susu menjadi rongga tersendiri buat dia untuk sedikit melupakan dari meminta mainan.

Akhirnya gimana? Ya tetap saja. Tiap permainan selesai, dia ingat lagi tuh sama keinginannya. Hingga dipenghujung acara, tetap meminta dibelikan mainan. Sebenarnya tak mengapa dia meminta mainan. Namun, kami berusaha untuk menanamkan pada anak kalau ingin membeli barang yang bener-bener tidak urgent, ya harus menabung terlebih dahulu. Semacam ingin membeli mainan.

Akhirnya setelah acara selesai, aku mengajaknya pulang. Meski masih meninggalkan rengekan dan diperjalanan justru semakin keras, hehehe. Kali ini ditambah dengan ngedumel. Tak apalah karena ini bagian dari proses. Aku berusaha menerima kemarahannya, kekecewaannya sambil ku peluk dan mengusap kepalanya. Lama kelamaan ia kelihatan mengantuk dan aku pun terus mengusap kepalanya. Meminta maaf dan berusaha menjelaskan kenapa tidak langsung memberikannya mainan. Dalam kondisi otaknya yang alpha ku selingi dengan nasihat-nasihat dan akhirnya tertidur.

Continue Reading

buku

Inner Child: Ma, Aku Ingin Bicara

By on September 5, 2018

Bismillahirrahmanirrahim…

Rasanya aku tak ingin membagi, inginku pendam sendiri. Demi Allah ini aku tulis bukan untuk menyakiti apalagi mencari empati. Akan tetapi, untuk penyembuhan diri. Meski jari ini terasa sangat berat  menekan setiap huruf untuk merangkai kata, tapi tulus dari hati, ini surat cintaku untukmu, Ma. Bantu aku untuk sembuh dan bantu aku untuk mendidik cucumu lebih baik.

Jujur Ma, aku tak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Dan jujur tak pernah membayangkan sebelumnya dalam benak ini. Layaknya seorang pengantin baru pada umumnya, mungkin hanya rasa bahagia yang menyelimuti. Karena impian untuk bersatu dengan sang pujaan hati terlaksana tanpa mengerti seluk beluk kehidupan rumah tangga selanjutnya. Bagi Mama, mungki aku ini tak seperti ekspektasi yang Mama angankan. Jauh dari ekspektasi yang Mama harapkan yang tak memiliki anak perempuan dan akan memiliki anak menantu perempuan.

Ma, aku bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga besar Mama, keluarga besar anak lelakimu yang sekarang yang menjadi imamku. Tapi Ma, aku tak mengerti kenapa aku merasakan suasana dingin dari Mama dan saudara-saudara perempuan Mama. Aku hanya melihat wajah yang garang, yang menunjukkan tak kesukaan. Sikap yang dingin yang tak bisa aku tebak. Tak sedikit pun bicara padaku, tak sedikit pun memarahiku. Sayup-sayup kecil justru terdengar dari saudara-saudara perempuanmu dan orang lain.

Ma, aku ingin sekali bisa bicara denganmu, bisa mengobrol denganmu. Marahi aku jika mama marah padaku. Ingatkan aku jika aku salah, Ma. Beri tahu aku jika aku tak tahu. Mama diamkan aku tanpa aku tahu letak kesalahanku.

Jujur Ma, aku kecewa, akan perlakuan Mama. Aku sakit hati atas ucapan-ucapan Mama yang merendahkan keluargaku. Perlakuan, ucapan Mama, dan saudara-saudara perempuan Mama terhadap keluargaku sungguh menyakitiku dan kedua orang tuaku.  Aku sadar aku berasal dari keluarga yang tak punya dan bukan siapa-siapa. Perlakuanmu terhadap keluargaku di hari aqiqah cucumu sungguh membuat hatiku terluka dan pudarnya kepercayaan jika Mama kelak ikut mengasuhnya.

Ma, aku tak ingin dianggap lebih. Aku hanya ingin diperlakukan sebagai anak dan aku ingin berusaha jadi anak Mama. Aku butuh proses, jika aku tak seperti ekspektasi Mama. Aku mungkin tak bisa merubah sikap Mama ke aku. Aku hanya bisa berdoa semoga kelak sikap Mama ke aku bisa berubah.

Terima kasih dan sangat bersyukur atas karunia Allah yang telah memberikan sosok suami yang sangat pengertian dengan segala kelebihan dan kekurangannya  dalam mendampingi diri. Tanpa harus berat sebelah membelaku atau membela sang Ibunda tercinta. Sosok peneduh hati, tempatku berkeluh kesah sesama manusia. Hanya berharap dan berdoa semoga kelak Mama bisa menerimaku apa adanya.

Dan akhir-akhir ini aku tahu bahwa tidak semua kesalahan dari Mama, atas perlakuannya terhadapku. Mungkin sikapku pun turut memberikan andil, kenapa Mama bersikap demikian. Iya, aku yang tak tahu, aku yang bodoh ilmu. Aku hanya memandang dari sudut pandangku, begitu juga dengan Mama yang memperlakukannku hanya dari sudut pandangnya. Aku yang lebih muda, yang baru, harusnya lebih mengerti.

Terima kasih karena Allah sudah menjawab doaku. Mempertemukanku dengan sosok septi peni wulandani sehingga aku bisa ngangsu kawruh ilmu lebih lagi. Mengajariku bagaimana bersikap dan bertutur pada sang Mama mertua. Pemikiran-pemikiran beliau mengubah sudut pandangku dari sudut pandang Mama. Sehingga aku lebih bisa memahami pola pikir Mama.

Rasanya lega dan ringan sekali hati ini. Entah kenapa sikap Mama  sedikit demi sedkit mulai berubah. Mulai mengajakku mengobrol, sudah mau bercerita sana-sini. Sudah mau menyuruh  ini itu. Rasanya diri ini bisa berguna buat Mama itu sungguh sangat membahagiakan. Bisa membantu dan dianggap sebagai anak itu sudah cukup membuat hati ini bahagia.

Ya Allah terima kasih Engkau kabulkan doa-doaku. Aku sadar aku telah kecewa akan sikap Mama dan aku ikhlaskan. Aku sadar bahwa selama ini aku hanya ingin diperlakukan sebagai anak bukan orang asing yang masuk ke dalam keluarganya.

Ya Allah, jagalah keempat orang tuaku,

kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku

ampuni dosa mereka dan lapangkan rezeki mereka.

Ya Allah, jagalah keluarga kecilku

Taburilah dengan bunga keberkahan

Hiasi pernikahan kami dengan rahmah dan mawaddah

Giring kami menuju JannahMU.

Aamiin.

Continue Reading

inspirasi

The Ramadhan Project untuk Ramadhan Terakhirku

By on Mei 17, 2018

“Marhaban ya ramadhan, marhaban ya ramadhan. Setiap ramadhan yang datang padaku adalah ramadhan terakhir.”

(Roikhatuz Zahro)

Pelecut diri! Kalimat itu selalu tertanam dibenakku dan menjadi mood booster ketika ramadhan datang. Bagiku setiap ramadhan adalah ramadhan terakhir. Karena aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa menginjakkan kaki di dunia ini. Setidaknya “Ning dunyo mung mampir sedelok” menjadi  wejangan yang paling kuingat baik suka maupun duka ketika melanda. Sebagai “Tombo ati” untuk selalu bersyukur atas nikmatnya.

Ramadhan kali ini agaknya sedikit berbeda karena disambut dengan berbagai kerusuhan yang melanda negeri. Turut berduka atas tragedi bom yang menimpa saudara di surabaya dan sidoarjo. semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Terlepas dari segala asumsi tentang Islam, bagiku menjadi muslimah adalah anugerah dan nikmat tersendiri. Beriman dan menjalani rukun Islam berpuasa di bulan ramadhan yang penuh rahmat.

Berbagi, berserah, dan meningkatkan kapasitas diri merupakan arti ramadhan kali ini. Menjadi tujuan dan goal setting dalam ramadhan project yang telah aku susun. Setidaknya dengan membuat ramadhan project, dalam menjalani ibadah puasa akan lebih terarah dan mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai. Hal seperti inilah yang juga aku lakukan di tahun-tahun sebelumnya.

 

Jika dulu hanya mentarget khatam 30 juzz dalam satu bulan, maka ramadhan project kali ini berbeda. Tentu ada banyak hal yang ingin dicapai demi meningkatkan kapasitas diri. Salah satunya punya target khatam 30 juzz dalam 15 hari, membiasakan tahajud penuh selama ramadhan, odop, dan minum air putih minimal 2 liter sehari, heheheh…mungkin kedengarannya gimana gitu ya. tapi itulah ramadhan project-ku yang gue banget.

Nah, kamu pun bisa mencobanya dengan versimu sendiri sesuai dengan kepentingan. Jadi kalau ditanya misal neh, jika ramadhan ini ramadhan terakhir, apa yang akan kamu lakukan? Ya, biasa saja. Karena setiap ramadhan yang datang ya ramadhan terakhir. Yang jelas bagaimana kita mampu memanfaatkan ramadhan yang datang dengan sebaik-baiknya. Istilah kerennya berlomba-lomba dalam mencari kebaikan. Kalau bisa sih enggak hanya di bulan ramadhan saja. Hanya saja kapasitasnya ditambah di bulan yang penuh berkah ini.

So, buatlah ramadhan project yang loe banget dan gue banget. Ini juga bisa diterapkan untuk anak-anak dalam berlatih berpuasa. Pada intinya ramadhan project dibuat untuk mengubah diri kita ke arah yang lebih baik. Semisal neh aku memasukkan pembiasaan tahajud, one day one post, dan minum air putih minimal 2 liter, tak lain karena ada tujuan dibalik itu semua yang ingin kucapai.

Pertama, one day one post, bertujuan untuk melatih konsistensi dalam menulis dan goal jangka panjangnya adalah memperoleh kebiasaan menulis tanpa beban. Banyak komunitas yang menyelenggarakan odop ini. Bergabung dengan komunitas seperti ini akan menjaga semangat kita untuk mendapatkan dan mencapai kebiasaan baru itu. Syukur-syukur bisa mempertahankannya ya, sebab meraih itu lebih mudah daripada mempertahankan. Hehehe

Kedua, minum air putih sebanyak 2 liter sehari. Kelihatan sepele dan gampang ya, wong tiap hari juga kita minum air putih. Iya, gampang itu buat kamu dan susah buat aku yang sering lupa untuk minum. Sebenarnya membiasakan minum air putih bertujuan untuk menjaga kesehatan. Karena kata bang Ippo Santoso dalam bukunya “Percepatan rezeki” air ini merupakan rahasia terbesar dalam menjaga kesehatan. Kenapa oh kenapa?

Karena pada dasarnya tubuh manusia itu terdiri dari komposisi air yang jauh lebih besar. Dan partikel air mampu membentuk kristal yang begitu indah tatkala ditaburi dengan syukur dan cinta. Dan jika kamu ingin sehat, cepat sembuh maka perbanyaklah bersyukur. Bersyukur atas kesehatan yang telah diberi dan jangan lupa tetap berdoa meminta kesembuhan.

Ingatkan sabda Nabi Muhammad Saw bahwa sebaik-baiknya air adalah air zam-zam. Di dalamnya terdapat obat bagi yang sakit dan makanan bagi yang lapar. Kalau tak punya air zam-zam bisa menggunakan air putih biasa dengan dibacakan basmallah dan alfatihah.

Ketiga, membiasakan tahajud. Ini merupakan rahasia besar pertama untuk sehat. Ingin sehat? Rutinkan tahajud. Bagaimana cara kerja salat tahajud kok bisa menyehatkan? Hmmm…masih bersumber dalam bukunya Ippo Santoso “Percepatan Rezeki” dikatakan bahwa salat tahajud dapat menstabilkan hormon melatonin. Saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan menghasilkan hormon melatonin dalam jumlah besar. Puncaknya pada pukul 02.00-03.00 dini hari. That’s tahajud time!

 Nah, salat tahajud dapat menstabilkan hormon melatonin sehingga membantu terbentuknya sisem kekebalan tubuh, membatasi pemicu-pemicu tumor seperti esterogen, dan menghasilkan turunan asam amino trytophan, salah satu penyusun protein.

baca juga: sudahkah pekerjaan Anda membawa berkah

Selain itu salat tahajud juga membantu ketahanan tubuh, mengurangi nyeri pada pasien pengidap kanker, dan mengendalikan hormon kortisol sehingga mengurangi stress. Banyak kan manfaat salat tahajud. Itulah alasan aku mengapa shalat tahajud menjadi salah satu my ramadhan project.

Terus bagaimana dengan ramadhan project versimu? Dah buat belum? Hmm…kalau masih bingung menentukan ramadhan project, di luar sana banyak kok yang mengadakan. Kamu bisa ikutan ramadhan project yang mereka buat dan memodifikasinya dalam versimu. Sekian semoga bermanfaat.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam postingan tematik blogger muslimah indonesia

#PostinganTematik #PosTemSpesialRamadan #bloggermuslimahindonesia

 

Continue Reading

parenting

Mendidik Sesuai Fitrah: Sudahkah Bunda Lakukan?

By on Mei 10, 2018

 

“Pengetahuan bukan untuk dikuasai, ia ibarat cahaya yang berpendar-pendar dalam ruang yang gelap di mana kita hanya bisa melangkah dalam bayangan pendar-pendar itu menuju kesejatian diri kita. learning is  not for learning, but learning is for being. Pendidikan juga bukan untuk melahirkan human thinking dan human doing, tetapi human being atau manusia seutuhnya (insan kamil), yang semua aspek fitrahnya tumbuh paripurna sehingga menjadi peran-peran peradaban terbaik yang menebar manfaat dan rahmat bagi semesta.”

(Ustadz Harry Santoso)

Setidaknya apa yang disampaikan ustadz Harry Santoso  di atas begitu menohok relung hati saya. Mulai berpikir kembali tentang urusan mendidik anak.  Susah kah mendidik anak? Hmm, tidak juga. lebih tepatnya susah-susah gampang. Seni mendidik anak inilah yang perlu orang tua kuasai. Salah satunya mendidik sesuai fitrah anak.

Mendidik sesuai fitrah itu bagaimana? Pertanyaan itulah yang terbesit dalam pikiran saya kala itu. Fitrah ini merupakan suatu anugerah yang sudah terinstal dalam diri manusia yang diberikan oleh Tuhan bahkan ketika masih berada di dalam kandungan. Sebagai contoh seorang anak yang akan belajar tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan kemudian berlari. Bahkan bayi yang baru terlahir pun langsung dapat menyusu sang ibu tanpa harus diberitahu caranya. Inilah yang disebut fitrah.

Fitrah anak perempuan yang bermain boneka, mengenakan baju wanita, menyukai mainan masak-masakan. Begitu pula halnya dengan anak laki-laki yang hobi beli mainan mobil-mobilan dan sebagaimana mestinya. Kurang lebihnya seperti itulah saya memaknainya.

Sedangkan menurut wikipedia fitrah adalah sesuatu yang netral pada jiwa dan tidak terikat serta terpasung oleh keinginan dan keperluan duniawi dan berlapang dada serta jiwa yang tentram dan tenang. fitrah hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan Penciptanya. Jiwa yang tidak terikat oleh harta benda duniawi dan yang meninggalkan penyakit jiwa (Iri, dengki, kecemburuan sosial, hasut, sombong, ria, dan pelit).

Sejatinya dalam setiap diri anak mempunyai fitrah termasuk fitrah belajar. Namun, terkadang kita lupa dan lalai dalam mendidik sehingga mematikan fitrah belajar anak. Perlu dipahami bahwa ada beberapa kebiasaan di masyarakat kita yang justru mengubur fitrah belajar anak. Padahal sejatinya tidak ada anak yang tak punya fitrah belajar. Semua anak adalah pembelajar yang ulung dan kreatif, limited edition dan mereka mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar.

Hal apa saja yang mengubur gairah dan hasrat belajar anak?

Wuiih…jangan tanya, banyak banget. Salah satunya terlalu protect sama anak. Lah kok bisa? Ya bisa saja. Simak yuk pemaparannya.

  • Terlalu menyetir proses belajar.

Setiap orang tua tentunya menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi buah hati. Namun, terkadang saking menginginkan hal itu orang tua jadi protect dan terlalu menyetir proses belajar anak tanpa mengindahkan keinginannya. Kita sebagai orang tua, harus memahami bahwa anak mempunyai gaya belajar tersendiri, punya minat yang membuatnya berbinar-binar, dan tentunya bakat.

Jadi teringat akan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai zamannya.” Boleh saja kita memiliki raga anak, tapi jiwa anak adalah milik zamannya. Efek dari cara mendidik yang terlalu menyetir ini akan melumpuhkan daya kreatifitas anak.

  • Pendidik terlalu Memanjakan

Fenomena ini sering saya temui, entah pada orang tua, guru, dan tentor belajar. Meski tidak semuanya namun, pendidik yang notabene-nya pendamping belajar beralih fungsi sebagai penjawab soal. Anak sering belajar kelompok bareng atau mengikuti bimbel sekadar untuk mendapat jawaban soal tanpa mau berpikir bagaimana cara mengerjakan soal tersebut.

Ditambah lagi arus budaya yang telah menggiring pendidik pada pola pikir instan. Menyarikan setiap materi yang ada, sehingga kemampuan anak untuk menemukan inti sari atau ide yang terkandung di dalamnya kurang terasah.

  • Buku pelajaran yang bikin gagal fokus

Konsep penyajian buku yang kering, kurang mampu untuk menggugah ide kreatif anak. Sekadar dumbed down atau picisan. Anak pun lebih tertarik membaca buku jenis lain dan malas untuk membaca buku pelajaran (text book).

  • Senjata kompetisi dan rasa takut berlebih

Tak jarang lho, pendidik dan orang tua menggunakan senjata ini. Kompetisi, di satu sisi memang bagus untuk meningkatkan dan memacu anak untuk lebih giat dan berprestasi. Namun, ada kalanya dalam kondisi tertentu anak bisa menjadi tertekan dan takut. Lupa mengerjakan tugas atau tidak mengerjakan tugas, anak langsung heboh, menangis, dan ketakutan sendiri. Ada lho tipikal anak seperti ini.

Metode mendidik sesuai fitrah anak yang patut dicoba.

Kalau kita sudah bisa memahami faktor apa saja yang bisa mengubur fitrah belajar anak, maka cara mendidik atau metode mendidik sesuai fitrah ini pun wajib kita ketahui. Ada beberapa cara yang bisa dicoba, salah satunya:

  1. Memotivasi belajar anak dengan kisah ulama dan ilmuwan

Fitrah belajar, berpikir, dan bernalar sejatinya berkembang pesat ketika anak berusia 7-12 tahun. Masa- masa inilah bagus untuk mengenalkan kisah nabi, ulama ataupun ilmuwan. Bisa mengambil hikmah dari setiap kisah, berpikir mana yang bisa diteladani.  Meningkatkan kemampuan bernalar. Orang tua pun bisa menceritakan perjuangan Imam-Imam besar dalam mencari ilmu. Setidaknya dengan seperti itu anak akan semakin termotivasi untuk belajar tanpa paksaan dan tekanan. Perasaan butuh belajar akan datang dari dirinya sendiri, bukan karena orang lain.

  1. Me time bersama buah hati

Luangkan waktu entah beberapa jam atau menit untuk sekadar menemani dan mendampingi anak. Terutama saat mereka belajar. Orang tua juga bisa membuat learning project bersama anak-anak dan didokumentasikan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai  home education project’s. Jadi terdapat kurikulum keluarga untuk anak bahkan untuk seluruh anggota keluarga.

  1. Menemukan insight learning

Satu lagi yang enggak kalah penting. Menemukan insigh learning atau hikmah pelajaran yang bisa diambil dari setiap apa yang kita pelajari. Orang tua dan anak bisa melakukan tea-time atau meluangkan waktu untuk bincang-bincang tentang insight learning  apa yang didapat.

  1. Sediakan sumber ilmu di rumah.

Penting bagi saya untuk menyediakan dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan sumber belajar yang mudah. Salah satunya buku bacaan di rumah. Membuat perpustakan mini di rumah menjadi salah satu misi utama keluarga. Bacaan yang berkualitas akan membantu diri anak dalam mengembangkan potensinya. Selain itu juga bertujuan untuk menciptakan habit baca di lingkungan keluarga.

Itulah beberapa metode mendidik sesuai fitrah yang bisa Bunda coba. Dengan mendidik anak sesuai fitrah bukan tidak mungkin jika anak jadi lebih mudah untuk diarahkan. Berharap dengan ini semua mampu membentuk generasi cerdas dan unggul dari rumah.

Continue Reading

cerita anak

Cemara Kembar yang Ditebang

By on April 17, 2018

 

“Berhenti!!! Apa yang kalian lakukan?” teriak si Adit ketika melihat sekawanan orang berpakaian lengkap dengan peralatan gergaji yang mencoba mendekati pohon kesayangannya itu.

“Hai, ada apa Nak? Kenapa kamu teriak-teriak?” tanya salah satu orang dari mereka.

“Kalian mau apa? Kenapa kalian membawa peralatan gergaji? Apa kalian mau menebang pohon ini?” tanya Adit.

“Iya, kamu benar Nak.” Sahut meraka.

“ Tak boleh! Kalian tak boleh menebang pohon ini!” jawab Adit garang.

Adit memang sayang pada kedua pohon Cemara ini. Di mata Adit kedua pohon ini mempunyai cerita dan kenangan tersendiri bagi hidupnya. Sejak kecil, ia tumbuh dan besar di bawah naungan pohon Cemara ini.

Iya,  di bawah pohon inilah sang ibu mencari nafkah untuk menghidupinya. Ibu punya warung kecil di bawah pohon yang rindang ini. Kedua pohon ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat sekitar. Dua buah pohon Cemara yang besar dan rindang, meneduhi jalanan Jepara yang terik dan memberi kesejukkan disekitarnya.

Masyarakat sekitar sering menyebut kedua pohon ini dengan sebutan Cemara kembar. Di bawah  kedua pohon Cemara  banyak sekali warung yang menjajakan beranekaragam makanan. Dan tempat ini terkenal sebagai tempat berteduh bagi para pelancong yang ingin beristirahat sejenak dari perjalanan mereka. Sejuk dan banyak warung membuat tempat ini asyik untuk sekadar tempat nongkrong atau istirahat.

Itulah mengapa Adit begitu marah ketika mendengar dan melihat kedua pohon cemara akan ditebang. Dia merasa tak rela, tak ingin kehilangan tempat yang sedemikian sejuknya, tak ingin kehilangan kedua pohon kesayangan yang telah menemani hidupnya sekian lama.

Dari kaca mata Adit, memang benar adanya. Siapa yang rela kehilangan tempat seperti itu. Suatu tempat yang sudah mulai jarang ditemui di Jepara. Yang ada hanyalah bangunan pabrik-pabrik yang mulai bertumbuhan. Sedih rasanya, tempat yang penuh kenangan harus menghilang dan  kehilangan pohon kesayangan.

Namun, melihat dari satu sisi pun akan menimbulkan ketimpangan. Tentu, pemerintah punya alasan tersendiri kenapa harus menebang kedua pohon rindang itu yang tumbuh di pinggir jalanan kota.

Ya, kedua pohon cemara kembar memang besar dan sangat rindang. Memberi kesejukkan di tengah jalanan kota yang panas dan berpolusi. Akan tetapi, pohon ini sudah cukup tua dan berbahaya bagi pengguna jalan disaat musim penghujan tiba. Itulah sebabnya pemerintah mengirimkan beberapa orang untuk menebang pohon Cemara kembar. Alasan inilah yang belum dipahami oleh Adit.

“Nak, kami diminta oleh Bapak pemerintah daerah untuk  menebang pohon ini. Kalau kau sayang, kami juga menyayangkan. Karena pohon ini begitu indah, rindang dan dijadikan banyak orang untuk berteduh.” jawab salah satu Bapak yang mencoba menjelaskan.

“ Pohon ini sudah terlalu tua dan akan berbahaya jika musim penghujan tiba. Karena rawan tumbang dan bisa mencelakakan banyak orang. Kami menebang, kami juga akan menggantikan. Mati satu tumbuh seribu.” lanjut Bapak tadi menjelaskan dan memberi pengertian ke Adit.

Dengan raut muka yang sedih, Adit pun akhirnya mengikhlaskan kedua pohon Cemara kembar kesayangannya itu ditebang. Dipelukkan ibunya, Adit menangis hingga tak kuasa menahan air matanya, ia pun pergi meninggalkan tempat itu.

Beberapa hari kemudian seorang bapak setengah baya menghampiri Adit di rumah. Ia berniat mengajak Adit berjalan-jalan.

“Adit, ikut Bapak jalan-jalan, yuk?” tanya seorang bapak.

Adit pun menoleh dan melongok, “ Lho, Bapak bukankah kemarin yang menebang pohon itu, kan? Mau jalan-jalan kemana? Aku enggak mau.” jawab Adit lemes.

“Ayolah, ikut saja.” Pinta Bapak itu.

Adit pun pergi bersama Bapak penebang pohon tadi. Diajaknya Adit ke tempat pohon Cemara kembar yang telah ditebang. Melihat tempat itu Adit terbelalak dan ketika itu juga raut wajahnya nampak sumringah.

Ya, Adit melihat 4 buah pohon cemara muda yang berdiri kokoh di tempat pohon Cemara kembar ditebang.

“Adit, kamu rawat keempat pohon cemara ini baik-baik, ya.” pinta Bapak itu.

Dengan badan  gemetar senang Adit berkata, “ Ini apa Pak?”

“ Iya, kemarin kan Bapak sudah bilang, mati satu tumbuh seribu. Pohon Cemara kembar yang sudah tua itu diganti dengan pohon Cemara yang muda ini. Anggap saja ini anak dari pohon cemara kembarmu. Generasi penerusnya, kamu rawat dan pelihara dengan baik, ya.” ucap Bapak penebang pohon.

“ Baik Pak, siap laksanakan!” jawab Adit bersemangat.

Kemudian Bapak penebang pohon itu mengajak Adit untuk ikut menanam seribu pohon di kawasan bumi perkemahan Pakis Aji. Dan saat itu Adit merasa sangat senang dan beruntung bisa bertemu dengan Bapak si penebang pohon Cemara kesayangannya itu.

Meski wujudnya telah tiada, Adit merasakan bahwa kenangan bersama pohon Cemara kembarnya tidak akan pernah menghilang. Bersama 4 pohon Cemara kembarnya yang baru ia akan tetap merawat kenangan itu dan menjaga agar Jepara tetap sejuk.

 

Continue Reading

parenting

Selamatkan Anak dari Bahaya Perilaku Menyimpang, Sejak Dini!

By on Februari 17, 2018

 

Kenali ciri-cirinya!

Pakai tanda seru, karena ini memang penting banget. Banyaknya kasus penyimpangan perilaku saat ini, terutama pada anak-anak menimbulkan kekhawatiran tersendiri dikalangan orang tua. Harus ekstra hati-hati dalam menjaga anak, baik sebagai korban penyimpangan perilaku ataupun sebagai pelaku.

Pada dasarnya banyak sekali jenis perilaku menyimpang. Mulai dari pemakaian obat-obat terlarang atau narkoba, pencurian, pembunuhan, sampai dengan tindak kejahatan seksual. Terlebih masalah penyimpangan seksual, di mana anak sering menjadi incaran. Pedofilia, incest, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) merupakan beberapa contoh perilaku peyimpangan seksual yang perlu di waspadai.

Bahaya selalu mengincar, tidak hanya di tempat yang biasa menjadi sasaran perilaku menyimpang, Masjid yang notabene-nya tempat yang aman, tempat beribadah, pun tak luput dari serangan orang-orang yang berperilaku menyimpang.

Beberapa waktu lalu, ada sebuah kejadian seorang anak kecil yang sedang berjamaah di masjid, sempat menjadi incaran pedofil. Anak ini sudah merasa diintai dan ikuti sejak datang ke masjid, ke tempat wudu, dan terakhir  ketika hendak melaksanakan salat. Dan kejadian pun  ketika hendak melaksanakan salat berjamaah. Bagian tubuhnya yang sensitive ada yang meraba. Sontak saja ketika salat sudah selesai, ia bergegas pulang dan menceritakan hal ini kepada ibu dan tantenya.

Untungya anak ini mau melapor dan bercerita kepada ibunya. Jadi orang tua anak tersebut dapat melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Di sini lah perlunya kita sebagai orang tua untuk mawas diri. Butuh kerjasama semua pihak agar kasus-kasus penyimpangan perilaku seksual ini dapat di atasi.

Flashback sebentar, sebenarnya apa sih fedofilia, incest, LGBT itu? Apa faktor penyebabnya, bagaimana cara pencegahan dan lain sebagainya. Tak ada asap kalau enggak ada api. Sama halnya dengan penyimpangan perilaku seksual ini. Tidak akan terjadi jika tidak ada hal atau faktor yang mendorongnya. Trauma masa kecil, penyakit, korban tindak kejahatan seksual, bisa jadi menjadi faktor kenapa seseorang melakukan incest, pedofilia ataupun LGBT.

Incest itu sendiri hubungan sedarah atau perkawinan sedarah. Perkawinan yang terjadi masih dalam lingkup keluarga, entah itu keluarga inti atau sepersusuan. Semisal hubungan perkawinan terlarang antara ayah dan anak kandung perempuannya, kakak dan adik kandung, ibu dengan anak kandung laki-lakinya, sepupu, keponakan atau saudara sepersusuan. Pada dasarnya yang dilarang untuk dinikahi atau mahram.

Kenapa hal ini bisa terjadi dan kenapa agama mengharamkan perkawinan sedarah?

Tentunya banyak faktor kenapa seseorang memilih untuk incest. Dan kenapa agama melarang, tentu banyak kemudharatan yang akan didapat dibanding kebaikan yang akan diterima. Mendapat bibit keturunan yang unggul disinyalir menjadi penyebab kebanyakan keluarga kerajaan di mesir melakukan hubungan sedarah (incest). Selain itu, laki-laki yang lama ditinggal istrinya, entah merantau atau meninggal dunia dan mendapati anak perempuannya bisa menjadikan seseorang itu melakukan incest. Entah faktor suka sama suka atau pemaksaan alias pemerkosaan. Begitu juga sebaliknya, bisa terjadi dengan ibu dan anak laki-lakinya atau kakak beradik.

Dari segi medis dan sosial pun, incest membawa dampak yang luar biasa bagi para pelaku atau korbannya. Terlebih bagi perempuan. Karena dari sisi medis, seorang wanita yang melakukan incest ataupun menjadi korban akan mengalami keputihan, mengompol, nyeri pada organ vital, pendarahan, konstipasi, dan mengalami disuria kronis (sakit saat buang air kecil).

Dilihat dari segi sosial ataupun psikologi, orang yang melakukan incest akan mengalami gangguan tidur, gangguan makan, mimpi buruk, fobia, kurang konsentrasi, menarik diri dari lingkungan, mengalami perilaku seksual sebelum waktunya, dan bisa juga melakukan bunuh diri.

Sedangkan bahaya incest dari sudut pandang biologis adalah anak yang dilahirkan berisiko tinggi lahir cacat, keterbelakangan mental, mengalami kelainan resesif autosomal, kelainan  fisik bawaan, gangguan intelektual parah, dan kematian dini.

Hampir sama dengan incest, pedofilia juga tak kalah mengerikan dalam membawa dampak buruk bagi anak. Berbeda dengan incest, korban pedofilia kebanyakan adalah anak-anak.   Dilansir dari situs kemdikbud.go.id, seorang pedofil memiliki ciri-ciri introvert. Menutup diri dari lingkungan dan suka menyendiri. Seorang yang introvert belum tentu pedofil, tapi pada umumnya pedofil memiliki sifat introvet. Selain itu ia juga memiliki sifat obsesif yang berlebihan. Tidak akan berhenti mengejar target sasaran sebelum tercapai. Dan ciri-ciri yang perlu diwaspadai adalah mereka lebih mampu berinteraksi dengan anak-anak. Bukan  orang asing lagi, karena mereka mempunyai akses berinteraksi yang intens.

 

baca juga: ambil jurusan apa Mak, di universitas kehidupan?

 

Kemudian menurut hasil penelitian, kebanyakan orang pedofil adalah kidal. Pedofil itu sendiri dikatakan sebagai gangguan mental. Kelainan psikoseksual, di mana orang dewasa atau remaja memiliki preferensi seksual terhadap anank-anak pra remaja. Perilaku pedofil terkait pedofilia ini ada yang melakukan kejahatan, ada juga yang menahan diri untuk tidak melakukannya. Dan “Loly” adalah sebutan bagi mereka yang telah menjadi korban pedofil.

Selain incest, pedofil, ada juga LGBT yang mana kepanjangan dari lesbian, gay, biseksual dan transgender. Lesbian adalah wanita penyuka sesama jenis. Gay  sebutan untuk laki-laki penyuka sesama jenis. Biseksual merupakan gangguan mental yang mana menyukai sesama dan lawan jenis. Sedangkan transgender adalah istilah untuk orang yang berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.

Secara umum, ada beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang tersebut diantaranya, ketidaksempurnaan sosialisasi. Artinya ketika seseorang diajarkan norma, aturan, nilai-nilai sosial, tapi media yang merupakan sarana belajarnya tak sejalan dengan apa yang diajarkan. Sebagai contoh, di rumah ayah mengajarkan untuk tidak merokok. Namun, ditempat lain banyak orang yang merokok.

Faktor selanjutnya adalah menganut suatu kebudayaan menyimpang. Mudahnya mendapat informasi sekarang ini, tidak menutup kemungkinan banyak kebudayaan baru yang masuk. Terlepas kebudayaan itu baik atau tidak. Jika tidak mampu berpikir, membentengi diri, maka seseorang akan mudah terseret dalam arus kebudayaan menyimpang.

Selain itu, kesalahan dalam menerima informasi juga dapat menyebabkan seseorang berperilaku menyimpang. Menelan informasi secara mentah-mentah tanpa menelaahnya terlebih dahulu.

Faktor lain adalah ikatan sosial menyimpang. Adanya juga perilaku menyimpang ini merupakan bawaan atau keturunan sebagaimana LGBT. Orang yang merasa berperilaku menyimpang biasanya akan mencari sebuah kelompok yang semisi, membentuk solidaritas di antara mereka. Sehingga terbentuklah suatu ikatan sosial.

Bagaimana pun juga sebagai orang tua kita tetap harus mencegah diri, anak-anak dan keluarga dari perilaku menyimpang. Hal ini bisa dimulai sejak dini. Tanamkan fitrah keimanan anak sejak ia lahir. Ajari anak untuk berkata tidak jika ada orang yang berusaha menyakiti atau menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Ajari pula mana bagian tubuh yang boleh disentuh orang lain mana yang tidak.

Selain itu membangun bonding antara orang tua dan anak juga sangat perlu. Karena bonding inilah yang akan membuat komunikasi antara anak dan orang tua semakin terbuka. Jangan lupa juga sebagai orang tua kita harus belajar bagaimana sih mendidik anak dengan baik sesuai dengan ajaran agama. Di luar sana banyak sekali ilmu-ilmu parenting dan komunitas parenting yang bisa ikuti.

Tulisan ini diikut sertakan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

#PostinganTematik

#BloggerMuslimahIndonesia

Continue Reading

rupa-rupa

Surat Cinta untuk Suami

By on Februari 12, 2018

 

Viral dan ngetrend!!!

Inilah gambaran yang bisa dilukiskan saat ini, di mana kaum muda dimabok asmara akan sosok Dilan dan Milea. Yang tua-an dikit khususnya kaum emak-emak dilanda baper sama sosok bunda Tika dalam “Bunda, Kisah Cinta Dua Kodi” karya Asma Nadia. Di mana kedua film ini sama-sama digandrungi oleh penggemarnya masing-masing dan diputar dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ditambah lagi dalam minggu ini, kalau kita lihat pemberitaan di media hiburan yang sedang gempor dengan adanya kisah pembuktian cinta seorang Viqi Prasetyo kepada angle lelga yang terjun ke laut. Melihat fenomena ini, terkadang membuat kita atau bahkan saya sendiri untuk flashback ke masa lalu. Di mana setiap orang pasti punya cerita cinta dan kisah kasihnya masing-masing.

Sama seperti halnya diri ini yang mempunyai alasan tersendiri untuk mencintai sang suami. Sosoknya yang sederhana, apa adanya, penyabar, dan mampu mengelola emosi dengan baik membuat saya jatuh hati dan memantabkan hati, bahwa beliau mampu menjadi imam yang baik bagi saya dan anak.

Saya memang termasuk pribadi yang susah untuk beromantis, apalagi merayu dengan kata-kata. Yang ada hanyalah to the point mengutarakan isi hati. Tak sama halnya dengan beliau yang selera seninya tinggi, membuat ia mudah sekali untuk merangkai kata-kata indah dan punya sejuta cara untuk menyampaikan maksud hati secara halus. Dari apa yang saya rasakan mungkin tulisan sebagaimana di kertas inilah yang mampu mewakili perasaan dan isi hati.

sumber foto: dok. pribadi

Kami bukanlah pasangan yang sempurna, membawa kelebihan dan kekurangan pada diri masing-masing. Tak ada yang salah dan tak ada yang paling benar, karena sesungguhnya kebenaran hanya milik Allah semata. Berusaha untuk jadi lebih baik, bermanfaat dan memperbaiki kualitas diri dari waktu ke waktu menjadi salah satu visi dan misi keluarga kecil kami. Suami dengan segala potensinya dan begitu juga halnya dengan saya saling mengisi dan melengkapi kekurangan dengan kelebihan yang dimiliki. Setidaknya dengan begini, tak ada kesombongan yang muncul, karena kami saling membutuhkan.

Melangkah bersama dan saling membersamai di saat senang ataupun susah itu merupakan bentuk cinta tersendiri bagi kami. Tak usah muluk-muluk atau yang membuat sensani, tapi sesungguhnya kebersamaan dan  keberadaan dalam setiap aktivitas merupakan bentuk kesetiaan buat saya dan pasangan.

Tak jarang pula, kami sudah bahagia dengan pijatan kecil yang dapat kami rasakan secara bergantian untuk melepas rasa lelah dan pegal dalam tubuh ini. Suatu ketika saya pernah bertanya seacara iseng, “ Apa yang membuatmu bahagia?” dan dipijat setelah pulang bekerja menjadi jawabannya. Makjelb rasanya. Hal yang selama ini sering saya minta padanya namun, saya sendiri jarang melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Memang sedikit pijatan pada tubuh mampu untuk merilekskan diri.

surat cinta dari suami

Lebih dari itu, mengarungi bahtera rumah tangga bukanlah perkara mudah untuk menjaga keutuhan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Menyatukan dua kepala saja sudah susah, apalagi menyatukan dua keluarga dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda. Perlu kelapangan hati dari kedua belah pihak agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Inilah pentingnya mengetahui potensi dan kelemahan diri untuk membentuk keluarga solid. Kemampuan mengelola emosi yang bagus dari suami membuat beliau mampu untuk menarik ulur saya yang ambisius dalam mencapai segala keinginan. Begitu juga dengan halnya dengan saya. Saya yang menyukai target, cepat mengambil tindakan berharap mampu memotivasi suami untuk lebih giat lagi.

Satu hal yang mana saya harus belajar banyak dari sosok beliau adalah tentang penerimaan diri dan keikhlasan hati. Belajar bagaimana suami dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan keluarga saya, tapi tidak dengan saya yang masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan keluarganya. Satu nasihat yang selalu saya ingat, di mana pun kita berada dan selama kita masih hidup pasti akan menemui masalah dan beberapa orang yang tak menyukai diri kita.

 Mencoba mengikhlaskan segala sesuatu yang telah terjadi, mencoba untuk menerima kenyataan akan lebih baik dan harusnya mampu mendorong kita untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Semoga suami bisa menuntun dan menjadi panutan kamin dalam mencapai JannahNya. Aamiin….

Tuhan menciptakan manusia tentu mempunyai tujuan masing-masing. Setiap individu membawa misi khusus atau spesifik dalam kehidupannya. Tugas kita sebagai individu, terutama saya adalah menemukan misi spesifik itu dengan menggali potensi diri, anak, dan lingkungan agar lebih bermanfaat bagi sesama.

Jikalau ditanya apa sih potensi diri ini? Mungkin saya akan gamang menjawabnya. Secara latar belakang pendidikan saya adalah tarbiyah namun, passion saya dibidang bisnis, akuntansi, pendidikan anak, blogging, dan dunia literasi. Tanpa menanggalkan latar belakang pendidikan, saya sangat menyukai semua dunia keenam bidang di atas dan semuanya pernah saya lakukan. Bagi saya keenam bidang di atas saling mendukung dan dapat berjalan beriringan. Berharap dengan menulis, ngeblogging bisa ikut berdakwah mensyiarkan agama dan membaentuk karakter untuk anak hebat sejak dini. Kenapa?

Karena mendidik, terutama akhlak atau karakter bukanlah hal yang mudah, tak semudah membalik telapak tangan. Mengenal potensi anak sangat berpengaruh dalam pola pendidikan untuk anak. Yumna, anak semata wayang saya yang berusia 3 tahun pun tak luput dari perhatian untuk mengenali dan menggali lebih jauh potensi yang ada dalam dirinya. Selama ini anak baru menunjukkan ketertarikan pada dunia menyanyi, sama dengan anak-anak lain pada umumnya. Saya dan suami berusaha untuk menggali lebih potensi anak dengan mengajaknya bermain beraneka ragam permainan. Tak lupa juga menerapkan home education untuk memantau perkembangan anak. Karena sesungguhnya kami lah tempat dan guru pertama dan utama bagi anak. Bukan sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.

So, peran dan potensi lingkungan sekitar rumah juga mendukung keberhasilan suatu proses pendidikan. Melihat potensi lingkungan sekitar terkadang ingin membuat saya belajar banyak tentang pengelolaan sampah, kedisiplinan, kepedulian lingkungan. Contoh kecil saja, karena saya masih tinggal serumah dengan mama, terkadang perbedaan pengasuhan sering terjadi. Mana kala kebiasaan-kebiasaan buruk muncul dan kesalahan pola asuh di masa lalu, membuat saya semakin tertantang untuk memutus lingkaran dan kebiasaan buruk tersebut.

Kelihatannya mungkin hal sepele namun, menanamkan kebiasaan baik, disiplin, tepat waktu, peduli sesama, kemandirian dan peduli lingkungan sejak dini sangat lah penting. Kita tak pernah tahu batas usia sampai kapan. Hanya berharap dengan kemandirian dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, anak tak merasa kesulitan menjalani kehidupan mana kala saya tinggal atau berpulang.

Continue Reading

rupa-rupa

Ambil Jurusan Apa di Universitas Kehidupan, Mak?

By on Januari 27, 2018

 

“Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemualiaan hidup, maka carilah dengan jalan yang mulia”

 

Tarbiyah, itulah jawaban yang langsung terlontar dari mulut saya, ketika membaca judul di atas dengan sekilas. Tersedak, layaknya minum air ketika mendengar “Universitas kehidupan.”

“Apa tadi, universitas kehidupan? Kira’in ambil jurusan waktu kuliah?”

Hampir seperti itulah pikiran saya, saat membaca judul di atas dan berbalik mengulanginya dengan seksama. Iya, benar saja, universitas kehidupan. Bukan universitas tempat saya kuliah dulu.

Ya, kalau ditanya seperti itu, “Ambil jurusan apa di universitas kehidupan?” atau lebih tepatnya ilmu apa yang ingin dipelajari dalam hidup, tentu jawabannya banyak. Ingin belajar ini itu untuk melayakkan diri jauh lebih baik lagi. Namun, untuk tahun ini ilmu yang paling saya butuhkan adalah internet marketing. Kalau di tahun 2017 kemarin, saya lebih fokus untuk belajar nulis, tahun ini resolusinya adalah go online.

Baca juga : resolusi 2018: Make A Time To Make A Solid Family

Kenapa oh kenapa? Hihihihi…

Tentu ada alasan tersendiri yang melatarbelakangi, kenapa saya memilih ilmu satu ini. Selain faktor keluarga, bisnis juga memegang peranan penting. Sebelumnya, flashback terlebih dahulu.

 

Saya mengenal ilmu internet marketing ini sejak lulus SMA dan saat itu pula, langsung jatuh hati dan “srek” banget. Ibarat kata, cinta pada pandangan pertama. Kenapa ya kok bisa gini … mungkin ini ada kaitannya dengan hobi. Saya termasuk orang yang suka dengan ilmu komputer, suka otak-atik, dan waktu sekolah pun nilai yang paling tinggi, ya di bidang ini. Tanya kenapa? Saya juga tidak tahu kenapa. Suka aja, kan kalau cinta enggak pakai syarat. Mencintaimu apa adanya. Cieealaaaah….

Kembali lagi ya, faktor keluarga menjadi alasan utama saya untuk memulai kembali belajar ilmu internet marketing, setelah vakum beberapa tahun ini. Ingin bekerja dari rumah, produktif di rumah, ingin belajar jadi ibu dan istri yang baik, serta ingin menemani anak dalam tumbuh kembangnya. Dengan belajar marketing online, saya bisa melakukan pekerjaan dan bekerja tanpa harus meninggalkan anak dan rumah.

Alasan kedua karena hobi. Internet marketing bagi saya, merupakan satu kesatuan utuh dengan dunia kepenulisan atau literasi. Yang mana sangat mendukung kegiatan saya di event kepenulisan. “Penulis harus bisa berbisnis dan pebisnis pun harus bisa menulis.” Itulah quote yang paling saya suka dan bisa membangkitkan semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang, siap mengosongkan gelas untuk belajar lebih baik lagi.

Alasan ketiga adalah sejak 2 tahun terakhir ini memutuskan untuk berbisnis online. Mau tidak mau ilmu ini penting banget buat saya untuk didalami. Berbisnis online menjadi pilihan terakhir setelah memutuskan resign dari pekerjaan di ranah publik dan benar-benar fokus to be full time mom. Sedangkan menulis, saya jadikan sebagai wadah untuk berkarya dan sarana pengaktualisasikan diri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ber-networking, berkomunitas, mempunyai andil yang sangat besar bagi perkembangan bisnis dan dunia literasi yang saya tekuni. Meski sekarang di rumah, tapi tidak menghalangi saya untuk ber-networking  ria. Kemajuan teknologi memudahkan segala hal tanpa terbatas ruang dan waktu. Tentunya hal ini harus dalam ranah positif.

Dan ini merupakan salah satu cara atau strategi saya untuk menuntut ilmu. Tak jarang pula, di komunitas itu ada sharing-sharing gratis dan terkadang ilmu yang dibagikan itu daging dan renyah banget. Meskipun tak dipungkiri mengikuti kelas satu ke kelas lainnya, juga saya lakukan untuk melayakkan diri.

“Kalau ingin sukses, jangan bermental gratisan.”

Membaca kalimat di atas benar-benar menohok saya dan memang benar adanya. Sebelum menuntut ilmu, kita harus mengetahui adab terlebih dahulu. Etika, tutur kata, dan tingkah laku. Ini semua dilakukan tak lain untuk mendapatkan keberkahan itu sendiri.

Bagi saya mengubah mental dan pola pikir gratisan itu perlu. Sebagaimana kita menghargai seseorang yang berilmu. Kita ganti waktu mereka yang telah bersedia meluangkan waktu dan berbagi ilmu, serta pelajaran berharga yang bisa diambil hikmahnya. Lebih tepatnya saya suka menyebut hal ini sebagai investasi leher ke atas. Yang dimaksud investasi leher ke atas ini bukan kalung, giwang, make up, jilbab, dan lain sebagainya ya bun.

Itulah mengapa bagi saya, kekayaan itu tak sebatas uang, harta atau emas yang kita miliki. Namun, lebih kepada otak kita sebagai sarana untuk berpikir, berkreativitas, dan tak lupa sebagai wujud syukur terhadap Allah Swt yang telah menganugerahi otak yang super canggih. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkannya dengan baik atau tidak. Dengan seperti ini semoga menambah rasa iman dan syukur, serta melapangkan hati yang kita miliki. Aamin….

Catatan:

Tulisan ini diikut sertakan dalam pengerjaan tugas nhw matrikulasi batch 5 SJS “Adab mencari ilmu.”

Continue Reading

review

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Pasukan Blogger

By on Januari 16, 2018

 

Menjadi seorang blogger adalah keinginan saya sejak tertarik di dunia tulis menulis dan web. Tidak tahu kenapa, tapi menurut saya jadi blogger itu keren. Selain dituntut bisa menulis, seorang blogger juga harus suka baca. Kalau enggak baca, bagaimana bisa nulis? Intinya, berwawasan luas.

Dan akhir-akhir ini saya juga tertarik untuk belajar vlog. Akan jauh lebih menarik jika dalam menyajikan sebuah konten, seorang blogger juga memakai vlog. Tentu, hal ini merupakan bagian dari SEO yang penting untuk meningkatkan traffiq blog.  Penyajian konten yang menarik dan informasi yang bermanfaat akan membuat pembaca betah berlama-lama di halaman blog kita. secara tidak langsung, hal ini akan berpengaruh pada rangking blog di mata search engine.

Blog yang ramai pun membawa berkah tersendiri bagi pemiliknya. Pundi-pundi uang bisa mengalir dengan sendirinya. Hayoo … siapa yang tak ingin seperti itu? Itulah mengapa,  traffiq begitu penting bagi kelangsungan sebuah blog. Nah, salah satu cara yang sering dilakukan para blogger adalah melakukan blogwalking untuk mendatangkan traffiq. Dan baru-baru ini  dibentuklah sebuah wadah di mana para blogger bisa belajar dan melakukan blogwalking.

 

Bagi sebagian blogger yang tergabung dalam lingkaran joaeragan artikel (JA ) sudah tidak asing lagi dengan pasukan blogger. Namun, tidak dengan yang lain, yang belum mengenalnya.  Pasukan blogger itu sendiri dibentuk dalam sebuah grup, yang mana kita diwajibkan untuk share atau posting 2 kali dalam seminggu. Selain itu, setiap minggu terdapat challenge yang tentunya akan menambah semangat para blogger untuk menulis. Hal ini  tak lain bertujuan  untuk melatih konsistensi dalam menulis dan ngeblog.

Selain sebagai wadah untuk melatih kebiasaan menulis dan ngeblogging, pasukan blogger pun diwajibkan untuk blogwalking ke semua anggota. Bagi seorang blogger tentu sudah tahu kan, manfaat blogwalking untuk blog.

baca juga: strategi baru dalam pengembangan bisnis tulisan

Pasukan blogger sendiri digawangi  oleh mbak dira indira yang mana, tongkat estafet sebelumnya  dipegang oleh mbak rahayu asda putri. Menjadi seorang blogger tentu memiliki kenikmatan tersendiri. Belajar, menambah ilmu, berkomunitas, dan saling menjaga silaturrahim salah satunya.

Sebagaimana saya jelaskan di atas, kenapa sih harus berkomunitas? Salah satunya, ya menambah ilmu. Itulah alasan, mengapa Anda harus ikut menjadi pasukan blogger. Yang jelas cocok banget untuk blogger pemula. Mbak dira sendiri sering bagi-bagi tips seputar  dunia perbloggingan. Jadi nambah ilmu kan, kakak.

Oh iya, satu hal yang saya suka dari pasukan blogger ini adalah belajar mereview produk. Di sini saya bisa belajar dari blogger-blogger lain, bagaimana cara mereka dalam mereview sebuah produk. Mulai dari sudut pandang yang diambil, pilihan diksi, gaya penulisan, dan lain sebagainya.  Asyiknya lagi bisa dijadikan barometer untuk mengukur kemampuan kita dalam mereview sebuah produk. Pasalnya kelihatan banget, mana blogger yang sudah mahir mereview dengan yang masih belajar.

Dengan adanya kontes mereview produk ini, saya belajar banyak hal tentang mereview produk secara tidak langsung. Bagi Anda yang hobi ngeblog, bisa neh ikutan gabung. Khususnya untuk kalangan perempuan ya. hehehe

Sama dengan komunitas lainnya, pasukan blogger juga mempunyai code of conduct atau etika yang mengatur dalam sebuah komunitas.  Semisal, saling BW ke blog lain, anggotanya perempuan, posting minimal 2 kali seminggu, dan lain-lain. Untuk tata cara bergabung bisa menghubungi mbak dira selaku penanggung jawab.

Bisa bersinergi sesama blogger akan menambah ilmu, wawasan, dan menjalin tali silaturrahim. So, jangan sungkan ya untuk ikutan bergabung dan menimba ilmu dari satu blogger ke blogger lainnya untuk meningkatkan kapasitas diri.

Continue Reading

error: Content is protected !!